
" Assalamualaimum dini, terimakasih sudah mau menerima telfon ku, maaf ... aku telah mengecewakanmu, aku tidak tahu kalau begini,
kamu sudah tahu kan kalau aku di jebak sandra dan ayahnya... aku tidak bisa apa- apa saat itu, aku kacau, bingung, saat itu yang aku fikirkan hanya kamu. maaf dini... maafkan aku... aku benar- benar minta maaf, .....". potong bang rizal saat aku mengangkat telfon darinya. Panjang curhatan bang rizal padaku.
Dia berbicara tanpa henti, mungkin benar yang seperti pesannya. dia butuh aku mendengar curhatannya, kesedihannya, kegalauanya.
Aku mendengar suara bang rizal seperti menahan tangis,terisak, dan kadang tergugu. akupun ikut menangis, aku hanya mendengar semua yang di bicarakan bang rizal. Air mataku tidak dapat kutahan mendengar semuanya.
Kami sama-sama menangis, sama- sama bersedih, sama- sama tergugu. Lama kami larut dalam isakan tangis,
" Dini..... apakah bisa kita melanjutkan mimpi- mimpi kita yang tertunda Din?. aku tidak bisa menerima sandra, aku sangat kecewa dengan dia dan keluarganya ". ucap bang Rizal setelah lama kami larut dalam tangisan yang di tahan.
Aku ragu untuk menjawab, takut akan mengecewakan dia dan keluarganya, takut juga akan mengecewakan orang tuaku.
" Dini.....". panggilnya lagi.
Aku menarik nafas untuk menghilangkan isak ku.
" Bang.... aku tahu kamu kecewa...., akupun juga kecewa.... , aku tidak bisa menyalahkan takdir..., aku hanya tidak ingin orang- orang disekitarku berkecil hati, bermusuhan, saling benci dan saling dendam.
Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama, mungkin kita hanya diizinkan sebatas teman, sahabat, atau menjadi saudara.... yang saling menjaga saling memahami dan saling pengertian...". Kudengar isak bang rizal semakin keras tergugu.
Air mataku pun terus mengalir tanpa bisa kuhentikan, isakku pun tidak dapat kutahan, dada ku sesak, kepalaku pun ikut sakit, berdenyut, kupegang keningku, kupijit pelan.
Tidak ada jawaban bang rizal, hanya isak tangis kami yang saling bersahutan. larut dalam fikiran masing- masing.
" Bang.... kita harus terima takdir yang telah di gariskan, aku tidak mau abang larut dalam kesedihan, terimalah kak sandra jadi istri abang, mungkin memang kak sandra yang menjadi jodoh abang ". ucapku akhirnya.
Aku tidak mau masih mengantung hati, aku ingin bang rizal bisa untuk melepasku, agar tidak jadi beban baginya dalam melangkah.
Begitupun dengan aku,aku tidak mau masih di embel- embeli status masih terikat janji dengan bang rizal, masih jadi tunangan bang rizal, calon istri bang rizal. sebab kami dalam proses menuju pernikahan. tapi batal.
" Apakah tidak bisa untuk kita bersama, aku masih mengharapkanmu, aku....".
" Bang rizal udah menikah, aku tidak mau menganggu suami orang, aku tidak mau di serang lagi, aku ingin kita hanya jadi teman, teman saling bercerita, saling berbagi, dan untuk melangkah dengan tujuan masing- masing". jelasku, aku tidak ingin bang rizal berharap lebih..
Aku mendengar dia menarik nafas, masih terdengar isak kecilnya. aku megambil tisu untuk menghapus air mataku. lama dia diam.
__ADS_1
" Dini... aku akan berusaha untuk menerima keputusanmu,aku akan jadi temanmu, aku mohon, jika aku menelfon atau menemuimu tolong jangan menghidar, aku akan berusaha untuk menerimanya walau berat ". ucap bang rizal akhirnya dengan suara lemah.
" Mohon sampaikan maafku pada ayah, ibu,pada semua keluarga di sana, aku juga ingin bertemu dengan ayah dan ibu , mau minta maaf ". ucap bamg rizal lagi.
" Akan ku sampaikan pada ayah dan ibu ". jawabku. "Kak Sa...".
" Dini.... aku mau mengatakan.... kalau aku tidak bisa menerima sandra jadi istriku, aku tidak bisa.... Aku mohon sama kamu ..., jangan paksa aku. aku sudah sangat berat rasanya melepaskanmu, jangan paksa aku dengan ini lagi.....". potong bang rizal.
" Baik bang, aku hanya pesan sama abang, jangan simpan rasa abang kepadaku terlalu, agar abang tenang melangkah ". pintaku sambil menghapus air mataku.
"Iya dini.... abang akan simpam hati abang untuk dini sebagai sahabat, kalau boleh jadi saudara saja ". jawab bang rizal.
" Bang.... Semua barang bawaan abang ini aku mau kembalikan bang, abang bisa jemput bila ada waktu. Atau akan aku antar ke kosan saja ". kataku setelah lama saling diam, aku ingat dengan semua hantaran yang dibawa keluarga bang rizal waktu itu.
" Buat kamu saja Dini... abang iklaskan untuk adik abang, kamu jangan angap semua barang hantaran, anggap hadiah dari seorang abang buat adiknya. Agar kamu tidak berat untuk memakainya ". jelasnya.
" Terima kasih bang, sampaikan salam dan terima kasih pada ayah dan ibu abang, sampaikan juga maaf kami sekeluarga ". ucapku.
" Baik Din..... jaga diri, jaga kesehatan, semoga kamu mendapat jodoh yang lebih baik suatu hari nanti. jangan lupakan abang, abang akan menjadi kakak kamu mulai saat ini ". ucapnya.
" Terima kasih bang ". jawabku sambil menutup telfon dari bang rizal. Kupegang dadaku yang terasa sesak, kembali tangisku pecah. sedih... mimpiku putus di tengah jalan..
Sandra pov.
Aku anak satu- satunya dari ayah dan ibuku, mereka sangat memanjakanku, semua keinginanku mereka usahakan untuk memenuhinya.
Aku lulusan sekolah seni, aku masuk kuliah jurusan seni karena ingin jadi guru kesenian, karena aku suka menari dan menyanyi.
Di dalam keluarga besar ibuku aku cucu pertama dari kakek dan nenekku. Mereka juga memanjakanku, kakek selalu memberikan oleh- oleh buat ku jika aku datang kerumahnya, padahal rumah kami hanya sepuluh menit jalan kaki jaraknya.
Aku punya banyak sepupu, baik yang sama besar atau lebih kecil dariku, karena ibuku juga punya beberapa saudara. kami sering berkumpul di rumah kakek.
Ada seorang sepupuku Yang selalu membuat ku iri dari kecil , yaitu Dini. Dini anak pamanku, ayahnya adiknya ibuku.
Mereka tinggal masih dekat dengan rumah nenek, jadi hampir selalu bertemu dengannya.
Pertama yang membuatku iri adalah kulit dan rambutnya. di antara cucu kakek hanya dia yang berkulit kuning langsat, mungkin keturunan dari ibunya. karena ibunya berkulit terang. Kedua adiknya kulitnya juga terang tapi tidak seterang kulitnya.
__ADS_1
Bahkan rambut dia dan kedua adikya sangat bagus, hitam lurus, mengkilap. sementara kami para cucu kakek kebanyakan agak ikal, ada juga yang berambut lurus, tapi tidak mengkilap, cenderung kusam.
Aku mengakui kalau mereka cantik, karena ibunya juga cantik. tambah membuatku iri . Ayahnya yang juga kakak ibuku juga berkulit agak terang ,tidak sama dengan ibu dan ayahku yang agak gelap, hingga kulitku pun agak gelap.
Kami para cucu kakek semua sebenarnya cukup iri dengannya, tapi aku yang lebih iri, hingga tertanam pada diriku untuk tidak mau kalah dalam segala hal.
Sedari kecil aku selalu diutamakan, maka aku selalu ingin jadi nomor satu, bagi siapa yang lebih dari aku, aku berusaha untuk mengambilnya atau menganggunya.
tidak akan kubiarkan mereka mempunyai hal yang baru atau hal yang lebih dariku, kalau mereka tidak mau memberikannya padaku akan aku buat rusak atau tidak bisa di pakai lagi.
Karena sifat ku itu kakek dan nenek serta paman om dan tante marah kepadaku, yang biasanya selalu mengutamakan ku jadi biasa saja padaku. Biasa setiap aku aku datang pasti di sambut dengan oleh- oleh atau buah tangan kake atau nenek dari pasar.
Puncak marahnya kakek nenek dan om ku , adalah saat mereka dibelikan sepeda, padahal sepedanya hampir sama, hanya beda warna. tapi aku tidak terima disama- samakan, maka aku memotong ban sepedanya agar tidak bisa dipakai. Saat itu aku kelas empat sd dan dia masih tk.
Hingga aku dimarah habis- hahisan oleh om umar, kakek dan nenek pun tidak terima dengan aduanku kalau aku dimarahi oleh om umar. Tapi ayah dan ibuku membelaku dengan ikut memarahi om umar dan dia, mengapa minta membelikan sepeda sama dengan sepedaku. Aku merasa menang karena dja juga ikut dimarahi.
Bahkan Saat aku kelas enam juga pernah memotong tali tas mereka karena tidak mau memberikan tas itu padaku, tas itu sangat cantik, apalagi di jakarta dibelikan tantenya, bermerek, dan pastinya mahal.
Banyak lagi yang aku lakukan padanya, dari mengotori bonekanya, membuang bukunya, menyiram nasinya dengan air kobokan, bahkan beberapa kali mengunting bajunya yang kurasa bagus dan mahal. Kelakuan ku itu terus kulakukan sampai sekarang.
Sampai suatu sore dia diantar seseorang dengan memakai pakaian polisi, padahal dia kata ibu hanya pelayan toko, tapi kenapa dia selalu beruntung, padahal setahun yang lalu aku juga mengambil pekerjaanya sebagai guru paud. Karena setelah dua tahun aku lulus sarjana seni belum nendapat pekerjaan, dia yang hanya lulusan smk bisa langsung mengajar di paud.
Sekarang dia pun mendapat seorang aparat, akupun menginginkan lagi yang ada padanya.
Dibantu ayah dan ibu untuk mencapai semua keinginanku, dengan membuat dia celaka, dan menikahi calon suaminya dengan berbagai drama dan trik.
Tapi..... setelah menikahi calon suaminya aku malah menjadi janda.
.
.
.
.
ππTerima kasih sudah mampir di tulisan otor ya temans
__ADS_1
like & comentya otor tunggu ππ