Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 113


__ADS_3

Samsul pov


Aku tidak tahu kemana akan kabur. Melihat suaminya dini tidak bergerak, saat aku memukul kepalanya dengan batu, yang ku ambil di pinggir jalan.


Aku panik. aku tidak mau lagi berurusan dengan polisi, aku kapok. sudah dua kali ditahan polisi karena masih menganggu ketenangan dini, sepupu anakku.


Sebenarnya aku tidak mau lagi menganggu dini, tapi mendengar rengekkan anakku yang mengiginkan suaminya dini. aku yang pusing melihat anakku yang belum juga menikah, menjadi nekat saat mengikuti keinginannya. semoga dengan menikah anakku akan hidup tenang.


Aku tahu, anakku punya penyakit, yang aku tidak tahu namanya. Suka menganggu orang yang sedang bahagia, dan senang melihat orang terpuruk.


Bahkan saat masih sekolah menengah pertama, anakku sering menganggu temannya hingga temannya itu luka atau cedera.


Aku menutupi penyakit anakku dari keluarga. Dengan resoko akan mengikuti semua keinginannya. kalau aku tidak mengikutinya, dia akan mengamuk dan berteriak- teriak, seperti orang stres. Bahkan melukai diri sendiri.


Aku tahu, semua keinginan anakku itu sangat tidak mungkin di lakukan.


Padahal dalam hati kecilku aku meragukan permintaan anakku kali ini, apa bisa menjadikan suaminya dini itu menjadi suami anakku.


sebab aku melihat suami dan mertua dini orang yang baik. apalagi waktu itu karena perbuatan kami dini tidak jadi menikah dengan tunangannya. hingga keluarga mertuanya itu mengantikan anaknya menjadi suami dini. mereka sangat menyayangi dini.


sangat tipis harapanku untuk bisa memenuhi permintaan anakku ini. Dan juga ancaman dari mertuaku yang tidak mau kami menganggu Dini lagi.


Tapi, sepulang dari rumah husein malam itu, saat mertuaku menyuruh suaminya dini untuk duluan pulang, anakku berteriak memanggil suaminya dini. Yang tidak kami sadari, kami tidak mengetahui nama suami dini. bodohnya.


Sesampai dirumah anakku melukai tubuhnya, dia mencubiti kulitnya hungga memerah, menarik- narik rambutnya hingga rontok. Drngan setengah panik aku meng iyakan permintaanya itu.


Padahal mertuaku mengancam kami agar jangan menganggu dini lagi, tidak akan ada peluang untuk itu. Mertuaku mengusulkan untuk mencarikan suami untuk anakku. agar anakku tidak lagi mengingin kan apa yang ada pada dini.


Bukan tidak mencarikan, bahkan waktu tunangan dini membatalkan pernikahannya dengan anakku, aku sudah mencarikan calon suami untuk anakku. memang bukan orang kaya, tapi dia punya keramba.


Awalnya anakku mau, makanya aku membawanya tinggal di kampung tepian danau dekat kerambaku berada. tapi saat bertemu, malah dia kabur, tidak tahu alasannya.


Aku juga kasihan dengan istriku, mengasuh cucu yang tidak tahu siapa ayahnya. tapi hanya itu hiburan untuknya dirumah. pernah buka warung kecil-kecilan untuk kesibukannya, tapi hanya bertahan sebentar, karena tetangga tidak ada yang berbelanja. mungkin karena nama keluargaku sudah tercoreng.


Siang itu aku yang kabur berada di kampung salah satu anak buahku, dan tingga di rumah salah satu kerabatnya. di kabupaten sebelah, yang berjarak dua jam lebih berkendara. Aku membawa mobilku dan beberapa pakaian.


Hampir seminggu aku kabur, dan aku bekerja membawa penumpang atau hasil kebun di kampung tempatku kabur, hanya itu penghasilanku. untung aku membawa mobil.


Aku sedang melihat pekerja yang sedang menyuling minyak nilam. Setelah aku membawa hasil kebun ke pasar tradisional atau ke tempat pengepul.

__ADS_1


Ya aku berada di kampung yang banyak petaninya menanam pohon nilam. dan menjualnya ke tempat penyulingan ini.


Tiba-tiba aku didatangi oleh beberapa orang, katanya ada yang ingin bertemu. Aku curiga. apakah polisi yang sedang mencariku?. apa suaminya dini sangat parah cederanya?!. aku panik.


Tapi orang itu mengatakan ada yang ingin bicara. Tidak perlu takut. Aku mengiring mereka menuju tempat yang agak tinggi, sebuah bukit kecil yang dapat memandang perkebunan.


"Kamu yang mencelakai anakku!". ucap orang yang sedang membelakangiku. memandang hamparan kebun pohon nilam.


Aku terjejut, apa mertuanya dini yang datang. Kenapa mereka bisa tau kalau aku disini. Apa mereka akan menyeretku ke kantor polisi.


"Aku tidak terima dengan perbuatanmu yang mencelakai anakku!". ucapnya berbalik, menghadap kearahku. dan mendekat.


Bugh...


Tinjunya memukul perutku, aku meringis. Ternyata tua tidak membuat tenaganya lemah.


"Aku tidak ingin lagi kamu menganggu menantuku dan keluarganya lagi!".


Bugh..


sekali lagi dia memukul perutku.


Aku meringis kesalitan.Sebebarnya aku bisa saja membalasnya, tapi aku tahu aku yang salah. sudah menganggu dini, menantunya dan nencelakai abaknya. Aku yakin kalau aku melawan, anak buahnya akan mengeroyokku.


Bugh...


"Berulang-ulang kamu lakukan!".


Bugh...


"Dari dulu sampai sekarang, juga pernah mencelakainya. hingga kritis!".


Bugh....


"Sekarang... anakku juga kamu celakai!!".


Bugh....


Aku terkapar di tanah, manahan sakit akibat di tinju dan di tendang mertuanya dini. Aku tidak berdaya.

__ADS_1


"Aku minta maaf. aku melakukan karena aku ingin anakku juga bahagia seperti dini". ucapku pelan.


karena tidak sangup menahan sakit akibat pukulan.


"Demi melihat anakmu bahagia, kamu mencelakai orang yang tidak bersalah, dan tidak tahu apa-apa. Bagaimana jika itu akan terjadi dengan anakmu. apa kamu akan sangub sabar bertahan seperti menantu dan besanku!". ucapnya.


Aku hanya mengelang, karena aku tahu. aku tidak sesabar husein. dan anakku tidak setangguh dini.


"Aku hanya ingin kamu tidak lagi menganggu menantuku. Aku bisa saja membuat keluargamu malu dan terpecah belah. tapi aku masih punya hati. karena kamu masih kerabat dekat menantuku". ucapnya dambil duduk ditanah, dekatku terduduk siap di pukulnya.


"Aku tahu, kamu sangat menyayangi putrimu. tapi kamu jangan lupa, husein juga menyayangi putrinya. begitu juga denganku. Aku sangat menyayangi menantuku.


Tidak akan ku izinkan siapapun menganggunya, apalagi sampai mencelakainya.". ucapnya melihat kearah lembah, yang penuh tanaman nilam.


"Semoga kamu paham!!". tambahnya.


Aku menarik nafas panjang, dan melepaskanya pelan.


"Aku tahu, perbuatanku ini salah. tapi anakku itu mempunyai penyakit suka mencelakai badan dan tubuhnya.


jika kami tidak menurutinya dia....."


Aku menceritakan keluhanku pada besan si husein.


Ternyata dia sangat baik. Dia mau mendengar keluhanku, dan memberi solusi yang tidak terfikirkan olehku.


Agar sandra di ajak konsultasi ke psikiater, untuk berobat dan tahu apa yang harus di lakukan kedepan.


Jika tidak, anakku sampai nanti akan seperti itu sifatnya. akan selalu menganggu dini, atau bahkan orang lain. yang dapat menyeret keluargaku lebih parah. jika sandra sampai menganggu orang yang lebih berkuasa.


Dengan kebaikannya, dia tidak akan menuntutku. asal jangan lagi membuat masalah dengan dini dan keluarganya lagi. Karena dia juga mengangabku keluarga. Keluarga besar Dini, menantunya.


Aku di ajaknya kembali kekota tempat tinggal kami. dan menyuruh ku untuk mencari anakku. agar bisa mengobati penyakit anakku itu.


Mobil kami beriringan kembali kekota. dengan senang hati aku mengikuti mereka. Aku berjanji tidak akan menganggu Husein dan keluarganya lagi. Karena aku menyadari, membuat masalah dengan saudara sendiri menjadikan dunia kita sempit. dan perasaan tidak nyaman.


Samsul pov End...


Sementara ayahnya yang sudah menyadari kesalahan dan kekeliruannya. Sandra malah nyaman saja jauh dari orang tua dan anaknya. bahkan menjalani kehidupan yang bebas.

__ADS_1


.


.


__ADS_2