Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 74.


__ADS_3

Untuk pertam kalinya aku datang kerumah mami bos sebagai menantu. Selama lebih dua tahun aku sebagai karyawan baru tiga kali kerumuah mami, itupun bersama dengan teman bekerja di toko.


Sesampai di rumah mami aku disambut keluarga bang Aldi, ada papi, mami, abang serta istri dan anaknya. Juga ada kakek bang aldi dan beberapa orang, mungkin kerabat atau kakak bang aldi.


Aku hanya kenal dengan abang bang Aldi, karena sering datang ke toko yang di jaga papi untuk mengantikan papi di toko, jika papi sibuk. Pekerjaan nya pun aku tidak tahu, entah punya toko atau bekerja.


" Selamat datang menantu mami yang cantik ". ucap mami mencium kedua pipiku dan memelukku.


" Terima kasih mi!". ucapku


Semua yang laki- laki menyalamiku, dan yang perempuan memelukku dan mencium pipiku. Aku tidak tahu kalau di sambut dengan hangat seperti ini.


Mami mengajak ku terus kedalam di batasi dinding diruang tengah seperti ruang keluarga, ruangan itu besar dan memuat dua set sofa ukuran jumbo, di depan terpajang televisi besar. di depan, kiri dan kanan tersusun rapi kursi sofa jumbo.


Kami semua duduk disana, dan aku duduk dekat mami, sedangkan suamiku bang aldi duduk di sofa singel sebelah kiriku.


" Dini... tadi Aldi datang sendiri kemari, mami sama papi marah, kenapa tidak mengajak kamu kemari. teryata kata Aldi kamu dan keluargamu memberi kesempatan untuk kami berbicara.


Tapi kami ingin juga kamu ikut mendengar pembicaraan ini, karena ini menyangkut kalian berdua ". Ucap mami. " Makanya mami minta jemput kamu tadi ".


Aku dan bang Aldi saling pandang. Apa gerangan yang akan di bicaraka. Aku agak was-was, karena masih agak sensitif dengan pembicaraan keluarga.


Apalagi pernikahan kemaren kan dadakan, istilahnya bang Aldi mengantikan pengantin pria yang tidak datang dan membatalkan pernikahan. Apakah.....


" Sebenarnya mami minta jemput kamu hanya untuk berkunjung saja, mungkin kamu bosan di rumah. Tidak ada apa-apa kok". ucap mami sanbil mengusap punggungku dambil tersenyum.


" Dini, Kami sekeluarga berencana mengadakan pesta untuk pernikahan kalian. Kemaren kan baru akad nikah, dan hanya dihadiri sebagian kekuarga saja" .ucap papi.


" Iya Dini. tentang surat dan berkas pernikahan kalian sudah ada di tangan pak penghulu yang menikahkan kalian kemaren.


Beliau sudah memasukan data pernikahan ke kantor urusan agama tadi pagi, mudah- mudahan selesai minggu ini, karena berkasnya baru masuk pagi ini.


Maka mami merencanakan untuk pesta pernikahan kalian dua minggu lagi, kami ingin memperkenalkan menantu kami kepada kerabat dan semua baik teman Aldi, mami dan juga papi, seperti kami ucapkan kemaren pada keluargamu". Tambah mami.


" Kakek juga ingin memperkenal kan cucu menantu kakek kepada kerabat kakek yang ada di kampung. Nanti Setelah acara disini kita mengadakan selamatan di kampung ayahnya suami kamu". ucap kakek.


Aku tidak tahu dimana kampung ayah bang Aldi. kalau mami memang orang sini. Berarti kakek ini ayah dari papi pikirku. terus orang tua mami di mana rumahnya?.


Aku hanya tersenyum saja mendengar cerita mereka. Karena tidak tahu apa yang akan kujawab. Disana selain kake,ayah dan ibu bang Aldi juga ada abangnya bang aldi dan salah satu dari perempuan disini adahah istrinya. Dan yang satu lagi aku tidak tahu.

__ADS_1


" Kamu ada usul untuk tema pesta pernikakan nanti?". tanya mami.


" Ah.. tidak usah mi, mm..natural saja seperti acara pernikahan biasa ". ucapku gugup.


Aku memandang bang Aldi yang terus mamandang kearahku saja, tanpa ada bicara. Kesal rasanya, tidak ada niat bantu bicara. Hanya memandang saja.


Aku yang dari tadi canggung berada di depan keluarga bang aldi hanya banyak diam dan tersenyum saja. Senyum... mengangguk... senyum.... mengangguk.


" Sebaiknya kita siap- siap sholat,mau masuk magrib ini!". ingat kakek bang aldi.


" iya... sebentar lagi azan ". ucap abang bang aldi sambil melihat jam di pergelangan tanggannya.


" Al... ajak istrimj ke kamarmu untuk berwudhu, kita bagrib bersama. Mukena buat dini ada tadi mami taro di dekat meja kerja kamu". ucap mami.


" Baik mi... ". ucap bang aldi. " Ayo Dini". ajaknya.


Aku mengikuti bang Aldi menuju arah samping, ternyata kamar bang aldi ada di lantai bawah. Syukurlah tidak perlu capek naik tangga.


Aku melihat kamar bang aldi, ternyata tepat dekat dengan garase samping. karena rumah mami punya dua gerbang, dan garase mobilnya ada dua, yang dekat kamar bang aldi kecil garasenya.


Mungkin dulu mami membeli dua kavling tanah perumahan, atau memang mami membeli tanah ini luas. entahlah


" Kamu berwudhu dulu, disana kamar mandinya". tunjuk bang aldi.


Aku masuk ke kamar mandi ternyata kamar mandi nya bagus, luas dan.... pakai bathtubnya. Seperti kamar mandi di iklan televisi dan foto kamar mandi di media sosial.


kalau begini mah aku betah di kamar mandi lama- lama, aku menghayal sambil berkaca di kaca besar depan meja wastafel sambil senyum- senyum.


" Dini... sudah belum, hampir magrib!". teriak bang aldi dari luar.


" Iya sebentar ". ucapku terkejut, karena terlalu lama berkaca.


Buru buru aku menbuka beberapa pentul hijabku untuk berwudhu. setelah berwudhu aku hanya menutup rambutku dengan hijab.


Saat keluar dari kamar mandi ternyata bang Aldi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, aku terkejut.


" Kok lama di dalam kamar mandi? tidur kamu ya?!". tanya bang Aldi melihatku yang menutup asal kepalaku dengan hijab.


" Iya... nyaman didalam, enak lama- lama di dalam". ucapku jujur.

__ADS_1


Bang Aldi melihatku heran sambil menaikan alis matanya sebelah.


" Apa!?". tanyaku. Dia menggeleng sambil masuk ke kamar mandi.


Aku melihat dimana mukena yang kata mami letakkan, kamar bang Aldi rapi dan luas, satengah kearah pintu adalah ruangan luas yang sepertinya ruang tempat bekerjanya, karena ada satu meja luas mengarah ke jenjela.


Juga ada lemari dan rak buku , Dan juga ada meja berpengaris banyak. Bang aldi kan katanya kerjanya merancang rumah dan bangunan.


Dan terus kedalam terdapat tempat tidur besar tapi aku tidak melihat lemari pakaian, hanya ada sebuah kursi sofa di arah kaki tempat tidur yang bersandar ke dinding.


dimanamukena yang mami bilang tadi? kulihat dimeja yang ada di kamar ini tidak ada. Apa aku melewatkannya, pikirku.


" Cari apa??". tanya bang Aldi saat baru keluar dari kamar mandi.


" Itu, kata mami ada mukena di atas meja kerja abang, tapi aku tidak melihatnya". ucapku.


" Oooo... aku pindah ke ruang ganti ". ucapnya menuju cermin besar di samping sofa, dan membukanya.


Hah.... aku kira itu cuma cermin saja, ternyata sebuah pintu di lapisi cermin berbingkai hitam.


Aku mengiringi bang aldi masuk. Waw... ternyata disini lemari pakaiannya. dalam ruangan yang tidak sebesar kamar mandi terdapat lemari pakaian berpintu kaca di kiri kanan ruangan ini.


" Itu, aku taroh di lemari sebelah kiri pintu nomor dua, mami ada membelikan beberapa pasang baju dan kebutuhanmu, itu lemarimu yang sebelah kiri ". ucap bang Aldi.


Hah... kok ... memangnya aku akan di bawa tinggal disini, kan kalau di adat minang suami yang ikut tinggal kerumah istri, selama mereka mau. Atau sampai mereka bisa membeli rumah.


Bahkan jika mereka merantau setiap pulang kampung pulangnya kerumah istri terlebih dahulu.


.


.


.


.


Like & koment ya temans ottor


Terima kasih sudah mampir 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2