Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 39.


__ADS_3

Setelah menutup telfon dari bang rizal dan menangis sampai tengah malam, akhirnya aku tertidur dengan masih terisak, aku melepas semua kesedihanku, agar besok tidak ada lagi tangisan. Aku dan bang rizal sudah menerima takdir yang kami alami ini.


Aku terbangun saat azan subuh, mungkin karena kelelahan jadi aku tertidur. Biasanya aku bangun sebelum azan subuh dan sudah mandi.


Aku bangkit dengan pelan, karena merasa kepalaku pusing, entah apa aku kurang tahu, aku memijit - mijit kepala yang masih botak yang sudah mulai di tumbuhi rambut. gatal, geli, sakit pas lukanya. tapi jariku tetap menekan lembut sekitar luka itu.


Ku paksakan saja untuk kekamar mandi, karena panggilan ke belakang mulai bersuara,untung sudah ada kamar mandi di kamarku, jadi biar pelan jalannya tidak jauh untuk melangkah .


Selesai sholat subuh aku keluar kamar untuk jalan pagi, keliling rumah saja. kulihat putri sudah siap- siap didapur dengan ibu.hari ini putri dan ilham sudah mulai sekolah, aku sebenarnya juga ingin mulai bekerja, tapi belum dapat izin.


Semua berkumpul seperti biasauntuk sarapan, kalau putri dan ilham sekolah selalu sarapan jam enam pagi, sekolah masuk jam tujuh, dan mereka berangkat sekolah setengah tujuh.


" kurang tidur kamu din?!". tanya ayah. " Matamu merah dan bengkak nampak!".


" Habis menangis sepertinya yah". jawab putri sambil memandangku, dan menaik turunkan alisnya.


"Iya yah... telat tidur semalam ". jawabku jujur.


Ayah tidak lagi menanyakan, tetap melanjutkan makan, semua pun hanya fokus makan tanpa bertanya atau melihat kekiri kekanan.


Selesai mengabiskan makanannya putri dan ilham pamit berangkat ke sekolah, tinggal ayah ibu dan aku di meja makan.


" Apa sudah ada rizal menelfon !?"


" Sudah yah, semalam. Dia menyampaikan salam dan minta maaf sama ayah dan ibu".


" Terus bagaimana dengan kamu , ap sudah bicara!?".


" sudah yah.. kami sudah saling melepaskan, tidak ada lagi keterikatan antara aku dan bang rizal , kami akan jadi teman saja, dan dia akan menganggap aku sebagai adiknya saja". jelasku.


" Terus bawaanya kemaren dan cincin tunangannya itu bagaimana?!. kita yang antar atau di jemputnya!?.


" Bang rizal bilang buat aku saja anggap hadiah dari abang sendiri katanya yah ".


Ayah mengangguk-anggukan kepala.


" Yah.... tapi cincin ini aku ingin kembalikan saja , tidak mungkin aku pakai terus, aku takut akan jadi penghalang nantinya". ucapku .


" Ya sebaiknya begitu, ayah akan bicarakan nanti sama haji faisal bagaimana bagusnya ". jawab ayah.


Aku yang hari ini masih istirahat merasa bosan saja di rumah, memang aku dirumah baru beberapa hari, jadi bosan karena biasa sibuk pergi pagi pulang sore.


....


Sudah lebih sebulan semenjak aku kecelakaan dan dioperasi, aku sudah mulai bekerja di toko seminggu ini, Seperti biasa aku akan jadi kasir menjelang mami bos datang. semua temanku bersimpati padaku, karena tidak larut dalam kesedihan.

__ADS_1


Mereka memberiku semangat membuaat Aku merasa beruntung dengan perhatian mereka.


Jualan online ku pun lancar, setiap hari ada saja yang memesan, membuatku sibuk setiap hari. bahkan aku jadi tidak ada waktu untuk melamun.


Bang rizal ada dua atau tiga kali pernah menelfonku , katanya sibuk. Aku tidak tahu dia sibuk apa dan tidak mau tahu.


Aku masih takut, kak sandra masih curiga denganku. Karena bang rizal tidak pernah pulang kerumahnya kata kak sandra. kak sandra pernah menghadang aku saat pulang dari toko untuk menanyakan bang rizal, aku menjawab jujur kalau aku tidak tahu, karena memang tidak tahu tentang bang rizal.


Sebenarnya kasihan juga dengan kak sandra, status menikah walau hanya dibawah tangan, tapi suami tidak pulang kerumah, ayah masih di tahan polisi, karena kudengar ayah kak sandra kena hukuman lima bulan penjara karena kasus tabrak lari dan percobaan pembunuhan .


Selama empat hariku mulai bekerja, kak sandra sering mengutiku, sebab aku ada beberapa kali kulihat dia mengiringiku dari jauh dengan motornya.


Kadang mulai dari depan toko saat menunggu ojol, sampai depan rumah, atau pagi hari saat aku berjalan ke pertigaan menunggu angkot, tapi mengiringi dari jarak jauh saja.


mungkin dia mengira kalau aku masih mendekati bang rizal, aku tidak pernah melihat bang rizal apalagi menemuinya, memang tokoku dekat dengan tempatnya bekerja, tapi aku tidak ada niat untuk melihat atau mancari tahu. Aku sudah tidak mau tahu lagi.


Aku sudah lepas dari ikatan apapun, dan cincin tunangan yang dipakaikan ibu bang rizal sudah dijemput oleh ibunya didampingi abangnya dua hari menjelang aku masuk kerja,hanya cincin yang mau mereka bawa, sama seperti bang rizal katakan, kalau bawaan hari itu anggab saja oleh- oleh dari saudara.


Dan kami sekeluarga sepakat untuk tidak memutus tali silaturrahmi, punya saudara jauh dan keluarga. aku akan melihat kedepan saja lagi, semoga aku dipertemukan seseorang yang mau menerimaku tanpa syarat.


Akupun sudah mendaftar kuliah, dan mulainya kelas awal bulan depan. Aku kuliah di sekolah tinggi


jurusan ekonomi, ikut kelas karyawan yang jam masuknya empat kali seminggu, dan itupun kelas malam. masuk jam tujuh malam sampai jam sepuluh malam. aku akan di antar jemput oleh ayah, jarak kampusnya pun tidak jauh dari rumah, hanya sepuluh menit dari rumah, tidak sejauh pasar tempat ku bekerja.


Aku mendaftar kuliah juga atas rekomendasi dari mami bos, karena ada keponakan suaminya mengajar di sana. maka aku bisa tahu kelas kuliah sambil bekerja. Dan jualan onlineku pun berjalan lancar bekerja sama dengan putri dan ilham, saling membantu.


...


" Assalamualaikum.. "


" Waalaikumussalam..". hanya ibu yang menjawab.


Mak sam hanya memandangku dengan tajam masih sambil menangis, aku tidak tahu apalagi yang salah denganku.


" Dimana rizal.... kamu pasti tahu sekarang rizal dimana... Dini... apa kamu masih belum menerima kalau rizal itu sudah menikahi Sandra... Kamu masih mempengaruhi dia untuk tidak pulang kerumah istrinya..!!". teriak mak sam sambil menunjuk- nunjuk aku.


Ibu hanya mendengar saja melihat, bingung, kulihat ibu tidak tahu mau berbuat apa, aku pun bingung sambil melihat ibu.


" Aku tidak tahu mak, semenjak aku kecelakaan dulu aku tidak pernah bertemu dengan bang Rizal, bahkan sudah beberapa minggu aku bekerja pun tidak pernah lagi melihatnya ". jawabku jujur.


" Jangan bohong kamu... kamu pasti tahu kemana rizal.... berikan alamat orang tua rizal, biar sandra mencari kerumahnya...". ucap mak sam tidak percaya.


" Aku serius mak... aku tidak tahu, aku tidak pernah bertemu bang rizal. Rumah orang tuanya pun aku tidak tahu, aku belum pernah di ajak kesana. dan bang rizal juga tidak pernah mengatakan dimana alamat rumah orang tuanya ". jawabku jujur.


Mak sam masih terus mengomeliku sambil menangis, aku dan ibu hanya diam tidak tahu apa yang harus kulakukan.

__ADS_1


" Aku tidak tahu lagi kemana mencarinya...". hhuhu tangis mak sam.


" Ada apa ini....". tanya ayah yang datang bersama om umar.


" Kak sam mencari nak rizal, dia masih menanyakan pada Dini...". jelas ibu.


" Kak..... dini sudah tidak ada hubungannya dengan rizal lagi, kenapa masih menanyai dini?!". ucap om Umar sambil duduk di kursi tamu dan diikuti ayah.


Mak sam masih terus menangis. kami hanya diam saling pandang. Sudah hampir dua bulan semenjak aku lecelakaan mak sam dan kak sandra tidak pernah kerumah. apalagi kak sandra pernah di usir ayah karena masih menuduhku menyembunyikan bang rizal.


Ibu datang membawa teh panas dan kue bolu ikan, dan menaruhnya di meja. Ayah dan om umar meminumnya.


" Bagaimana bang, apa mereka mau!?" tanya ibu pada ayah.


" Mereka mau kak, jadi aku ambil rumahnya sekalian, biar di jadi kan tempat les oleh fatma ". jawab om umar.


Aku melihat ayah dan om umar rapi pakaiannya, dari mana mereka tadi?. pikirku.


" Ayah dan om umar dari mana !?". tanya ku kepo.


" Melihat tanah dan rumah yang di jual pak hasan, yang berada dekat sma tempat tante fatma mengajar, om umar tertarik membelinya ". jawab ayah.


" Ante fatma yang mengasih tahu, dia tertarik ingin beli, disana tempatnya stategis, dekat sekolah, jadi ante mu lebih banyak murid yang les dengannya, di rumah sekarang tidak bisa menampung banyak murid untuk les privat, hanya tiga atau empat orang saja sekali mengajar ". jelas om umar.


Tangis mak sam makin keras, kami serentak melihat kearahnya.


" huhuhu....... kalian ini... tidak menanyai masalah ku, kaliah sibuk sendiri.. huhhuhu.....". tangis mak sam. "Sandra istrinya, butuh rizal saat ini.. kalian harus cari dia.. harus membawa menantuku pulang, sandra istrinya... menunggu dia . ...huhuhhhu".


" Aku tidak peduli kak, kalau masih menanyakan tentang rizal cari saja ke tempatnya bekerja, kami tidak ada hubungan lagi dengannya...". jawab ayah emosi.


" Ayah dan ibu sangat marah sama kak sam... tidak dihargai sedikitpun oleh anak dan menantu yang menikahkan cucunya tanpa memberi kabar, dan sekarang... ketika yang di akui sebagai menantu tidak pulang baru datang.


Kami sebagai keluarga tidak tahu keponakan dan cucu kami telah menikah ". ucap om umar marah kepada mak sam.


Mak sam masih menagis.


" Sandra hamil...."


.


.


.


like & coment ya temans

__ADS_1


terima kasih sudah mampir 🙏🙏


__ADS_2