
" Karena itu bukan anak Rizal... rizal tidak pernah menyentuh Sandra.. itu yang dikatakan rizal di vidio call tadi..". jawab ibu.
Aku terjaga dan bangun dari rebahanku melihat ke arah ibu.
" Kok begitu?!. terus anak siapa yang di kandung kak sandra ?". tanya putri.
" itu yang lagi di bahas, Sandra bersikeras kalau anak yang dia kandung anaknya rizal dan rizal bersikukuh mengatakan tidak, sampai kakek dan om umar marah sama sandra, dan orang suruhan haji faisal bahkan mengancam kak sam dan sandra , tapi sandra tidak menerima, malah dia yang mengancam orang itu. dia ingin bertemu rizal langsung, tapi rizal tidak mau bertemu ".
aku sebenarnya ingin tahu juga, tapi tidak mau tanya- tanya, takut di bilang kepo. Ahirnya diam saja,
" Dini...Kamu kenapa tiduran disini?, kenapa tidak masuk saja ". tanya ibu.
" Malas saja bu, aku lihat tadi ada motor kak sandra, nanti aku di tunjuk- tunjuk dan dituduh menyembunyikan bang rizal"..jawabku.
" Iya sih.... itu saja dari tadi ngomel terus pada ayah, katanya ayah yang merencanakan semua, agar rizal tidak mau kerumahnya, ayah sampai mengusir mereka dari rumah, tapi di sabarkan kakek dan om umar ". jelas ibu.
" Mereka yang datang itu siapa ?!. kok disini bertemunya!? bukan di rumah kak sandra saja?! kan ayah yang jadi repot". tanyaku heran,
" Kata ayah mereka yang minta disini bertemunya, mereka bilang itu usulan haji faisal, awalnya ayah menolak, dan bilang sama om umar di rumah kakek saja. Tapi mereka ingin disini. dan ayah setuju disini bertemu, tapi ayah tidak akan ikut- ikutan dalam berbicara. makanya ayah tadi hanya diam saja saat mereka berdebat ". jelas ibu.
Aku, putri dan ibu hanya di ruangan samping saja berbicara. Sampai azan magrib mereka masih berdiskusi, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sudah lebih satu jam, belum selesai pembicaraannya.
" Bu.. bagaimana cara mau masuk ke kamar, mau sholat dan mandi, gerah badanku rasanya ". ucapku.
" Sholat di ruangan ini saja Din, nanti kamu mandi.....".
" Pergi saja ke kamar, lewati saja mereka, sudah malas ayah mendengar ocehan kak sam dan sandra ". ucap ayah tiba- tiba sudah berada di ruangan ini.
" Apa tidak akan menganggu yah, aku sebenarnya malas bertemu kak sandra ". ucapku jujur pada ayah. Nanti dia malah menghina aku lagi dekat orang ramai, kan aku malu.
" Tidak apa- apa, bareng ibu saja kedepan, ajak nenek sholat magrib ". ucap ayah.
__ADS_1
" Ayok...". ajak ibu padaku dan putri.
Aku dan putri pun mengikuti ibu kedepan, menuju kekamarku.
" Ibu... ayah.... sholat magrib dulu ". ucap ibu. " Ibuk dan bapak juga magrib dulu pak ". ucap ibu pada tamu itu.
Aku melihat kepada mereka semua. Ada kakek, nenek om umar, mak sam, kak sandra, ada juga dua laki- laki mungkin sebaya om umar dan seorang wanita , mereka juga melihat kearahku. Aku jadi grogi, karena mereka fokus melihat kearahku.
Dan.....mataku tertuju pada kak sandra, pada bagian perutnya. Aku tertegun sesaat, Kok perutnya sudah besar begitu!?. kan nikah sama bang Rizal baru dua bulan, lebih beberapa hari. Aku ingat tanggal pernikahan mereka karena pas tanggal aku kecelakaan dan masuk rumah sakit dan operasi kepala.
" Dini...... kamu itu..... ".
" Masuk kamarmu Dini ! ". potong om umar sebelum kak sandra menyambung perkataanya. Kak sandra berteriak kencang tadi, membuatku terkejut.
Aku langsung saja masuk kekamarku, kututup saja pintuku pelan. Tidak peduli mereka semua melihat fokus padaku, aku tidak mengenal mereka, buat apa aku malu pikirku.
Aku mau mandi dan sholat magrib, karena badanku gerah rasanya. Saat akan masuk kamar mandi kamarku diketok dea kali dan langsung dibuka dari luar.
" Boleh aku sholat magrib di kamarmu kan?, aku sudah izin dengan ayah kamu ". ucapnya, padahal dia sudah masuk ke kamar dan menutup pintu. buat apa minta izin kalau sudah didalam kamar!.
" Oo... silahkan bu, berwudhu saja dulu, aku mau mandi, nanti lama menunggunya ". ucapku menyilakan terlebih dahulu, dan menjauh dari kamar mandi.
" ok.. baik... terima kasih..". ucapnya menuju kamar mandi.
Aku mengelar sajadah dan keletakkan mukena, agar dia bisa sholat langsung tanpa menanyakan arah kiblat. Kubawa saja baju ganti ku ke kamar mandi.
Setelah dia keluar aku langsung masuk kamar mandi. Mandi kilat karena takut lewat untuk sholat magib. Saat aku keluar kamar mandi aku melihat ibu itu sudah selesai, aku hanya diam saja dan langsung sholat saja.
Selesai sholat pun aku tidak ada niat untuk basa basi dengannya. karena aku tidak mengenalnya.
Aku memakai jelbab instanku, dan berniat untuk keluar kamar, tapi ibu itu menahanku.
__ADS_1
" Bisa bicara sebentar ??".ucapnya. Dambil menarikku untuk duduk di kasur. aku mengikuti saja.
" Mau bicara apa bu ?". tanyaku sopan. setelah duduk.
" Namaku Irma ,Aku adalah tantenya Rizal, adik bang Faisal. Aku kesini di suruh bang faisal untuk menyelesaikan masalah Rizal. Sebenarnya ini tidak ada hubungannya sama Nak Dini.. dini kan namamu!?". ucapnya.
Aku hanya mengangguk melihat kearah dia. kalau tidak ada hubungan denganku mengapa menemuiku?. Dan mengapa di rumahku menyelesaikannya ?". pikirku.
Malah mak sam dan kak Sandra akan menjadi tambah tidak suka dengan keluarga kami. Akan terjadi konflik yang lebih besar lagi nantinya.
" Mm ... begini, aku sudah tahu semuanya tentang kamu dan rizal. rizal sudah cerita semuanya dan dia sudah menerima dan iklas. Tapi keluarga sandra mencari rizal, yang katanya sudah menikahi sandra dua bulan lalu, dan sandra sedang hamil.
Tadi ayahmu bilang keluarga kalian terus di tuduh sandra dan ibunya mempengaruhi rizal untuk tidak pulang kerumahnya. padahal semua alasan telah disampaikan rizal padaku.
Tadi kami pun sudah mengatakan yang sebenarnya.
Makanya kami kesini untuk menyelesaikan permasalahannya, dirumah ini, bang faisal yang menyuruh disini. agar tidak lagi sandra dan ibunya menuduh keluarga ini lagi. Dan Mengajak serta keluarga yang terkait agar lekas selesai permasalahan yang dihadapi.
Tapi respon mereka berdua sangat tidak sopan, sangat disayangkan dengan ucapan mereka yang menurutku memalukan. Memalukan diri mereka sendiri di depan orang banyak.
Tidak mau menerima semua alasan yang telah kami terangkan, bahkan semua diangap cerita bohong saja. Pusing juga menghadapi keegoisan sikap mereka, yang seenaknya saja dalam berbicara. Hampir dua jam berbicara tapi putar- putar disana saja, tidak ada keputusan nya.
Disini bisa aku simpulkan, pantas saja rizal kabur, dan pindah kerja ke kota provinsi..."
Aku kaget... baru tahu kalau bang rizal pindah, pantas kak sandra kalang kabut mencari, sehingga aku dan keluargaku dituduh menyuruh bang rizal untuk menghindarinya.
.
.
.
__ADS_1
Like dan komen ya temans 🙏🙏