
Masuk keruangan pesta Dini sangat terkejut, ruangan di hias nuansa putih. Aula gedung dipenuhi bunga-bunga yang cantik dan indah. langit-langit ruangan di pasang kain tile putih dan bunga-bunga yang berwarna pink.
Pelaminan besar yang berada langsung nampak dari depan pintu sangat memukau. Dini yang biasa datang hanya menjadi tamu di pesta merasa takjub.
Beginikah rasanya jadi pengantin, di sambut dengan tarian yang meriah di luar tadi. Penyanyi yang menyanyi ceria dengan nyanyian dari grup orgen di pentas sana.
Karpet merah yang terbentang dari luar pintu masuk sampai menuju pelaminan, pagar ayu yang ganteng dan cantik, keluarga besar yang selalu tersenyum memakai seragam keluarga untuk menyambut tamu.
Dini dan Aldi disandingkan di pelaminan besar ini. Dini melihat seisi gedung yang, dekorasinya meriah, cantik dan indah.
Sebelum kedua pengantin duduk semua keluarga berfoto- foto dengan pengantin. Mulai dari orang tua, saudara, karabat, famili dan saudara orang tua dan kerabat orang tua. Semua menyambut dengan suka cita.
Meriahnya pesta ini tidak kalah dengan pesta pernikahan anak bapak walikota yang dini lihat dari foto yang dini lihat di medsos salah satu temannya yang mengadiri pesta tersebut bulan lalu.
Bedanya mungkin tamu yang hadir, dan yang mengadakan pesta. Yang satu pejabat dan yang satu pedangang.
Tapi dini salah menilai, ternyata adik papi adalah walikota tersebut. Itu dini ketahui saat foto keluaga. Bahkan dengan anak bapak walikota yang foto pestanya dini lihat di medsos temannya.
Saudara papi dan mami ternyata ada beberapa yang pejabat dan pengusaha, bahkan adik papi yang bungsu adalah anggota dewan di provinsi.
Dini merasa rendah diri, dan lebih banyak tersenyum saja. Teryata keluarga mami dan papi bertitel tinggi dan punya pekerjaan yang tidak main-main.
Dinipun juga baru tahu, ternyata suaminya banyak bersaudara. Tujuh orang, lima perempuan dan dua laki-laki. yang laki-laki anak sulung dan anak bungsu.
Yang mengikuti mami hanya putra sulung mami, itupun atas permintaan mami dan papi untuk membantu.
Dulu anak sulung mami itu bekerja di pulau jawa, menjadi tehnisi mesin di salah satu perusahaan. Tapi dia kecelakaan kerja, membuat kakinya agak pincang kalau berjalan. Dan disuruh saja mengelola toko di sini.
Semakin sore pesta semakin ramai. Dini dan aldi menerima ucapan selamat dari foto dari para tamu, Meskipun capek dari tadi, mereka tetap harus semangat dan tersenyum. Mereka tidak mau dicap sombong jika tidak tersenyum saat foto bersama.
Menjelang magrib kedua pengantin disuruh istirahat dan berganti pakaian yang lebih ringan dari yang tadi. Dan kembali kepelaminan selepas sholat isya.
Teman-teman aldi pun datang selepas isya ini. Mungkin mereka janjian untuk datang malam hari. Agar bisa berkumpul.
__ADS_1
Teman Aldi yang dari luar kota pun malam datangnya, karena mereka tadi siangnya mereka jalan-jalan terlebih dahulu keliling kota wisata ini.
Acara malam yang didominasi anak muda lebih meriah, mereka menyumbang lagu di acara pesta pernikahan Aldi dan Dini ini.
Aldi dan Dini yang tadinya capek dan mulai bosan, menjadi bersemangat, melihat para teman- teman menyanyi dan menari menyampaikan semua.
Berbahagia dan bersedih di tuangkan dengan menyanyi di pentas acara, di bawah dekat meja para undangan ikut berjoget, bahkan sampai kepelaminan mengajak Aldi dan Dini menyanyi dan bergoyang.
hingga pesta usai pukul sepuluh tepat, karena batas undangan datang. Dini dan Aldi pulang setelah keluarga dan kerabat berangsur pulang. Hanya tinggal pihak organizer dan katering yang mengemas semuanya, karena pihak keluarga hanya tau beres.
Dini yang kelelahan hanya diam dan memejamkan mata saja saat di atas mobil saat pulang, dan bersandar di jok belakang mobil. Mobil di kendarai oleh sepupu Aldi. kakinya sangat lelah memakai high hell dari pagi sampai malam.
Dia berharap lekas sampai dirumah, mau berendam air panas, dan tidur di kasur empuk. Lega sekali pikirnya.Meteka pulang kerumah mami.
Sesampai dirumah Dini kaki sangat lemas, rasanya tidak mampu untuk berjalan. Tapi dia harus berusaha untuk sampai di kamar. Berjalan tertatih dan ...
Hap.....
Astaghfirullah...
"Abang..!". kaget Dini melotot saat tahu di gendong suaminya.
"Biar cepat sampai". jawab Aldi berjalan ke kamar mereka. Aldi mendudukan Dini di kursi meja rias, ya kamar Aldi sekarang sudah di belikan meja rias buat Dini. Mami membelikan saat mereka masih di provinsi sebelah minggu lalu.
Setelah mendudukan Dini di depan meja rias, Aldi jongkok membantu membukalan tali sepatu tinggi dini, dan melepaskannya dari kaki dini. Dia memijit sedikit telapak kaki dini.
"Abang.., geli". ucap Dini.
"Sebentar, biar rileks". ucap aldi tetap memijat jari-jari kaki Dini, dan juga memijat betis dini sebentar. Lalu dia membantu Dini membuka kerudung pengantin, tidak banyak jarum yang di pakai, tapi acecoris yang banyak menempel.
Setelah membantu membuka kerudung dan acesoris di kepala Dini, Aldi membantu membuka acesoris yang di badan, di baju dan di tangan. Dan menolong menurunkan resleting baju pengantin.
Selanjutnya dini yang mengerjakannya. Membuka baju dan sarung pengantinnya. Aldi masuk kekamar mandi untuk bersih-bersih badan. sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi Dini menghapus make upnya dan mengantung pakaian yang dia pakai tadi dengan hanger.
__ADS_1
Pihak mua tidak membantu Dini membuka pakaian pengantin karena baju pengantin dini yang malam ini tidak memakai pakaian dari salon, bajunya di beli oleh mami khusus untuk Dini, baju adat khusus untuk menantu perempuan pemberian mertua.
Baju ini akan di pakai saat berkunjung kerumah kerabat dekat jika kerabat tersebut membawa menantu baru mereka berkunjung kerumah, istilahnya mengajak menantu baru makan bersama di rumah kerabat suami.
"Dini, kamu mandi sana, air hangatny sudah aku siapkan". ucap Aldi saat keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, karena dia baru selesai mandi. Dan masih memakai baju handuk menuju ruang ganti baju.
Dini pun masuk ke kamar mandi, dia melihat, ternyata bath tubnya sudah di isi air hangat dan mungkin sudah di beri aromaterapi, karena Dini mencium aroma yang menyenangkan.
Dini membuka pakaian luarnya, dan berendam. Dini menikmati berendam dengan air hangat ini. Tidak mau berlama-lama dini pun manyabuni badannya, dia tidak berani membasahi rabutnya untuk bersampo, takut basah saat akan tidur, karena rambut dini panjang.
Setelah berendam dan mandi, dini keluar dengan wajah segar, dia menuju ke ruang ganti untuk mengati baju untuk tidur.
"Kamu tidak keramas din?!" tabya Aldi pada istrinya.
Dia melihat kepala dini memakai jelbab instan, tidak memakai handuk jika keramas.
"Tidak bang, nanti rambut basah tidurnya, lagian sudah malam tidak baik". jawab Dini.
"Kamu harus membiasakan diri untuk mandi malam, maupun tengah malam ataupun subuh- subuh". ucap Aldi.
"kenapa??". tanya dini menatap Aldi heran.
"Kan mami minta cucu, ya harus dikabulkan". Jawab Aldi tersenyum sambil menaik turunkan alis matanya.
.
.
.
.
like dan komen ya temans
__ADS_1
terimakasih sudah mampir🙏🙏