
Saat memasuki kamar bang Aldi terdengar mengunci pintu kamar, aku melihat kearah nya.
" Apa...." tanya bang aldi.
" Ah tidak apa- apa, cuma mau lihat saja ". ucapku berlalu mengambil baju untuk tidur dan menuju kamar mandi.
Sebelum mamasuki kamar mandi tiba- tiba bang Aldi mrmanggil.
" Dini, bajuku di lemari bagian mana?! takut salah buka lemari ". ucapnya sambil duduk di kursi meja rias.
Aku kembali ke depan lemari , dan membuka pintu tengah.
" Baju abang sebelah sini, ini yang di gantung, ini yang di lipat dan ini dalaman di laci paling bawah ". terangku.
" Ambilin baju untuk tidur sekalian ". ucapnya santai.
Aku mengambilkan stelan piyama celana panjang dan baju lengan panjang. sepertinya masih baru, aku mengambil gunting di laci meja rias dan mengunting label baju baru itu. Lalu memberikan kepada bang Aldi.
" Kok piamanya lengan panjang Din?!". tanya bang Aldi.
" Tidak apa- apa, disini kalau malam dingin ". jaeabku asal.
" Ah masa sih?!". tanya bang Aldi.
" Iya, coba saja nanti ". ucapku sambil berlalu ke kamar mandi. Aku menukar baju ku dengan baju tidur piyama panjang juga, tidak lupa jelbab instanku.
Aku keluar kamar mandi dan menuju tempat tidur, untuk tidur. Kami tadi sudah sholat isya berjamaah bersama tadi di luar.
" Dini, kamu pindah tidur sana ". ucap bang Aldi.
" Hah ". kagetku. Aku diusir?!.
" Kamu geser tidurnya kesebelah sana, aku mau sebelah sini ". jelasnya.
Oooo..
Aku bergeser ke sebelah kanan, dan menarik selimut, bang Aldi juga tidur disebelahku. Kami saling diam, tanpa bicara, tapi sama sama melihat langit- langit kamar. lama kami saling diam, aku sebenarnya canggung untuk tidur bersama, tapi tidak mungkin aku pindah tidur, apa kata bang aldi nanti.
" Bang ..."
" Dini...."
Kami bersamaan saling memanggil.
" Kamu duluan bicaranya, katanya memiringkan badannya kearahku.
" Abang duluan ". ucapku sambil melihat kearah bang Aldi.
" Ok.. maaf ya aku cuma mau bertanya. kamu jangan tersinggung karena agak sensitif sepertinya ". ucapnya.
" Abang tanya saja". jawabku sambil kembali melihat langit- langit kamar.
" Kamu menghadap kemari dulu ". ucap bang Aldi. Aku pun miring menghadap bang Aldi. Kami saling menatap dan diam.
" Hmmm... kenapa calon suami mu membatalkan pernikahan . maaf aku cuma tidak mau kesalah pahaman saja nantinya ". Tanya bang Aldi langsung tanpa basa- basi.
Aku menarik nafas pelan dan menghembusan pelan juga.
__ADS_1
" Sebentar...". ucapku bangun dari tidur, bang Aldipun bangun dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Aku menuju meja rias dan mengambil sesuatu dari laci, surat yang dikirim ayah bang rizal. dan mengambil hpku. Lalu kembali ke tempat tidur, dan duduk sisi tempat tidur dekat bang Aldi sandaran.
Aku memberikan surat itu kepada bang aldi, biar dia baca sendiri. Dan membuka Hpku yang dari siang tadi aku mode pesawat, karena tidak mau menerima telfon dari siapapun. lalu membuka pesan bang rizal, dan juga memberikanSebentar...". ucapku bangun dari tidur, bang Aldipun bangun dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Aku menuju meja rias dan mengambil sesuatu dari laci, surat yang dikirim ayah bang rizal. dan mengambil hpku. Lalu kembali ke tempat tidur, dan duduk sisi tempat tidur dekat bang Aldi sandaran.
Aku memberikan surat itu kepada bang aldi, biar dia baca sendiri. Dan membuka Hpku yang dari siang tadi aku mode pesawat, karena tidak mau menerima telfon dari siapapun. lalu membuka pesan bang rizal, dan juga memberikan pada bang Aldi.
Beberapa saat bang Aldi membaca, terasa kasurku begerak, bertanda bang Aldi bergeser duduk, dan dia duduk di sampingku yang hanya diam, tampa bicara.
Tiba- tiba dia memelukku dari samping dengan erat, lalu berkata.
" Kamu pasti bisa mengadapinya, aku akan selalu di sampingmu, aku suamimu, aku akan selalu ada di sampingmu untuk menjagamu. Sekarang yakinkan hatimu padaku, mereka tidak akan bisa menghinamu lagi ". ucap bang Aldi mengusap punggungku.
Sebenarnya aku tidak mau adanya air mata yang tumpah, tapi mendengar perkataan bang Aldi aku jadi terharu. Akupun balik memeluk bang Aldi, dan meneteskan air mata, sedikit.
Lama kami saling berpelukan, hingga pinggang terasa sakit, karena berpelukan sambil miring di sisi tempat tidur dengan kaki menjuntai.
Kami saling melepas pelukan, dan bang aldi menghapus air mataku. tidak banyak air mata ku.
" Kamu sangat kuat, dari tadi aku tidak melihat kamu menangis ". ucap bang aldi mengusap pipiku.
Aku menarik nafas " Untuk apa di tangisi, aku hanya sedih saja. karena tidak diberi kesempatan untuk bertanya dan di tanya ". ucapku.
" Mereka yang bodoh, tidak mencari tahu terlebih dahulu. Aku bangga denganmu, bisa menghadapi ini , tanpa terpengaruh dengan keadaan yang kacau tadi". ucap bang aldi.
" Terus ... abang kenapa mau menikah denganku?!". tanyaku.
" Hmm... kenapa ya ?". ucapnya menatap mataku. lalu berkata " Kayaknya di paksa mami deh !". Ucapnya tertawa melihatku yang ternganga mendengar jawabannya.
" Istriku.... Kamu sekarang istriku, meskipun di paksa mami menikah, aku akan menjadi suamimu selama tuhan mengizinkan kita untuk bersama, sampai menua hingga akhir hayatku, itu janjiku setelah mengucap ijab qabul tadi pagi ". ucapnya sambil mengecup kembali keningku, lama dia mengecupnya.
Aku terharu mendengar ucapan bang Aldi. Aku kembali menangis, tapi kali ini aku terisak. Bang Aldi mempererat pelukannya tanpa melepas kecupan di keningku.
" Assalamualaikum istriku ". ucapnya dengan bibir masih di keningku.
" Waalaikummussalam suamiku ". ucapku setelah beberapa saat terdiam mendengar ucapan salam dari bang Aldi.
" Ya sudah... kita istirahat ya, sudah larut". ucap bang Aldi. aku mengangguk, dan menuju tempat tidur dan merebahkan badanku.
Aku menyelimuti tubuhku, dan tidur membelakangi bang aldi.
" Hey... dosa memunggungi suami kalau tidur. ayo, menghadap kemari ".ucap bang Aldi merangkul bahuku. Aku pun menghadap ke arah bang aldi.
Dia menariku ke pelukannya, dan memeluku tidur.
" Mulai malam ini kita tidak boleh tidur berjauhan, ok". ucapnya.
Aku mengangguk saja.
" Tidurlah". ucapnya lagi sambil mengecup keningku.
Dari tadi jantungku tidak berhenti berdebar, rasanya ingin melompat keluar dari dadaku, aku yang belum pernah berpelukan atau belum bersentuhan dengan laki- laki.
Deg.... deg....deg....
__ADS_1
Dini tidur manghadapi suaminya, mereka tidur dengan hati yang tidak menentu, ada rasa tidak percaya, ada rasa dan rasa mengantuk. karena malam telah larut. dan ....
Zzzzzz...
Pagi subuh seperti biasa Dini terbangun seperti biasanya, sebelum azan subuh. Dia merasa masih mengantuk, matanya susah dibuka, karena tidur hampir tengah malam.
Dini mengerakkan badannya yang terasa di himpit sesuatu yang berat, dia berusaha untuk bergerak, tapi tidak bisa. Perlahan dia membuka matanya, dia yang tidur miring melihat sesutu benda yang dekat dengan wajahnya, bahkan menempel pada benda itu.
Dia menggeser pandangannya ke arah badannya, melihat sebuah tangan yang melingkar di badannya. Dia terkejut ....
" Astaghfirullah.... " ucapnya bangun dengan cepat, membuat seseorang yang tidur di sampingnya ikut terbangun.
Dini yang masih terkejut memundurkan badannya ke ujung tempat tidur dan.....
Hap.... tangan itu mengapai badan dini yang mundur dan hampir terjungkal jatuh. Untung tangan itu cepat menarik dini, kalau tidak bisa di pastikan dini jatuh telentang ke bawah .
" Kamu tidak apa- apa ?!". tanya Aldi panik. Ya paniklah, dibangunkan dengan gerakan yang tiba- tiba.
" Abang kenapa masuk kamar dini?!" tanya dini melihat aldi tajam.
Aldi menarik nafasnya pelan, lalu menunjuk kearah langit- langit kamar yang ada kelambu pengantin terpasang.
Dini melihat kesekeliling kamar. Kamar pengantinnya, dia mulai ingat kalau dia sudah menikah. Tapi bukan menikah dengan tunangannya Rizal, tapi dengan Aldiansyah. Dia melihat kembali pada suaminya itu.
" Maaf bang , dini lupa". ucapnya menunduk.
" Tidak apa- apa". jawab aldi sambil menarik dini ketengah kasur agar tidak terjatuh.
" Kamu, kenapa bangun cepat. ini baru jam empat lewat". ucapnya kembali tiduran.
" Aku sudah biasa bangun sebelum subuh bang ". ucap dini sambil turun dari tempat tidur.
" Mau kemana?!".
" Panggilan alam ". ucap Dini berjalan ke kamar mandi dan masuk.
Aldi kembali memejamkan matanya, tapi tidak bisa tidur lagi karena kaget tadi. Dia hanya memandang langit- langit kamar. Dia tersenyum tipis sambil geleng- geleng kepala, tidak menyangka, kalau sudah menikah. padahal kemaren dia hanya menemani maminya menghadiri acara akad nikah karyawannya, namun malah dia yang jadi pengantennya.
" Abang..... bisa bantu Dini sebentar?!". ucap dini menyembulkan kepalanya di pintu kamar mandi.
" Ya...". ucap Aldi.
" Tolong ambilkan baju handukku di rak sajadah di rak bawah berwarna pink, aku lupa bawanya". ucap Dini.
Aldi bangkit dari tidurnya dan mengambil keperluan istrinya itu.
" Handuknya sekalian bang ". ucap dini.
Aldi memberikannya.
" Terima kasih bang ". ucap Dini sambil menutup pintu kamar mandi.
.
.
.
__ADS_1
Like dan komen ya temans 🙏🙏