Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 85


__ADS_3

" Tunggu... mau kemana?!" tanya Aldi kepada Dini saat dini akan keluar kamar.


"Mau nembuat minuman dan sarapan". jawab Dini.


"Tidak usah, kamu istirahat saja, nanti kita keluar bersama-sama". Ucap aldi bersandar di kepala tempat tidur sambil membuka hpnya, mungkin melihat pekerjaanya.


Jam masih menunjukan pukul lima pagi. Dini tidak tahu harus mengerjakan apa karena tidak boleh keluar kamar, dini kembali rebahan di samping suaminya.


" Rebahan sebentar, nanti kita keluar setelah agak terang. Sini!".ucap Aldi menarik Dini bersandar di sampingnya.


Dini pun mendekat dan bersandar di samping Suaminya itu, dengan lengan kiri Aldi merangkul bahu dini. Dini melihat kearah ponsel Aldi, melihat apa yang dibuka suaminya itu.


Ternyata suaminya membalas pesan temannya tentang pekerkaannya di provinsi tetangga. Dan Aldi akan kesana dua hari lagi.


" Kamu masih liburkan Din?! Hari rabu temani aku kembali ke provinsi sebelah. Mau peletakan batu pertama di rumah sakit daerah ". ucap aldi melihat kearah dini sambil mencium kening Dini sekilas.


Dini mengnggukkan kepalanya, sambil tersenyum.


" Kamu harus ikut terus ya mendampinggiku setiap aku pergi keluar kota". Ucap Aldi. Dini kembali mengangguk.


"Hmm.. bang bolen nanya tidak?!". Tanya dini kepada aldi bangun dari bersandar pada aldi dan duduk, setelah berapa lama mereka saling pandang.


Aldi meletakan ponselnya di meja samping tempat tidur, dan menghadap kepada Dini yang duduk di atas kasur.


" Boleh. Kamu mau menanyakan apa?!". Ucap Aldi serius menatap Dini.


" Jangan di tatap seperti itulah bang, malu". ucap Dini menutup mukanya.


Aldi tertawa sambil mengacak rambut Dini.


"Iya iya..ok. Kamu mau menanyakan apa". tanya Aldi lagi sambil tersenyum.


Dini ragu untuk mengugkapkannya. tapu dia harus menanyakan dan harus tahu. Harus, biar nanti tidak terjadi kesalah pahaman.


"Hm... Abang ..hm.. kita kan sudah menikah ya bang. Dan abang tahu bagaimana kita bisa menikah kan?. Aku cuma mau tahu saja ya. hm... Apa ada seseorang yang... telah.... tersakiti, atau terkhianati.. karena pernikahan ini.


Aku.... aku jadi tidak enak saja... akan menjadi... menjadi penghalang.


Aku.. cuma mau tahu saja.. apakah abang.... punya pacar.... atau... tunangan mungkin. Aku jadi..."


"Aku tidak punya pacar atau tunangan. Aku tidak pernah punya pacar, dari dulu aku tidak pernah pacaran". potong Aldi melihat kearah Dini.

__ADS_1


Dia tahu arah pembicaraan Istrinya itu. Dia akan menjelaskan semuanya, agar istrinya itu tidak aakn berfikiran yang tidak- tidak.


"Aku adalah suami kamu, semenjak aku mengucapkan ijab Qabul, kamu adalah tanggung jawabku, istriku. Aku tidak pernah punya pacar". Ucap Aldi mengengam tangan istrinya.


"Kamu jangan memikirkan yang akan menganggu pikiran kamu. Ok?!".


Dini menganggukkan kepalanya. Aldi merangkul tubuh istrinya mendekat, lalu mencium kening istrinya lama.


"Kita adalah suami istri. tidak ada paksaan atau terpaksa dalam pernikahan ini". bisik Aldi masih sambil mencium kening dini.


"Terima kasih bang, sudah menjadi suamiku. Abang tahu kan aku hampir stres saat pernikahan hari itu di batalkan sepihak. aku...".


"Itulah jalan jodoh kita, makanya kita menikah atas izin Allah".potong aldi.


Dini memeluk suaminya erat. Aldi membalas pelukan istrinya itu. Lama saling berpelukan. Aldi menjarakkan tubuhnya dari istrinya itu, dan mengecup bibir istrinya sekilas dan saling pandang dengan perasaan dalam.


Entah siapa yang memulai, mereka sudah saling mengecup dengan dan saling mencium dengan lembut Saling menikmati.


Yang semula duduk sekarang telah merebahkan tubuh di atas kasur berguling kesana kemari dengan aldi memimpinnya mencari kenikmatan berciuman panas, dan Dini menikmati perlakuan suaminya menerima dengan berdebar.


Melepaskan ciuman panas mereka Aldi dan Dini menarik nafas terengah- engah, Aldi yang menindih Dini meminta lebih dari ini, nafsu mereka meminta yang lain. Mereka saling tatap penuh gairah.


Dan.... Bismilah...


Aldi memeluk tubuh Dini yang masih sedikit menagis.


"Maaf". Ucap Aldi terus mengecup kening dan ubun-ubun dini dengan penuh cinta sambil mengusap punggung Istrinya itu. "Maaf membuat kamu kesakitan, karena aku tidak sabaran tadi".


"Tidak apa-apa bang". jawab Dini lemah, sambil memeluk tubuh suaminya itu.


"Terima kasih Sayang. Aku cinta dan sayang kamu!". Jawab Aldi mengecup kening Dini lama.


"Kamu istirahat dulu ya, abang mau mandi besar dulu". Ucap Aldi melepaskan pelukan istrinya dan menyelimutinya.


Aldi mandi wajib dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Dia sudah tidak perjaka lagi, perjakanya diberikan kepada istrinya yang sudah mulai dia cintai dan dia sayangi.


Istrinya pun sudah memberikan kegadisannya kepada dirinya, dia yang telah merengut kegadisan istrinya, hingga tangisan dan erangan pertama di dengar oleh aldi.


Saat menyiram tubuhnya dengan air dia merasa perih di punggung dan di bahunya. Di melihat ke kaca di depan meja wastafel dekat nya berdiri, terlihat bekas gigitan di bahu dan beberapa cakaran di punggungnya.Ganas juga istriku ucap Aldi dalam hati sambil tersenyum.


Setelah mandi wajib dan berpakaian rumahan. Aldi membantu mengendong tubuh istrinya kekamar mandi dan meletakannya dalam bathtub yang sudah diisinya dengan air hangat.

__ADS_1


Dini yang kesakitan pada intinya tidak bisa berjalan kekamar mandi, di tambah kakinya yang semalam kram juga membuat dini tidak bisa berjalan. Sebenarnya malu, tapi harus bagaimana lagi. dia tidak bisa bergerak bebas.


"Mau aku bantu memandikannya?!" Tanya Aldi pada istrinya.


"Tidak usah bang, aku mandi sendiri saja". jawab Dini malu, karena polos di depan suaminya.


"Baiklah, kamu berendamlah sebentar, ini kain basahan kamu. nanti kalau sudah selesai panggil saja ya, aku menunggu di luar". ucap Aldi meninggalkan istrinya di kamar mandi.


Dini menganggukkan kepala. Aldi telah meletakan sabun dan shampo di rak dekat bathtub sebelum dia keluar tadi.


Aldi keluar kamar mengambil sarapan pagi buat mereka. Jam masih menunjukan pukul enam. Belum ada yang sarapan di meja makan, tapi sarapan sudah di saipkan olek mak isah dari setelah subuh.


Aldi mengambil satu piring jumbo nasi goreng lengkap dan membuat satu gelas teh untuk dini dan satu gelas kopi untuk dirinya. Lalu membawanya ke kamar.


Saat masuk kekamar dia belum melihat istrinya keluar kamar mandi. Dia pun menganti kain seprai yang kusut dan ada noda malam pertama mereka dengan yang baru. Setelah selesai Aldi juga belum melihat istrinya keluar, diapun mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang.. kamu sudah selesai belum?!". Panggil aldi kepada istrinya.


"Sudah bang, tapi handukku tidak ada, lupa membawanya". jawab Dini dari dalam kamar mandi.


"Sebentar, aku ambilkan". Jawab aldi mengambilkan baju handuk dan handuk di riang ganti.


"Aku masuk saja ya". ucap Aldi sambil masuk saja ke kamar mandi, ternyata Dini masih di dalan bathtub dan memakai kain basahan "Ayo, bilas dulu di shower". ucap Aldi menarik Dini pelan ke shower.


Dini membilas tubuhnya di shower dengan air hangat. Setelah selesai Aldi memberikan baju handuk untuk dini dan memberikan handuk untuk menggulung rambut.


Aldi kembali membopong Dini ke ruang ganti, setelah Dini berganti berpakaian dia membantu mengeringkan dan menyisir rambut dini.


Setelah selesai mereka keluar dari ruang ganti, dini tidak mau di gendong, dia mau berjalan saja. Walaupun pelan Aldi tetap membimbing Dini mesra.


Mereka duduk selonjoran di karpet tebal di tengah ruangan kamar, dan makan sepiring berdua, aldi yang menyuapinnya. Sampai nasi goreng porsi jumbo mereka habiskan berdua.


.


.


.


.


Like dan komennya masih ottor tunggu ya temans.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ya teman 🙏🙏


__ADS_2