
Selesai Dini mandi Aldi juga mau mandi.
" Dini siapkan bajuku ya, aku mau mandi kita suhuh bersama ". ucapnya sambil masuk kamar mandi.
" Bang.... ini handuknya ". ucap Dini memberikan baju handuk yang mirip dengan baju handuknya, cuma berwarna biru tua.
" Makasih sayang!!". Ucap Aldi masuk kekamar mandi.
Ia terkejut mendengar suaminya itu memanggilnya sayang. Lama dia melamun di dekat pintu kamar mandi, akhirnya dia dikejutkan suara azan subuh dari mesjid.
Dia buru- buru menyiapkan baju untuk suaminya, dan mengelar sajadah seperti yang di ucapkan suaminya kemaren.
Sebelum suaminya keluar kamar mandi Dini merapikan kasur dan bed covernya, lalu dia memasang seprai pengantinnya menutup bed cover tersebut, semalam dia membukanya.
Bang aldi keluar kamar dengan wajah segar karena sudah mandi. Lalu memakai pakaian yang di sediakan Dini, dan memasang sarung untuk sholat subuh berjamaah .
Pagi- pagi mereka keluar dari kamat untuk sarapan bersama. Seperti biasa mereka sarapan nasi, karena sudah biasa makan berat pagi- pagi. Dan pagi ini ibu membuat nasi goreng.
Dini membantu ibu menghidangkannya, dan membuatkan kopi untuk ayah dan suaminya .
karena ibu dan putri sudah memasaknya tadi pagi. Sekarang putri dan ilham sudah memakai seragam sekolah mereka karena ini hari senin.
" Kamu sudah menanyakan pada suamimu, apa dia minum kopi atau teh?!". tanya ibu.
" Belum bu, buat saja dulu, kalau dia tidak minum kopi buat ayah saja dua-duanya ". ucapku sambil menyeduh kopi.
" Ah kamu ini ". ucap ibu.
" Nanti aku tanya, dia minum paginya biasanya apa dan minum apa. tadi aku lupa nanya". jawabku
Kami sarapan bersama pagi ini seperti biasa, lesehan di ruang menonton. Hanya bertambah anggotanya, bang Aldi suamiku.
Selasai sarapan aku dan ibu membereskan semua kembali ke dapur, putri dan ilham sudah berangkat sekolah. Aku... Aku masih libur bekerja seminggu karena menikah kemaren.
Mami mengizinkan ku libur seminggu untuk acara nikah, tapi ternyata setelah menikah kemaren malah mami bos yang menjadi mertuaku, sekarang aku tidak tahu, apakah aku masih bisa tetap bekerja dengan mami, dan apakah bang Aldi mengizinkanku bekerja dan kuliah.
Setelah mengobrol dengan bang Aldi ayah izin berangkat ke sawah sebentar, dan bang aldi pun minta izin pulang kerumahnya.
" Nak aldi, ayah mau melihat sawah sebentar ". izin ayah.
" Iya yah... aku juga mau pulang kerumah mami dulu, apa boleh aku mengajak Dini yah?!". tanya bang aldi pada ayah.
" Dini sekarang tanggung jawabmu, kemanapun kamu bawa ayah tidak akan melarangnya. Tapi saat ini sebaiknya jangan dulu kamu ajak kerumahmu.
Kenapa ayah bilang begitu?!. Mungkin kamu ada yang dibicarakan dengan orang tuamu yang kalau kamu membawa dini akan menghalagi pembicaraan.
Itu pendapat ayah kalau kamu tidak kebetatan". ucap ayah.
" Baik yah, aku pulang sendiri dulu, menjelang sholat zuhur inshaallah aku kembali kesini ". ucap bang Aldi.
__ADS_1
Maka berangkatlah bang Aldi sendiri pulang kerumah orang tuanya dengan ojol yang ku pesan. dan ayah kesawah, tinggal aku dan ibu.
Aku membantu ibu beres- beres di dapur, karena kemaren kerabat yang membantu telah mencuci semua perkakas memasak, dan menarohnya di ruang samping.
Rencananya aku akan mengembalikan semua barang hantaran yang di bawa orang tua bang Rizal kemaren dan juga hantaran setahun yang lalu yang belum aku buka.
Aku mencari kardus besar di gudang, biasanya ayah ada menyimpan. Aku menemukan kardus merek rokok, Aku mengambil dua kardus yang besar itu, lalu membawanya ke kamar.
Aku melihat semua kotak- kotak hantaran yang dua kali dibawa, semua tersusun di lemari sebelah kiri, banyak juga ternyata. Apa muat dua kardus ini menampung kotak- kotak bingkisan hantaran ini.
Tapi aku coba dulu, kalau tidak muat aku ambil lagi nanti kardus di gudang.
Aku sibuk mengeluarkan satu- satu kotak- kotak hantaran itu, semua masih rapi hanya kotaknya saja yang agak kusam, karena sudah setahun. Dan tidak pernah aku pakai.
Dulu aku berniat akan membuka dan memakainya setalah sah jadi istri bang Rizal. Karena semua hantaran itu berupa baju- baju, beberapa buah sepatu, beberapa tas, beberapa baju coupel, beberapa bed cover, beberapa alat make up serta koper make up mini.
Bahkan ada beberapa bingkisan pakaian dalam, baik untuk perempuan juga untuk laki- laki. dan beberapa sepatu laki- laki.
Sedang sibuk mengeluarkan kotak hantaran itu, aku dikejutkan dengan kedatangan bang Aldi.
" Ada apa ini Dini?!. kok di keluarkan semua. Tanya bang aldi duduk di sampingku. "Kado dari siapa ini?!".
" Mau mengembalikan hantaran yang di bawa orang tua bang Rizal saat tunangan bang". jawabku.
" Banyak sekali hantarannya?!". ucap bang Aldi sambil melihat- lihat dan meneliti semua, tanpa memegangnya.
" Dua kali tunangan bang". jawabku.
Aku duduk menghadapnya.
"Setahun yang lalu aku tunangan dengan bang Rizal, dan rencana akan menikah dua bulan berikutnya. Tapi aku kecelakaan saat angkot yang aku tumpangi di tabrak sengaja oleh ayah kak sandra, ayah sepupuku. Aku masuk rumah sakit dan koma beberapa hari.
Dan bang rizal di jebak ayah kak sandra untuk menikah malam itu saat aku di bawa ke rumah sakit provinsi untuk operasi kepala. Kami pun putus, tapi bang rizal tidak pernah pulang ke rumah kak sandra, karena ternyata kak sandra hamil anak orang lain.
Karena keluarga bang rizal tidak mengakui pernikahan tersebut, mereka masih mengharapkan aku untuk jadi menantunya. ayah dan ibu setuju, karena memang tidak terjadi pernikahan yang sah dengan kak sandra.
Maka sebulan yang lalu para orang tua sepakat untuk melaksanakan akad nikah kami. dan... seperti yang abang tahu". ucapku menceritakan semua pada bang Aldi.
Bang Aldi mengangukkan kepalanya tanda mengerti.
"Jadi itu kamu akan mengembalikan semua?. kemana akan di antarkan ?!". tanya bang aldi membantu memasukan kotak itu ke kardus, dan memberi lakban.
" Aku yakin, pasti bang Rizal dan orang tuanya akan datang kemari setelah membaca pesanku kemaren. Aku yakin itu". ucapku
Ternyata tidak muat dua kardus, aku mengambil lagi kardus di gudang.
Bang aldi menolongku mempak semuanya, dan.. aku lupa, cincin tunangan kemaren, dimana aku letakkan. aku menuju meja rias melihat dekat cermin, ternyata masih di sana. Bang aldi melihatnya.
" Bang, bagaimana cara menghapus namaku disini ". ucapku sambil memperlihatkan cincin pada bang Aldi.
__ADS_1
Bang Aldi mengambil cicin itu dari tanganku dan melihatnya. lalu dia meminta paku yang agak besar. Aku mengambilnya ke gudang, aku juga melihat ada obeng dan kertas ampelas.
Aku membawa dan memberikan pada bang Aldi. Bang aldi mengosok cincin bagian dalam dengan obeng agar tulisan nama itu rusak, dan kemudian mengosok dengan kertas ampelas yang dililitkan di ujung obeng .
Berhasil.... aku tidak perduli dengan berkurangnya berat emas cincin itu, yang penting namaku tidak tercetak lagi di sana. Dan kerja bang Aldi rapi tidak meninggalkan goresan yang berarti.
Aku memasukan kedalam kotak perhiasan kecil, dan melakbannya di atas kardus bagian luar dengan lakban bening. Agar mereka melihatnya.
Aku dan bang Aldi membawanya keluar kamar dan menaroknya di antara ruang tamu dan ruang tengah. di belakang kursi tamu.
"Apa ini Din?!" tanya ibu.
"Semua hantaran dari orang Tua bang Rizal bu, aku mau mengembalikan nya". jawabku menyusun di belakang kursi tamu, bang Aldi mengambil lagi kedalam kamar.
"Mau di antar kemana?!". tanya ibu, sama seperti pertanyaan bang Aldi tadi.
"Mereka pasti kemari cepat atau lambat bu, bisa jadi sore ini atau besok ". jawabku. "kalau tidak kita antarkan saja kepada pak Madi di kosan, kan mereka pasti sering kesana". ucapku lagi.
Menjelang zuhur ayah pun pulang. ayah pun bertanya tentang kardus ini. akupun menjelaskannya pada ayah.
Setelah sholat zuhur dan makan siang aku di ajak bang Aldi kerumahnya. Ternyata bang aldi membawa mobil yang dulu pernah mengantarku pulang.
Kata bang aldi mami yang menyuruh ku untuk datang kerumah mami. Dan kamipun pergi di lepas ayah dan ibu, ini pertama kalinya aku ke rumah mami sebagai menantu.
Saat kami baru keluar dari pagar rumah aku melihat ada mobil mendekat kerumah, aku yakin itu mobilnya orang tua bang rizal, karena minggu lalu mereka datang dengan mobil itu.
Aku tadi juga sudah berpesan pada ayah kalau mereka datang berikan kardus- kardus itu, karena aku tidak berhak lagi.
"Ternyata dugaan ku benar bang ". ucapku pada bang aldi.
"Dugaan apa?!" tanya bang aldi.
"Itu!!". ucapku menunjuk kebekakang.
Bang Aldi memberhentikan mobilnya dan melihat kebelakang.
"Siapa yang datang?!"
"Aku tidak tahu, tapi yang aku tahu itu mobil orang tuanya bang Rizal. Biar ayah saja yang menghadapi mereka ". jawabku
"Oooo..". Ucapnya sambil kembali menjalanka mobilnya.
.
.
.
.
__ADS_1
like dan koment temans ottor 🙏🙏