
" Bukankah kalian yang tidak ingin mengenalku lagi.... bukankah kalian yang membuat persaudaraan ini pecah.... bukankah kalian yang telah memutus tali silaturrahmi..... Tidak ada yang menyuruh kalian untuk datang melihat orang yang sudah tidak mau kalian kenal...". ucapku dingin dan datar.
Ku pandangi mereka berdua, aku tidak gentar lagi menghadapi orang yang tidak berperikamanusiaan seperti mereka.
Ayah dan ibu diam saja, aku tidak tahu bagaimana ekspresi mereka, karena aku hanya menghadap mak sam dan kak sandra. menantang pandangan melotot mereka berdua padaku.
Mereka terdiam memandangku, aku semakin menantangnya, kulihat mak sam memegang tangan kak sandra, ini yang ingin kulihat, ternyata mak sam mulai takut melihatku yang biasanya diam jadi menantang dia. Kak sandra juga terdiam, aku makin menantangnya.
" Selama ini kami hanya diam, kami sangat menghargai kalian karena kalian adalah saudara. jika kalian masih menganggab kami musuh, silahkan... aku tidak akan pernah diam lagi... " ucapku , memandang mereka bergantian , dan langsung keluar dari kamar rawat ayah.
Tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan antara kakak beradik, yang penting jangan pernah lagi mengangguku dan keluargaku.
Saat azan zuhur aku pergi sholat ke mesjid rumah sakit yang berada di samping mesjid.Aku sengaja berlama- lama di mesjid. karena malas saja ke ruang rawat ayah. lebih baik di mesjid saja dulu, agar tidak ada sindir menyindir lagi, agar tidak ada ancam mengancam lagi.
Aku membaca grup kelas kuliah ku, membahas tugas yang akan diserahkan nanti malam, aku ingat, tugasku masih belum siap. semua Teman Sedang memberi kisi-kisi tugas tersebut, jadi aku bisa dapat pedoman untuk tugasku. sore nanti akan aku kerjakan.
Setelah melihat pesan- pesan di wa aku melihat orderan julan onlineku. aku akan memesan dan mengirim foto pesanan pakaian ke kak nova, agar sore di bawa kak nova saja, dan aku akan jemput di kosannya nanti sore. Asik melihat lapak onlineku hp ku berdering, panggilan masuk dari putri.
" Hallo put, assalamualaikum..."
" Waalaikummussalam... kakak dimana, aku di ruang rawat ayah ". ucapnya.
" kakak di mesjid samping rumah sakit put, kakak segera kesana ". jawabku.
" Iya kak.. cepat saja kakak kemari ".
" Eh put .... Kak sandra dan mak sam masih disana tidak, kakak malas saja bertemu dengan mereka ". tanyaku.
" Sudah tidak ada kak ". jawab putri.
" Iya.... ini mau jalan keluar mesjid ". ucapku.
Akupun keluar dari mesjid, dan menuju ke kamar rawat ayah , santai saja aku berjalan. karena aku tidak merasa diburu waktu.
Tapi saat kulihat jam di pegelangan tangan kiriku aku terkejut, sudah hampir jam dua, jam bezuk sudah hampir habis, aku buru- buru berjalan.
Sesampai di kamar aku melihat putri, di sana ternyata ada ayah dan ibu bang rizal. Aku hanya tersrnyum kepada mereka, mereka sepertinya sedang berbicara serius dengan ayah dan ibu, maka aku duduk saja di lantai yang telah di gelar tikar dimana putri duduk.
Aku tidak mau menganggu obrolan mereka.
" Ilham mana put?! tadi aku ada bawa makan siang lebih, apa kamu sudah makan? ". tanyaku
__ADS_1
" Aku sudah makan tadi kak, sama ibu, ayah juga ikut makan, kata ayah nasi disini kurang pas rasanya dengan lidah ayah ".
Aku tertawa pelan " Ayah ada- ada saja, makanan di rumah sakit itu semua orang juga bilang tidak pas dengan selera mereka, bukan ayah saja" . ucapku.
" Iya... bilang saja tidak enak, tidak ada yang bakal marah dan protes kok. malahan masih tetap di antar pas jadwal makan ". celutuk putri.
Aku dan putri tersenyum dan tertawa pelan berdua, karena aku bicara agak berbisik, agar mereka yang sedang berbicara tidak terganggu.
" Apa yang kalian tertawakan, menertawakan muka ayah yang tidak ganteng lagi, atau muka ayah kelihatan macho banyak warnanya ". ucap ayah memotong tawa kami, padahal kami sudah tertawa sangat pelan.
Aku bersama putri saling pandang, dan pecahlah tawa kami berdua, ayah, lucu juga ayah ini.
" Lebih macho yah... keren... kelihatan jantan..". jawabku sambil mengangkat kedua jempolku, sambil tertawa.
" Keren... macho... jantan.... tapi tertawa mengejek... Tidak ikhlas kamu Din.. ". ucap ayah.
" Bukan begitu yah... kalau aku bilang muka ayah jelek nanti ada yang marah pada kami yah, apa ayah tidak kasihan sama kami, kalau kami kena marah ". ucapku memelas. pura- pura minta dikasihani.
Kami yang ada di kamar rawat ayah ini jadi tertawa . Melihat wajah ayah yang penuh memar, memarnya sekarang lebih jelas dari kemaren, mungkin efeknya baru nampak jelas hari ini. Tapi mata ayah tidak semerah kemaren, karena sudah sering di kasih obat tetes mata.
" Kamu dan anak- anakmu sangat dekat ya Sein, senang aku melihat keakrapan kalian ". ucap ayah bang rizal.
" Alhamdulillah haji faisal, kami semua dekat, walau ada juga sifat mereka yang iseng, suka menganggu kadang- kadang usil ". jawab ayah.
" Nanya sih kadang bikin kesal juga, bahkan pengen cubit ".
" Cubit sayang maksudnya yah...." potongku sambil teesrnyum pada ayah.Ayah memperagakan tangan seperti mencubit dari jauh, kareba kami berjauhan duduk, ayah di atas tempat tidur rumah sakit sedangkan kami lesehan di atas tikar yang di gelar di lantai ruang rawat inap ayah.
Aku dan putri tertawa bersamaan
" Tidak sakit kalau begini cubit ayah ". ucapku sambil tertawa.
" Kalian ini... masih iseng sama ayah, kan ayah masih sakit, masih di usili saja ". jawab ibu.
" Ayah sudah sembuh bu , kan sudah boleh istirahat di rumah..." jelas ayah.
" Beneran yah.... kapan boleh pulang?!". tanya putri bersemangat.
" Sebentar lagi .. kalau ilham sudah datang ". jawab ayah.
"Ilham kemana yah.. memang dia sudah kemari..?!". tanyaku
__ADS_1
" Sudah... sebelum putri sampai tadi.. pas dokter sedang memeriksa ayah, dan mengizinkan ayah istirahat di rumah.. sekarang ilham sedang mengurus administrasinya ". jelas ayah lagi.
"Kamu suka mengoda ayah mu ya Din... ". ucap ayah bang rizal sambil melihat kearahku.
" Tidak juga kok yah.. ayah yang sering baperan kalau kami sedang tertawa ". ucapku pada ayah bang rizal.
" Kamu juga Din.... sering ngomong in ayah sambil tertawa ". ucap ibu
" Kami bukan ngomongin ayah kok bu.. kami sedang membicarakan makanan....."
" Yah... kok kita ramai dalam kamar ayah tidak di suruh keluar oleh petugas?!". tanyaku memotong ucapan putri.
" Mungkin karena ayah akan pulang, jadi di biarkan saja, kan sekalian beres- beres ". ucap ibu.
" Ooo. mungkin ya bu.. ayo put pesan mobil online nanti buat pulang pas ilham datang, biar aku yang beberes, biar nanti pas ilham datang kita bisa langsung pulang ". Ajakku pada putri.
" Iya... kamu juga tolong masukan, tolong kakak kamu, tidak banyak kok bawaan nya ". ucap ibu menambahkan.
Aku dan putri berberes memasukan beberapa perlengkapan ibu dan ayah, tidak banyak. karena ayah cuma satu hari di rawat, hanya beberapa potong baju, peralatan makan tadi pagi dan siang yang aku bawa ,dan ada beberapa buah tangan dari tetangga dan yang dibawa orang tua bang rizal, tetangga dan teman ayah ada beberapa orang tadi membezuk ayah.
" Assalamualaikum...". ucap ilham datang dan memasuki kamar rawat ayah. saat aku hampir selesai mengemas bawaan.
" Waalaikummussalam...". jawab kami bersama.
" Sudah selesai il...". tanya ayah.
" Sudah yah... sudah bisa pulang sekarang. Ini obat ayah juga sudah aku di tebus ". jawab ilham.
" Tidak usah pesan mobil online Dini, biar ayahnya rizal yang mengatar kan ayah mu pulang ". ucap ibu bang rizal.
" Apa tidak merepotkan pak haji faisal nanti.. ". ucap ibu.
" Tidak kok bu... Sama calon besan tidak akan merasa direpotkan, malah senang membantunya ".
.
.
.
.
__ADS_1
Like & coment ya temans ottor...
terimakasih sudah mampir di tulisan ottor 🙏🙏