Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 121


__ADS_3

"Berfoto dulu kak , bang!". ucap fotografer saat Aldi dan Dini selesai salaman dengan kedua penganten.


Aldi berdiri di samping suami sandra, dan Dini berada di samping sandra. mereka sama-sama mengendong si kembar.


"Abangnya ganti berdirinya. Abang dekat penganti wanita, dan kakak dekat penganten laki-laki". ucap fotografer.


"Seperti ini saja". ucap Aldi.


Sandra sedikit terkejut mendengar jawaban aldi. Dia masi penasaran dengan suaminya dini.


"Oh.. ok". jawab sang fotografer.


Beberapa kali mereka berfoto.


"Ayo.. semua keluarga ikut foto bersama!!". ucap kakek memanggil anak, menantu, cucu, dan kerabat.


Kakek nenek dan kerabat pun naik ke pentas pelaminan. tidak lupa ayah dan ibu dini. juga Ilham dan putri serta sepupu yang lainnya. Semua ikut melakukan foto bersama.


Semua turun dari pelaminan, begitupun Dini..dia turun agak terakhir, karena menanti yang tertua duluan turun.


"Dini...". tiba-tiba sandra memanggil dini.


Dini melihat kearah sandra.


"Kesini sebentar!". ucap sandra mengangkat tangannya memangil dini.


Dini melihat kearah suaminya. dan aldi mengangguk sambil membimbing Dini mendekati sandra.


"Iya kak. Ada apa?!". tanya dini was- was.


Takut sandra akan berbuat sesuatu padanya, yang masi mengendong Adek ihsan.


"Maaf ya. aku selama ini khilaf. sudah menganggu kamu, dan membuat kamu tidak nyaman". ucap sandra mengulurkan tangannya.


Dini melihat sandra lekat.


"Maaf!". ucap sandra lagi.


Aldi memegang lengan dini yang sedang terkejut, mendengar sandra minta maaf.


"Ah iya... kak". ucap Dini terkejut.


"Aku minta maaf pada mu Din. juga pada suamimu. maukan kalian memaafkan aku?!". ucap Sandra.


"Aku sudah memaafkan kak sandra , aku juga ingin minta maaf". ucap dini.


"Sama-sama din, aku senang melihat kamu bahagia. Anak kamu juga lucu-lucu. Aku sekarang juga sedang telat din, do'a kan aku juga punya anak kembar ya". ucap sandra.


"Aamiin.. semoga". jawab Dini dan Aldi.


Mereka berbincang sebentar, melepas unek-unek. dan saling minta maaf dan juga saling memaafkan.


Hingga waktu dini dan aldi turun dari pentas pelaminan, semua menarik nafas lega.


Awalnya mereka was-was, saat sandra memanggil dini. Takut, sandra akan buat ulah lagi. ternyata sandra minta maaf pada dini dan suaminya.


Mungkin sandra sudah insyaf, tahu kesalahan yang dia petbuat selama ini. Mudah-mudahan Sandra akan aku dengan Dini. tidak hanya kepada dini saja, tapi juga kepada sepupu yang lainnya.


Semoga... do'a mereka.


Terutama kakek dan nenek dini. sangat senang cucunya akur dan hidup damai. Alhamdulillah...

__ADS_1


TAMAT


.


Sandra Pov


Entah kenapa, melihat suaminya dini terluka. aku yang panik, dan selalu terbawa mimpi. Hingga aku merasa berdosa melihat kepalanya penuh darah dan pingsan.


Aku yang mendengar jeritan dini ketika suaminya terluka, selalu terngiang-ngiang sebelum aku tidur.


Makanya saat aku kenal dengan bang wandi, aku sangat senang. apalagi dia suka menemani aku saat aku sedang kacau dan sering melamun. bahkan menangis.


Mungkin bang wandi pernah atau sering mendengarku menangis malam-malam. Maka bang wandi datang saat itu.


Bang wandi yang waktu itu mengetok pintu kamarku, padahal sudah tengah malam. Aku tidak tahu dia dari mana.


"Boleh aku masuk?!". tanya dia tanpa basa basi.


"Apa boleh laki-laki masuk kamar perempuan?. apa tidak akan dirgebek warga kosan? ". ucapku.


Aku yang sudah hampir dua minggu kos disana tidak tahu. karena aku jarang keluar. keluar pun hanya membeli makanan.


"Tidak apa- apa, disini bebas, mau nginap pun tidak akan ada yang peduli". ucapnya masuk saja kekamarku. "Tutup dan kunci pintunya". ucapnya lagi.


Aku mengikuti ucapannya.


"Aku dengar kamu sering menangis tiap malam". ucapnya sambil rebahan di kasurku. "Namaku wandi, pangil bang wandi saja". tambahnya.


Gila, pikirku. belum kenal dan menyelonong saja masuk kamarku, sudah main tidur saja di kasurku.


"Kenapa kamu kepo, kalau aku menangis tiap malam. lagian kamu tinggal dimana? kok kamu bisa mendengar aku menangis!?". ucapku.


Aku hanya diam melihatnya yang tiduran nyaman di kasur kecilku.


"Kamu baru ya tinggal di sini? dan kerja dimana?!".


"Aku baru tinggal disini, hampir dua minggu. kalau pekerjaan aku belum bekerja".


"Apa kamu mau bekerja, tapi di pabrik triplek".


"Mau, apa syarat-syarat yang akan aku bawa". tanya ku bersemangat.


" Apa kamu ada ijazah".


"Ada. ijazah sarjana!".


"Tapi kamu jadi karyawan bagian produksi dulu. karena itu yang dibutuhkan".


"Boleh. kapan bisa melamar kerja?".


"Besok aku bawa. tapi ada syarat lainnya".


"Apa?".


"Aku ingin kamu menjadi teman tidurku, bila aku sedang menginginkannya".


"Apa?!". kagetku.


"Iya, menjadi pelepas nafsuku. Aku orangnya bernafsu tinggi. tiap malam aku sering mengunjugi kamar perempuan di sini, untuk menyalurkan hasratku dan mereka yang butuh kehangatan". jujurnya.


"Apa istri kamu tidak marah?!".

__ADS_1


"Istriku pergi, dan aku sudah pisah dengannya. Jika kamu mau jadi teman tidurku. aku tidak akan pergi lagi ke kamar perempuan berbeda tiap malam". ucapnya.


Aku yang juga butuh pekerjaan dan butuh kehangatan menerima saja tawarannya. Apalagi wajahnya termasuk ganteng dan bertubuh kekar. Pasti nyaman dan hot. pikirku.


"baik. aku mau, asal bisa bekerja". ucapku. aku ingin bekerja untuk menambah belanja. uangku pasti akan menipis jika lama tidak ada pemasukan


"Tapi untuk kamu ketahui, aku sudah pernah melahirkan. dan anakku sudah hampir emoat tahun umurnya". ucapku jujur.


"Kamu sudah pernah menikah?!". tanya bang wandi kaget.


Aku memgeleng.


"Aku dan teman alumni kuliahku sering kumpul. sering mengadakan pesta berganti pasangan setiap menginap di rumah teman. hingga aku hamil. dan mereka tidak ada yang mau tanggung jawab". jujurku.


"Tidak masalah, aku juga sering main dengan banyak wanita. tapi jika kamu mau menjadi satu- satunya tempat aku menyalurkan hasratku, aku akan terima". ucapnya, setelah berapa menit terdiam.


Maka, malam itu kami sama-sama melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya. dan ternyata dia sebelum masuk kekamarku, juga baru mengunjungi perempuan lain di kosan ini. untuk menyalurka hasratnya.


Dan benar, pagi itu dia keluar kamarku setelah mandi wajib di pagi hari. dia membawa berkas ku untuk melamar pekerjaan. sorenya saat dia pulang bekerja mengatakan, aku bisa langsung bekerja besoknya.


Aku senang, sudah mendapat pekerjaan. walau hanya menjadi karyawan pabrik triplek bagian produksi.


Mulai malam itu aku melayani bang wandi di tempat tidur. melayani nafsunya yang katanya berlibido tinggi.


Benar saja. sudah hampir dua bulan aku bekerja, setiap malam dia mendatangi kamar kosanku. untuk hanya sekedar menyalurkan hasratnya.


Bahkan aku sudah seperti istrinya, di beri uang belanja mingguan. membawa makanan jika pulang bekerja. bahkan juga di beri kalung dan cincin emas.


Tidak jarang juga bang wandi menginap di kosan ku. jika bang wandi mainnya lama atau kelelahan saat berbagi peluh dan berbagi kehangatan ranjang


Aku yang selama dua bulan sibuk dan menikmati melayani bang wandi di atas kasur, menjadi lupa dengan Dini dan suaminya.


Hingga tanpa ku duga, ayahku datang. dan menikahkanku malam itu juga. Bang wandi yang mungkin juga sudah nyaman dengan layananku. juga mungkin sudah menganggabku istri, tidak menolak untuk menikahiku.


Dua hari setelah menikahkanku. Ayah membelikan kami sebuah rumah kecil di perkampungan dekat pabrik kami bekerja. sebagai hadiah pernikahan.


Dan dua bulan setelah menikah, ayah dan ibu menyuruh kami mangadakan pesta di rumah.


Dan saat pesta pernikahan itu, aku minta maaf pada dini, juga pada suaminya. Aku melihat mereka sangat mesra. Walau ada perasaan kesal melihat kemesraan mereka.


Tapi itu juga sama sepertiku, yang semenjak dinikahkan ayah malam itu. Bang wandi sangat memanjakanku, bahkan aku dilarangnya untuk bekerja.


Cukup melayaninya lahir bathin. dan seperti ucapan bang wandi, Aku akan melayani kapanpun bang wandi ingin menyalurkan hasratnya.


Hingga menjelang pesta pernikahan yang akan di adakan ayah dan ibu. Aku merasa haidku telat datang.


Bang wandi semangat membelikan testpack untukku, tidak hanya satu. tapi lima.


Malah dia yang langsung melakukan tes pada urinku. dan hasil dari kelima testpack itu bergaris dua.


Yang tandanya aku hamil. Bang wandi sangat senang. bahkan semakin memanjakanku.


Bang wandi yang pertama kali kerumah orang tuaku, bertemu dengan anakku. dia juga mau menerima anakku yang tidak tahu siapa ayah biologisnya.


Sandra pov End.


END....


.


.

__ADS_1


__ADS_2