
Aku mengambil anak kursi tamu dan melemparnya pada ayah kak sandra, dia tidk sempat menghindar, karena tidak memperhatikanku.
" Sabar Dini... sabar...". ucap tante Irma memegang tanganku. tapi aku masih belum puas, dan melepas tangan tante irma yang memegang tanganku.
"Brengsek kamu.... dendam apalagi yang kamu pendam ... " . ucapku sambil mendekati ayah kak sandra yang di tolong om umar untuk duduk.
Ku tendang pinggang nya yang sedang berusaha berdiri, sehingga terjungkal kembali dan jatuh dibawah meja tamu, kembali ku tendang punggungnya dengan emosi dan seperti kesetanan, tanpa henti. Vas bungga kaca yang ada di atas meja ku lempar kejepalanya.
Semua berusaha menahanku tapi aku makin menggila, bahkan kaca meja tamu ikut jadi amukan tendangan kakiku. Kakiku yang sudah hampir dua tahun tidak pernah kugunakan untuk latihan tae kwon do, kakiku yang dulu rajin joging, berbuka hari ini melepaskan semua tendangan dengan puas,lepas tanpa ragu- ragu lawan akan cedera. Memang itu yang aku mau.
Pecah.... semua yang ada di atas meja jatuh betantakan, Aku selama ini diam dan bersabar menghadapi mereka, bukan berarti menerima saja.
Hingga akhirnya om Umar segera memeluk kuat badanku agar tidak lagi mengamuk, menendang ayah kak sandra.
" Sabar Din... Sabar... ". ucap om umar masih erat memelukku. karena masih berusaha untuk lepas, kulihat kepala ayah kak sandra berdarah dan dia susah untuk duduk, dan di bantu kakek.
Tapi aku belum puas memukulnya, masih sakit hatiku melihatnya.
Dan aku di dudukan dekat om umar sambil terus di pegang, agar tidak bergerak untuk menyerang ayah kak sandra lagi.
__ADS_1
" Sudah puas kamu samsul...". ucap kakek. " Tadi pagi kamu menyuruh anak buahmu mengeroyok si madi,hingga madi kritis. sore ini pada Husein, apa lagi rencana kamu setelah ini. aku malu punya menantu seperti kamu, yang tidak punya hati, selalu menghubung- hubungkan yang tidak ada.
Kamu tahu. gara- gara kamu mencelakai dini , dia tidak jadi menikah dengan rizal, malah kamu jebak rizal untuk menikahi sandra yang sedang hamil. Dini dan Rizal suda lepas hibungan pertunangan mereka, tapi kamu masih meneror dia dan keluarganya.
Harusnya kamu lebih tahu diri dengan kejadian yang menimpamu, Sandra hamil bukan karena dini, tapi pergaulannya terlalu bebas. tapi kamu apa.... dasar egois, keras kelala. sekarang aku lepas tangan dengan keluargamu. urus sendiri anak dan istrimu. karena mereka tanggung jaeabmu....". ucap kakek tegas, tapi bernada sedih. sedih mendapati perangai menantu yang tidak punya hati.
Ruangan tamu ini sangat kacau, berantakan, pecahan kaca di mana- mana, kalau saja kakiku tidak pakai sepatu pasti sudah kena kaca kakiku. Aku tadi belum sempat membuka sepatu tante irma sudah menyuruhku masuk dan duduk di anak kursi tamu, kursi yang kulempar ke kepala ayahnya kak sandra.
Ayah bang rizal dan tante irma hanya diam. saling pandang, mungkin terkejut melihatku mengamuk tadi, bar- bar seperti orang tawuran. Kulihat putri juga menangis di sudut ruangan televisi.
Aku.... entah mengapa tidak menangis, mungkin karena emosi yang sangat tinggi hingga air mataku tidak mau keluar, malah kaki dan tanganku rasanya bergerak- gerak.
" Jadi... seperti yang sudah kamu ketahui itu samsul, semenjak Dini baru keluar dari rumah sakit, dia tidak ada hubungan apa- apa lagi dengan rizal, semua sudah selesai. Bahkan cincin tunangan mereka juga sudah di buka oleh ibunya rizal sendiri.
Aku suda tidak ingin mendengar kekacauan ini, aku ingin tahu keadaan ayah, hanya ayah yang terbayang- bayang dimataku aku berdiri hendak pergi kerumah sakit, tapi dihadang om umar.
" Dini.... " .
" Aku mau ke tempat ayah om..."..jawabku datar.
__ADS_1
" Om akan antar kamu, putri... kamu ikut.. ". ajak om umar.
"Iya om...". ucap putri berdiri dan berlari menuju kami berdiri.
Aku tidak mau tahu lagi dengan mereka, aku pergi saja keluar menuju mobil om umar, om umar dan putri mengikutiku keluar.
Sesampai di rumah sakit, aku mengikuti om umar, kamar biasa, aku mulai bertanya- tanya dalam hati, mudah- mudahan ayah tidak parah seperti yang aku takutkan.
Om umar membuka lintu salah satu kamar rawat inap, aku dan putri mengikuti om umar masuk. Kulihat ibu sedang duduk membelakangi pintu masuk dan ku arahkan pandanganku ke tempat tidur pasien, ...
" Ayah....." ucapku bersamaan dengan putri. Kulihat keseluruhan tubuh ayah, apakah ada yang kurang ataupun luka.
.
.
.
.
__ADS_1
like & coment ya temans ottor
terimakasih sudah mampir di tulisan ottor iniπͺπͺ