
" Ayah....." ucapku bersamaan dengan putri. kulihat muka ayah lebam, yang lain aku tidak tahu, entah yang tertutup paksian rumah sakit. entahlah.
Yang membuatku berkurang cemas ayah di rawat di kamar biasa, tidak di ruang yang... aku tidak mau memikirnya.
Ayah membuka matanya memandang kearah kami, berusaha tersenyum. kulihat mata ayah memerah.
" Ayah tidak apa- apa?". ucapku mendekat ke arah ayah. Ayah menggelengkan kepala saja.
"Ayah tidak apa- apa din, hanya perlu istirahat ". jawab ibu mewakili ayah berbicara.
"Apakah badan ayah ada yang luka bu?! seperti kena benda tajam!?". tanyaku meneliti badan dan kaki ayah.
" Tidak.. kata ayah ayah dikeroyok, dipukuli , badan ayah sakit , karena pukulan ".ucap ibu sambil mengosok- gosok kaki ayah.
" Dada ayah dipukul juga ?!. apa dada ayah sesak yah !?".tanyaku masih belum puas .
" Tidak Din... mereka memukuli wajah dan badan ayah beberapa kali.....membabi buta.....Untung pak sutan ada membantu ayah...., jadi mereka lekas kabur ..karena pak sutan meneriaki mereka maling...".
" pak sutan berada di ujung sawah... agak jauh dari ayah ". jelas ayah pelan ." cuma ini.... kening dan kepala ayah dijahit, dua tempat, mungkin mereka ada yang pakai cincin tajam, jadi robek ". ucap ayah. memang kulihat kening kiri ayah dan kepala samping diatas telinga ada yang di perban. " Tapi tidak apa- apa, cuma agak pusing, jadi hatus dirawat ".tambah ayah.
" Punggung ayah juga sakit, mungkin ditendang, agak memar ibu lihat tadi ". tambah ibu.
" Apakah mereka ditangkap yah?!". tanyaku.
" iya... mereka dapat di tangkap, Setelah pak sutan meneriaki mereka , datang beberapa petani yang berada sawah sekitar, saat yang mengeroyok ayah kabur. tapi mereka dihadang petani yang ada di tepi, mereka dikepung, dan ditangkap ramai- ramai, banyak yang datang karena teriakan pak sutan".
" Melihat ayah babak belur, dan penuh lumpur, mereka yang menahan tadi juga memukuli untuk minta keterangan tujuan merampok ayah, ternyata mereka suruhan bang samsul ". cerita ibu menambahkan. " mata ayah juga kemasukan lumpur, karena terjatuh ke dalan sawah saat dikeroyok". kulihat mata ayah memang merah keduanya. pasti sakit. aku jadi tambah emosi.
" Memang brengsek dia, kita harus buat perhitungan..."
" Ayah cuma butuh istirahat din ". potong ayah. " Kamu itu sabar, jangan membuat mereka masih marah sama kita, mereka akan...."
" Telat yah.... aku terlanjur emosi tadi, sudah kupukuli dia, juga babak belur seperti ayah.. ". jawabku sambil mengepalkan tangan, masih emosi rasanya.
" Siapa yang kamu pukuli !?". tanya ayah kaget dengan suara keras, padahal tadi suara ayah lembut tidak keras.
" Ayah sudah sembuh ya... keras suaranya !". ucapku melihat ayah.
__ADS_1
" Kamu din..... ayah nanya... siapa yang kamu pukuli ?!". tanya ayah dengan suara lembut kembali, menatap mataku, karena aku sedang melihat ayah.
Aku diam saja tidak menjawab pertanyaan ayah. Aku tersenyum saja melihat ke ayah, sebenarnya takut, takut ayah marah, karena tidak bisa menahan emosi. Ayah malah melotot melihatku, karena aku senyum saja tanpa menjawab. Nyengir kuda... agar tidak dimarahi.
" Hahahahaaaa...... jujur saja dini, tadi om lihat kamu hebat, jangan takut membela kebenaran... semangat ". ucap om umar kepadaku sambil mengangkat kepalan tangan ke atas.
" Ada apa umar.... dini buat masalah !?". tanya ayah melihat pada om umar yang masih tertawa.
" Tidak.... dia hanya membela kamu bang, dia...".
" Aku melempar ayah samsul dengan kursi, memukul dan menendang dia hingga babak belur... mungkin cuma kurang masuk lumpur seperti ayah... ". jawabku jujur.
" Dini........". ucap ayah dan ibu beriringan.
" Aku kalut yah, apalagi tadi ayah bang rizal menyebut, kalau orang suruhannya mengeroyok ayah dan pak madi, bahkan sampai kritis .
jadi aku ingat ayah saja... hanya ayah yang terpikir olehku, maka saat dia diam saja seolah memang ayah sedang........ kulempar saja anak kursi tamu ke kepalanya ". jelasku.
" Anak ayah masih bar- bar ternyata ". ucap ayah geleng- geleng kepala dan berdecak. " kamu sudah lupa, kamu kan janji tidak akan emosian lagi, kamu itu perempuan,dan jangan bar- bar. semenjak kamu ikut latihan kamu sudah mulai feminim dan sabar, tapi kok sekarang balik lagi, masih main pukul, masih main lempar barang". ucap ayah.
Ya aku memang tidak suka berdebat, aku dulu kalau lagi marah suka melempar barang pada orang, apa yang ada de dekatku akan aku lempar saja. saat sekolah dulu kalau ada teman yang mencari masalah denganku akan berakhir dengan lemparan barang yang ada di sekitarku atau yang ada di tanganku.
Aku istirahat latihan setelah masuk kelas dua smk, karena sedang magang. Tapi keterusan sampai sekarang, tidak pernah lagi ikut latihan. Apalagi semenjak bekerja, tidak kepikiran lagi untuk ikut.
kami pun berbicara ringan di ruangan ayah dirawat.
" Terus pak madi bagaimana keadaanya yah?!". tanyaku penasaran.
" Ayah kurang tahu.. ". jawab ayah.
" Tadi om dengar dari haji faisal, pak madi di ruang intensif, sore tadi pas sampai disini dia sudah mengunjungi kesana. makanya haji faisal langsung mencari bang samsul. dan menyuruh orang suruhannya membawa kerumah agar diselesaikan di rumah ". jelas om umar.
" aku mau lihat pak madi om ". ucapku pada om umar.
" besok saja, atau akan pulang nanti ". ucap om umar.
" Boleh om... sekalian mau pulang ". jawabku.
__ADS_1
Ayah dan om umar berbicara serius, tidak tahu apa yang mereka bicarakan. aku, ibu, dan putri duduk di luar saja, ayah dirawat di kelas dua jadi disebalah ayah juga ada pasien sedang menerima yang membezuk, makanya kami duduk diluar saja dulu. bergantian, tadi tempat ayah yang ramai.
Ilham sudah lebih duluan pulang disuruh om umar, karena tadi di rumah hanya tinggal ada kakek ayah kak sandra, ayah bang rizal, dan tante irma adiknya ayah bang rizal. Dan.... ruang tamu yang berantakan.
Dari magrib sampai malam kami berada di rumah sakit, menunggui ayah, aku sebenarnya tidak mau pulang kerumah , tapi di duruh oleh ayah dan ibu, karena ayah tidak apa- apa.
Pukul setengah sepuluh kami pulang, ibu yang menjaga ayah dirumah sakit, aku dan putri di antar oleh om umar.
Sebelum pulang kami mampir di ruang intensif untuk melihat pak madi, sebenarnya cuma melihat pintu kaca , tapi aku ingin lihat saja, mana tau bisa melihat lebih dekat. keberuntungan .
Tiba disana om umar menemui petugas piket ruangan, menanyakan keadaan pak madi, dan keberuntungan itu ada, kami di izinkan melihat di pintu masuk saja, petugas menunjukkan yang mana pak madi.
" Bagai mana keadaan pak madi sekarang buk?!". tanya om umar.
" Sekarang masih koma pak, tapi sudah melalui masa kritisnya, jantungnya pun sudah berdetak normal ". jawab petugas. " bapak bisa melihat, tapi dari pintu masuk saja, karena pak madi dekat dari pintu masuk ". tambah petugas itu.
" Boleh pak..". jawab kami
Walau cuma melihat dari pintu masuk tapi aku senang, aku mendo'a kan supaya pak madi tidak apa- apa, cepat sadar dan sembuh.
Sesampai di rumah ilham yang membukakan pintu, kulihat ruang tamu sudah bersih, entah siapa yang membersihkan.
" Kak... kakak sudah makan?!". tanya ilham.
Iya ya.... aku kan belum makan dari tadi, sore pulang dari pasar, dan kejadian sore aku langsung kerumah sakit.
" lupa il... belum makan rupanya kakak.. makan yuk put, kamu juga belum makan kan!?" tanyaku pada putri.
Kamipun makan malam, yang hampir tengah malam malah, ini sudah lewat jam sepuluh. aku, putri yang makan sedang kan ilham mengunci pintu dan memeriksa pintu belakang serta mematikan lampu ruang depan.
Saat akan masuk kekamar aku di kejutkan ada yang tidur di atas tempat tidurku, siapa kah yang tidur??...
.
.
.
__ADS_1
Like & coment ya temans ottor 🙏
Terima kasih sudah mampir di tulisan ottor ya temans 🙏🙏