Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 43.


__ADS_3

Aku terkejut.... bang rizal pindah kerja ke kota provinsi?!. Pantas kak Sandra dan mak Sam kalang kabut mencari bang rizal. Bahkan setelah dua bulan pernikahan mereka, bang rizal tidak pulang dan kak sandra hamil, aku tidak tahu kak sandra hamil berapa bulan.


Kalau yang dikandung kak sandra bukan anak bang rizal jadi anak siapa itu.... pusing juga aku.. ah itu bukan urusanku. kuharap kak sandra tidak mendatamgiku lagi, jangan ganggu aku lagi, jangan pernah rebut lagi sesuatu yang ada padaku. Aku tidak akan mengalah lagi.


" Saat ini rizal sedang fokus bekerja di tempat yang baru ".ucap tante itu. " Dia berharap kamu masih mau menerimanya suatu saat nanti. ".


Aku hanya diam memandang kearahnya, tidak menhawab peryataanya.kami saling pandang dengan fikiran masing- masing. Hingga ketokan di pintu kamarku memecah keheningan antara kami.


" Dini..... keluar dulu nak, ajak tante nya rizal makan malam dulu ". panggil ibu di balik pintu.


" Iya bu... dini kelauar ". ucapku dari dalam.


Sebelum aku mengajak tante bang rizal keluar dia terlebih dahulu memegang tanganku dan menariknya untuk berdiri dari kasurku.


" Ayok....". Ajaknya.


Aku mengikuti saja keluar, karena tidak tahu harus menjawab apa. Sampai di luar aku melihat semua sudah duduk lesehan melingkar menghadapi makan malam. Kulihat sekeliling, Hanya ada nenek, ayah, ibu, putri ,ilham dan dua orang tamu tadi, teman tante irma, tantenya bang rizal. Tidak ada kak sandra dan mak sam, kemana mereka??. ah terserahlah.


Setelah makan malam dan basa basi sejenak, mereka yang utusan keluarga bang rizal itu pamit untuk kembali ke kota provinsi.


" Aku kasihan dengan sandra, kenapa bisa terjerumus seperti itu, apa yang harus dilakukan lagi ". ucap nenek saat duduk selonjoran di ruang makan yang sudah di bersihkan, sekarang duduk sambil menonton tv.


" Aku juga tidak tahu apa yang akan ku lakukan bu, aku sekeluarga selalu diangap musuh oleh kak sam dan keluarganya. Sandra Selalu mencari masalah dengan dini ". ucap ayah.


" Semoga kakek dan umar bisa menyelesaikan semua malam ini, nenek tidak ingin sandra mencari jalan pintas, mudah- mudahan keluarga samsul bisa mencari solusinya ". ucap nenek lagi.


Kami hanya mendengar ayah dan nenek berbicara, tidak mau ikut berbicara. ku simpulkan saja kalau kakek dan om umar kerumah keluarga ayahnya, di kampung sebelah, dekat kampung ibu rumah orang tua ibu.


Jam sembilan kami pergi kekamar masing- masing untuk istirahat, nenek tidur di kamar putri, tinggal ayah dan ibu yang masih mengobrol di luar, di ruang tv.


Semoga kakek dan om umar bisa mencari jalan keluar buat kak sandra. Berharap besok tidak ada lagi drama saling salah lagi dari kak sandra lagi.


Setelah selasai sholat isya yang telat kukerjakan, karena berkumpul tadi. Aku langsung merebahkan badanku, aku memandang langit- langit kamarku, sudah lebih dua bulan aku menepati kamarku dengan suasana baru ini, kamar pengantinku yang tidak jadi.


benar yang dikatakan putri hari itu, pelabuhan sudah menunggu kapal yang selangkah lagi akan merapat, tapi dermaga sebelah yang didatangi dan di singgahi. sedihnya aku.. lebih tepatnya menyedihkan.


ting....


Ada pesan WA di hpku, kulihat dari bang rizal. Aku belum berniat membukanya. besok pagi saja, aku tidak mau tidurku akan terganggu, jika pesan bang rizal nanti membuatku tidak bisa tidur. Aku menepuk keningku, 'jangan halu kamu din, belum tentu dia wa kamu untuk minta balikan'. krik.... krik....

__ADS_1


ting.....


Aku mengabaikannya saja, aku masih menikmati dermagaku yang masih baru. Aku akan menata hariku kedepan tanpa melihat kebelakang, karena aku tidak mau ada masalah lagi antara aku dan kak sandra.


ting.....


dua menit berlalu...


ting.....


lima menit berikutnya


ting.....


ah ... biar saja ..... tidur saja dulu din.... pikirku sendiri.


ting.......


ting.....


zzzzzzzz....


Pagi sekali seperti biasa sebelum subuh aku sudah bangun, rutinitasku masih tidak berubah.


kak sandra πŸ‘©πŸ»:


Aku belum kalah din...


kamu jangan merasa menang dulu..


aku pastikan kamu tidak akan bisa kembali pada rizal...


pernikahanku memang belum bisa di catat di kua, tapi pasti akan segera terdaftar...


Rencana kakek dan paman umar tidak akan bisa merubah segalanya..


Banyak lagi pesan dari kak sandra penuh peringatan dan ancaman. Aku tidak gentar, aku akan melihat kedepan saja, tidak berniat untuk menganggu.


kubuka pesan dari bang rizal..

__ADS_1


Bang Rizal πŸ™:


Din... kamu dudah dengar semuanya kan, kalau dini hamil bukan anakku. tante irma sudah menjelaskan semua padaku, sandra telah mundur kata tante irma dia tidak akan mengangguku dan kamu lagi


Ku harap kita bisa kembali seperti dulu, dua bulan aku jauh darimu. aku merasa sangat kehilangan dirimu Din. aku merindukan mu.


Aku sekarang pindah bekerja ke kota provinsi, awalnya memang ingin menghindar dari sandra, tapi itu buatku galau. ternyata yang ku ucapkan iklas menerima kalau kita berpisah secara baik- baik itu sangat berat untuk dijalani. aku tidak bisa melupakanmu Dini."


Aku tidak berniat membalasnya, baik pesan kak sandra maupun pesan dari bang rizal.


....


Dua bulan berikutnya....


Hari ini aku mulai kuliah, mahasiswa baru di kumpulkan dari siang hari, maka hari pertama kuliah ini aku izin pada mami bos untuk tidak ke toko, dan di izinkan.


Selama dua bulan ini aku tidak tahu kabar dari kak sandra, solusi apa yang didapat, aku juga tidak tahu. Ayahpun tidak pernah membahas tentang kak sandra. Biarlah.. yang penting tidak ada lagi kak sandra mengangguku.


Hari- hariku semakin sibuk, pagi sampai sore bekerja, malamnya dari jam tujuh sampai jam sepuluh masuk kuliah. Tapi aku menikmatinya, banyak teman dan kenalan baru di tempatku menuntut ilmu ini, mulai dari yang muda masih baru bekerja sampai sudah berpengalaman.


Tidak banyak mahasiswa baru kelas karyawan ini, hanya dua kelas, setiap kelas berisi tiga puluh sampai tiga puluh lima orang. Aku dapat kelas B, berisi tiga puluh lima orang . kebanyakan mereka memang sudah bekerja, baik di swasta atau kontrak pemda.


Umurnya pun kebanyakan di bawah tiga puluh tahun di kelas ini, rata- rata dua lima sampai dua tujuh. yang baru lulus smk sepertiku hanya tiga orang. Yang diatas tiga puluh juga ada, tapi di fokuskan di kelas sebelah, karena di kelas itu kebanyakan mereka yang sudah bekerja lama, bahkan ada asn yang ingin menambah golongan, karena sebelumnya baru lulusan sma.


Aku termasuk yang termuda, baru satu tahun lulus smk, dua temanku sadah tiga tahun lulus sma nya, satu temanku bekerja di koperasi perusahaan listrik, dan satu lagi tata usaha di sekolah sekolah dasar islam swasta . Niat mereka sama denganku, ingin menambah ilmu. mana tahu nanti dapat kerja di perusahaan besar atau asn sekalian. harapan terbesar kebanyakan orang, termasuk kami.


Bahkan mami bos mendukung pendidikanku, beliau memberiku waktu istirahat lebih saat makan siang jika aku sedang membuat tugasku, temanku yang lain pun tidak kebetatan kalau aku istirahat lama saat mengerjakan tugas, bahkan mereka juga menyemangatiku dalam menuntut ilmu.


Akupun punya banyak teman, baik laki- laki maupun perempuab, dari yang belum menikah maupun yang sudah menikah. kami saling mendukung dalam belajar dan membuat tugas.


Malam itu baru sampai di rumah, saat ayah menjemputku pulang kuliah ayah menerima telfon dari om umar, katanya kalau kak sandra sudah di bawa ke klinik ***** karena akan melahirkan.


Tapi ayah tidak berniat untuk kesana malam ini.


.


.


.

__ADS_1


like & coment ya temansπŸ™πŸ™


Dukung ottor selalu , dan terima kasih sudah mampir πŸ™πŸ™


__ADS_2