
"Enak sekali si Dini itu sekarang, memangnya apa sih pekerjaan suaminya bu?!". tanya Sandra pada ibunya siang itu saat mereka duduk di warung mereka.
"Ibu kurang tahu San, apa pekerjaan suaminya. yang ibu dengar sekarang dia ikut suaminya ke provinsi sebelah. Dan pulang sekali sebulan". jawab mak Sam sambil menyuapi cucunya, cucunya hanya dekat dengannya, karena hanya berdua saja tiga bulan terakhir ini.
Sandra sudah seminggu keluar rutan, dia lebih sering berada dirumah saat ini. Sandra tidak peduli pada anaknya, dia bahkan jarang menyapa anaknya. Anaknya pun tidak begitu tahu dengannya,. Mungkin anaknya lupa debgan ibunya, karena sudah tiga bulan tidak bertemu.
Mak sam pun tidak mengenalkan cucunya dengan ibunya, bahkan tidak pernah menyuruh sandra mengendong anaknya. Seperti menyuruh menjaga jarak saja.
"Bu, aku juga ingin menikah, tidak mungkin kan aku sudah punya anak, tapi belum punya status. dalam ktp masih gadis. bagaimana nanti dengan surat anakku". ucap sandra, yang masih memikirkan status anaknya.
Walaupun dia tidak dekat tapi dia masih ada rasa kasihan dan peduli pada anaknya, atau sedikit rasa kasihan, karena anaknya perempuan.
Bahkan Sandra sering meperhatikan anaknya yang sedang bermain. Anaknya sangat pengertian pada neneknya, jika ada orang yang belanja dia akan diam saja main di belakang etalase, yang di buat lapang oleh mak sam. Etalase dibuat terkurung agar cucunya tidak bisa keluar tanpa pengawasan.
Sandra hanya melihat dari jauh anaknya tidak berani mendekat. Karena setiap mendekat anaknya kekuhatan kurang nyaman, bahkan menangis.
Malamnya sandra mengobrol dengan ibunya sambil menonton televisi. Dia masih iri dengan keberuntungan Dini.
"Bu... cari tahu siapa yang mau menikah denganku dong bu, buat status saja dulu. Kalau bisa yang kaya. Biar bisa menandingi si Dini itu. Dia enak-enakan, aku masih susah". ucap Sandra pada ibunya.
"Ibu mana ada kenalan yang kaya San, paling teman ayah yang sopir bawa ikan dari keramba ke pasar". Ucap mak Sam ibunya sandra.
Dia mengayun-ayunkan buayan cucunya sambil menonton televisi. Apalagi semenjak suaminya di penjara, dia hanya mendapat persenan dari keramba yang di kelola dama daudara tiri suaminya.
Memang banyak dapatnya, karena keramba milik suaminya juga banyak. Sehingga tiap minggu ada beberapa keramba yang panen. Sehingga keuangannya tidak beroengaruh.
"Aku juga ingin menikah dan merantau, jadi tidak akan di gunjing tetangga nantinya tentang aku yang sudah punya anak". ucap Sandra.
"Nanti kalau ayah pulang, akan kita cari kenalan ayah yang kaya, Biar kamu senang. Dan kita tidak akan diremehkan keluarga paman mu itu.
Ibu juga sakit hati, kenapa Dini selalu beruntung. Padahal dia itu tidak berpendidikan tinggi. Eh.. selalu ada saja yang membelanya.
Bahkan, ada yang mengantikan rizal menikahinya". Gerutu mak sam.
"Aku akan cari tahu, siapa suaminya dini itu, kenapa dia mau saja menjadi pengantin penganti. Pasti dia di paksa menikahi dini". Ucap sandra.
"Entahlah, kamu jangan menganggu dia lagi, kakek dan nenek serta om umar tidak akan membiarkannya. Ibu dan ayah akan carikan suami untukmu". jawab mak sam.
__ADS_1
"Iya. aku akan mencari yang lebih dari suaminya dini itu". tekad sandra.
...
Dini dan Aldi menjalani masa pengantin baru mereka dengan bahagia. Bahkan mereka seperti tidak terpisahkan, kemanapun selalu berdua. Mereka menikmati waktu berdua seperti pacaran, tapi pacaran halal.
Sering Aldi mengajak Dini ke proyek, hanya untuk sekedar pergi jalan dan bekerja. Apalagi sekarang proyek rumah sakit ini sudah jalan lima bulan. rangka bangunan sudah berdiri, dan pembangunan tahap satu tinggal sebulan lagi. Dan Alhamdulillah, Dini sedang hamil dua bulan.
Aldi semakin memanjakan istrinya, selalu membawa kemanapun dia pergi. Dia tidak pernah meninggalkan istrinya sendiri di apartemen. Takut, istrinya akan bosan dan dini juga sedang mual, karena hamil muda.
Untung apartemennya dengan tempat kerjanya dekat, sepuluh menit mengunakan mobil, jadi jika Dini ingin pulang, dekat untuk mengantarkannya.
Dini sangat manja pada suaminya, dan Aldipun tidak keberatan dengan sifat dini ini. Bahkan Aldi tidak malu-malu memperlakukan istrinya dengan manis di depan anak buahnya.
Akhir pekan ini mereka pulang ke tempat orang tuanya, bulan kemaren mereka tidak pulang. Karena Dini sedang tidak enak badan. Masih hamil satu bulan, jadi tidak bisa kemana-mana. Hingga mami, papi Aldi dan ibu Dini saja yang datang ke tempat mereka tinggal.
Bulan ini pun sebenarnya Aldi juga tidak mau pulang, karena dini masih mual dan sering lemas. Tapi Dini katanya kangen untuk pulang.
"Kamu tidak apa-apa?. jauh lo perjalanannya. tujuh jam". Tanya Aldi pada istrinya saat mereka akan berangkat.
Mereka berangkat pukul tujuh pagi. Agar Dini menikmati perjalanannya. Biasanya waktu sebelum dini hamil, mereka betangkat sore, dan sampai menjelang tengah malam.
"Ok, Bismilah. Nanti kalau ingin tidur pindah saja ke belakang". ucap Aldi.
Dia sudah menjadikan jok tengah tempat tidur yang nyaman. Memasang kasur busa, agar Dini bisa tiduran jika dia capek dan bosan saat di perjalanan. Dan menyediakan banyak cemilan untuk Dini.
"Baik bang". jawab Dini tersenyum.
Mereka menikmati perjalanan dengan nyaman. Aldi tidak ngebut membawa mobilnya, bisa di bilang santai saja. Hingga membuat dini tidak bosan.
Perjalanan yang biasa tujuh jam, mereka nikmati saja hingga sepuluh jam. Karena beberapa kali dini minta berhenti, di tempat yang bagus hanya sekedar minta difotokan. Karena di sepanjang jalan lintas provinsi banyak tempat wisata viral. Ada danau, air terjun dan cafe-cafe kekinian.
Aldi menuruti semua keinginan istrinya. yang penting bumil senang dan nyaman selama perjalanan.
Mereka sampai di rumah mami pukul lima sore, dan di sambut hangat oleh mami. Karena kedatangan mereka yang di tunggu oleh mami dan papi.
Bahkan mami membuat makanan yang banyak untuk menyambut bumil.
__ADS_1
"Senang kamu pulang kesini Din, mami kangen. bagaimana perjalanannya, tidak membuat kamu capek kan?". Ucap mami memeluk menantunya itu dan mengelus perut dini yang masih datar.
"Alhamdulillah mi, abang bawa mobilnya santai. dan banyak berhenti". jawab Dini.
"Syukurlah. kamu istirahatlah sebentar, baru bersih-bersih. Nanti kita makan malam bersama ya". ucap mami.
"Baik mi". ucap Dini.
Dia menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Sepuluh jam perjalanan membuat pinggangnya sakit. Tapi dia sangat senang, karena sampai di kota ini.
"Sayang.Kamu tidak langsung mandi?!". tanya Aldi yang baru masuk kekamar dan melihat istrinya yang tiduran.
"Abang dulu yang mandi, aku meluruskan pinggang dulu". ucap dini sambil menyamankan tidurnya.
"Tidak baik bumil tiduran menjelang magrib, ayo abang bantu mandiin kamu". Ucap Aldi membopong dini ke kamar mandi. dan mendudukannya di kloset, dan memberikan kain basahan untuk dini pakai mandi.
Aldi memang sering membatu istrinya untuk mandi, apalagi semenjak hamil, dini malas untuk mandi. Hingga Aldi sering bantu memandikan Dini. Hanya mandi ya.
Dini membuka bajunya palaiannya semua, dan memakai kain basahan untuk mandi.
Aldi mengisi air hangat di bathtub, lalu membopong dini dan meletakan di bathtub. Dia membantu memberikan sampo di rambut dini, sementara dini menyabuni tubuhnya, dan mengosok dengan spon lembut.
Selesai Makan malam Aldi dan Dini minta izin pada mami dan papi untuk menginap di tempat orang tua dini.
Mereka berangkat kerumah orang tua dini, dan akan mampir di toko kue dan toko buah-buahan terlebih dahulu. Untuk buah tangan tanda baru datang. Tadi di perjalanan mereka juga ada membeli buah nenas. Buah khas provinsi tetangga.
"Ooo.. ini suami penganti si Dini!!".
.
.
.
.
like dan koment ya temans ottor.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ya tamansยฒ ๐๐