Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 40.


__ADS_3

" Sandra hamil.... dan rizal tidak pernah pulang kerumah... huhuhhhuuuu". jawab mak sam.


" Hamil..!!!!". ucap kami bersamaan.


Aku kaget, kok......


" Kak..... katanya Rizal tidak pernah pulang, kok sandra hamil ?!". Tanya om umar dengan suara nyaring, aku kaget dua kali sambil memegang dadaku.


Ayah dan ibu terganga kareka juga kaget, tidak bicara apa- apa. akupun hanya diam


hanya diam.... semua diam.... yang terdengar hanya suara tangis mak sam.


" Sebaiknya kak sam pulang, bicara baik- baik sama sandra, apa dia hamil anak rizal. kalau.......".


" Kamu jangan mengada- ngada umar...., sudah jelas rizal suami sandra ya anak rizal lah yang di kandung sandra. kamu jangan memfitnah umar... aku tahu sandra tidak pernah selingkuh, dia selalu dirumah semenjak menikah...". omel mak sam pada om umar.


" Aku tidak bilang sandra selingkuh kak..., aku cuma nanya saja. tadi kakak bilang kalau Rizal tidak pernah pulang, jadi.... kakak pikir sendiri .... dari mana anak itu" ucap om umar marah.


" bicarakan dengan sandra, kalau memang yang di kandung sandra anaknya rizal, kita akan datangi keluarganya, tapi kalau tidak..... hanya sandra yang bisa menjawab... dan kak sam tidak bisa membantah.... kamipun tidak bisa membantu ..!!". tambah om umar kesal.


" Dasar kalian.... tidak membantu malah menyudutkan sandra... menyesal bicara sama kalian..." . ucap mak sam sambil pergi.


" Kak....". pangil ibu.


" Biarkan saja Nur, capek bicara sama dia, tidak pernah benar kita sama dia ". ucap Ayah pada ibu.


" Iya kak... biarkan saja.. Aku dari dulu sudah memperingatkan kak sam untuk tidak menuruti semua kemauan sandra, sandra sangat egois karena dimanja dan selalu di bela oleh kak sam dan bang samsul". ucap om umar.


" Tapi aku kasihan sama sandra... lagi hamil, suami tidak pulang, ayah di penjara, sama siapa kak sam akan bicara ". jawab ibu.


" Biar kak sam bicara dulu dengan sandra, aku yakin , mereka pasti akan kembali datang. kalau tidak kerumah ayah pasti kemari ". jawab om umar.


" Iya ... betul ..". jawab ayah. " kita harus tau dulu siapa ayah dari anak yang di kandung sandra, baru bisa bertindak. Aku bukan menuduh ya... aku merasa kalau sandra bukan hamil anaknya rizal ". ucap ayah.


" Dari mana abang tahu... abang jangan membela rizal bang, apa abang masih belum iklas rizal menikahi sandra?! " . tantang om umar.

__ADS_1


" Bukan begitu Mar...". tepuk ayah di pundak on umar yang masih duduk di samping ayah.


" Kan kak sam bilang rizal tidak pernah pulang, dan hari itu waktu ibunya kemari menjemput cincin tunangannya dengan dini pernah cerita, kalau rizal selama cuti tidak berada di kota ini, dan sandra pernah kemari waktu dini baru beberapa hari pulang dari rumah sakit marah- marah kalau rizal juga tidak pernah pulang ". jelad ayah.


Om umar memijit- mijit dagunya sedang berfikir keras. Aku tidak tahu, harus apa. Ibu menarikku berdiri.


" Ayo.... mandi sana.. sudah mau magrib... tidak baik mendengar cerita orang dewasa..". dorong ibu menuju kamarku. Aku ikuti saja karena badanku sudah gerah, mau mandi.


Ada untungnya juga aku punya kamar mandi di dalam kamar, aku bisa langsung masuk kamar mandi tanpa bawa baju ganti, tinggal mandi dan tukar baju di kamar. aman dan nyaman.


...


Sudah betapa hari semenjak kedatangan mak sam kerumah, ayah masih terlihat biasa saja. tidak ada kecemasan dari wajahnya, entah telah lupa dengan masalah kak sandra atau sudah selesai memecahkan masalah kak sandra. semoga saja sudah selesai .


Sabtu sore aku pulang naik angkot, aku tidak trauma untuk naik angkot karena aku masih merasa aman drngan angkot, dan saat turun aku akan lebih hari- hati dan berpegangan. aku turun di pertigaan depan seperti biasa, saat akan menyebrang jalan aku melihat kak sandra dia lewat dengan mengendarai motor, sendiri saja.


Mungkin dia tidak melihatku, sebab aku berada di seberang jalan. Itu lebih baik, dari pada di tanya- tanya dsn di marahi.


Aku berjalan dari persimpangan menuju rumah hanya sekitar lima menit, kalau santai- jalannya paling lama sepuluh menit.


Berjalan sore di jalanan kampung sangat ku suka, para tetangga saling mengenal dan saling menyapa, akupun hampir mengenal semua warga yang tinggal disini yang telah lama tinggal di kampung ini maksudya.


Ramai suara orang berbicara di rumah, aku membatalkan masuk melalui pintu depan, karena takut menganggu pembicaraan. Maka aku berjalan ke samping dan masuk melalui pintu samping. karena samping rumah sudah dibangun waktu itu saat aku selesai tunangan, meskipun berdinding papan tapi ini menjadi ruangan yang agak luas menyambung dengan dapur.


sering untuk duduk- duduk saat ayah istirahat saat pulang dari kebun atau sawah, karena ruangan itu agak luas dam kosong maka ibu meletak kan mesin jahitnya disana, biasa di tarok dekat ruangan nonton.


Aku melihat putri sedang duduk di lesehan samping jendela menghadap samping sedang makan jagung rebus, aku berniat mengejutkan nya, tapi....


" Tidak akan terkejut... sudah tahu masuk dari tadi...." . ucapnya tanpa melihatku.


" Ah ... gagal bikin berisik ....". jawabku sambil duduk dekat lesehan samping dia duduk. "Siapa di depan?!". tanyaku sambil mengambil jagung ditangannya dan mematahkan dan kuambil separo dan memberikan separo lagi padanya.


" ada kakek, nenek, om umar, mak sam, kak sandra, ayah, ibu, tiga orang aku tidak tahu ". jawab putri.


" Oooo..". jawabku sambil memakan jagung, bukan tidak peduli, tapi memang tidak ingin tahu. Aku sedang menikmati hari- hari tanpa di ganggu, karena beberapa hari ini aku merasa bebas saja rasanya, mungkin sudah tidak di bayangi kak sandra. Atau memang kak sandra sudak tidak lagu mengikuti aku lagi.

__ADS_1


" Tidak kepo...". tanya putri


" Tidak...". jawabku singkat.


" Menyesal nanti, kalau telat tahu tentang pembicaraan mereka ".


"Bodo amat, yang penting tidak menganggu ku, terserah apa yang mereka bicarakan ". jawabku .


Aku yang baru pulang dari pasar ingin rebahan di kamar, tapi kalau mau masuk kamar harus melalui ruang tamu, karena kamarku di samping ruang tamu. " Ahhhhhh... ". ucapku sambil rebahan di lesehan samping putri. " Masih lama ya put tamunya, mau rebahan ni, capek ". ucapku pada putri.


" Kurang tau ..".


Lama aku rebahan di lesehan ruangan samping, tapi belum ada tanda- tanda pembicaraan itu selesai masih terdengar perdebatan antara mereka, entah apa yang mereka bahas. suara memang terdengar, tapi inti pembicaraan mereka tidak tahu.


Mataku seperti dimanjakan, karena hembusan angin dari luar melalui jendela sangat terasa sejuk dan nyaman, aku yang rebahan ingin tidur saja rasanya.


" Dini.... kamu sudah pulang... kok tiduran disini ?!". tiba- tiba ibu datang.


Mungkin ibu ingin kedapur namun melihat aku yang tiduran jadi menuju kemari. karena meja dapur menghadap jendela yang dapur dan ruangan samping ini.


" Lagi rebahan bu, istirahat sejenak ". jawbkuku masih tiduran, hanya memandang ibu yang berdiri di pintu penyambung ruangan dapur dan ruangan ini. Aku memejamkan mataka kembali, rebahan santai, seperti di pantai, tapi anginya berhembus dari jendela ...


" Sudah pulang tamunya bu ?" tanya putri.


" Belum.... masih panas dan alot pembicaraanya, mak sam tidak terima sandra di cerai di saat hamil, padahal orang suruhan haji faisal gigih mengatakan itu bukan anak Rizal..". ucap ibu.


" Kenapa bang rizal tidak tanggung jawab?. tidak benar berarti bang rizal itu !". jawab putri kesal


" Karena itu bukan anaknya rizal... rizal tidak pernah menyentuh Sandra... itu yang di katakan rizal di vidio call tadi....".


.


.


.

__ADS_1


#like dan koment ya temans otor..


terima kasih sudah mampir di karya otor 🙏🙏#


__ADS_2