
Bang Aldi berdiri dari kursi kerjanya, dan dia mendekat padaku dengan langkah lebar.
Aku takut dia marah, aku bergeser ke sudut sofa. Dia terus mendekat padanku sambil melotot.
"Usil". Ucap Aldi sambil mengelitiki ku. Aku yang tidak tahan geli jadi tertawa, yang semula takut dan was- was jadi tertawa kerana terus digelitiki bangAldi.
"Kamu itu suka bikin kesal ya?!. padahal aku sudah pengen ngopi. Eh malah di bawa". ucapnya terus mengelitiki.
"Hahahahhh.. ampun bang.. haha... ampun... ".
"Tidak ada ampun, sebelum minta maaf..". ucap bang aldi terus mengelitiki.
Aku sampai terduduk kelantai, karena berusaha menghindar. Tapi tenaga bang aldi lebih kuat.
"Hahahhaa... Maaf bang.. maaf... hahaha.... aku kebelet haha.. ". ucapku. Karena tidak tahan geli hingga hampir pipis.
Bang aldi menghentikan gelitikannya, tapi dia tidak melepaskanku, malah mengungkungku yang tertidur telentang di lantai.
Dia berada di atasku, aku deg deg an, jantungku seperti mau keluar dari rongga dadaku melihat bang aldi menatapku tajam.Lalu dia mengecup keningku lama.
Aku memejamkan mataku, saat bang aldi menciumku. Lalu bang aldi melapaskan ciumannya, dan menatapku lembut.
"Isrtriku....". ucapnya tersenyum sambi memperbaiki jelbabku yang berantakan karena berguling tadi dari atas kursi sampai kebawah teetidur di lantai.
Lalu bangkit dari atas tubuhku, tapi tidak tertindih. Mungkin bang aldi mengerti, melihatku takut dan tidak nyaman.
Kami yang baru seminggu menikah dan belum mengerti cara menghadapi pasangan yang baru kami hadapi. kami memang beberapa kali bertemu, tapi tidak begitu saling mengenal.
Dan bersentuhan pun masih takut- takut dan malu- malu. Soal malam pertama???. Ya belumlah. Kepo..
Bang Aldi duduk di sofa sambil meminum kopi yang terletak di meja samping sofa tersebut.
Akupun bangun dan memperbaiki jelbabku yang berantakan. Aku duduk saja di lantai di bawah sofa yang beralas karpet lembut.
Bang Aldi meminum kopinya yang mungkin hangat.
"Sruuupp.. Ah.... segar". Ucapnya menikmati kopi buatan Dini.
"Apa tidak pahit bang?!". tanya Dini melihat Aldi meminum kopi pahitnya.
"Tidak... malah menjadi mata melek, semagat buat kembali bekerja". Jawab Aldi sambil menyeruput kopi kembali.
Lalu dia meletakan kembali ke atas meja, dan mengambil cemilan biskuit dan memakannya sambil duduk santai di sofa.
Dini juga mengambil kacang salut tepung dan memakannya duduk selonjoran dikarpet, bersandar di sofa yang diduduki Aldi.
Setelah minum kopinya Aldi kembali berjalan ke meja kerjanya. Dia kembali mengacak jelbab Dini sambil lewat sambil tersenyum.
"Abang.... berantakan lagi ni..". ucap Dini melihat kesal kearah Aldi.
"Buka saja jelbabnya, kalau kamu bosan kamu bisa tiduran,atau kamu bisa membaca buku atau novel. Itu ada di rak buku, yang lemari berpintu. Banyak bacaan di sana". Tunjuk Aldi kearah rak buku di dinding depan seberang meja kerja bang Aldi.
__ADS_1
"Baik bang". ucap dini, mengiringi Aldi menuju meja kerjanya Aldi.
"Kenapa mengikuti aku?!". tanya Aldi berbalik.
"Tidak.. Aku kan mau mengambil sesuatu untuk bacaan, kan kata abang ada buku bacaan di sana". ucap Dini.
"Ooo ..". ucap Aldi berjalan kembali kemejanya.
Dini yang berjalan di belakang Aldi mengangkat tangannya seperti mau menjitak kepala Aldi.
"Aku lihat ". Ucap Aldi tanpa melihat ke Dini yang berjalan di belakangnya.
ups... dini menarik tangannya dan menaronya kebelakang punggungnya, sambil senyum saja.
Sebelum kembali ke sofa untuk membaca, terlebih dahulu dini kekamar mandi untuk buang air kecil.
Dini membaca novel yang diambilnya dari lemari buku Aldi.
Dia tiduran di atas sofa sambil membaca novel. Dia menikmati bacaanya dengan ngemil cantik, dan....
Krak..... krukk ... krak..... krukkkkk...
Dini memakan kerupuk ubinya, sambil tiduran. Kakinya malah sudah nyaman keduanya berada di sandaran kursi sofa. Kepalanya pun sudah tidak memakai jelbab lagi.
Krak... krukk... krukkk ... krak....
Dini mencari- cari kerupuknya yang dia letakkan di atas karpet, lho kok tidak ada berusaha mencari- carinya dengan mengapai- gapai masih terus membaca.
"Mencari ini?!". tanya Aldi sambil mengangkat pastik kerupuk yang dini cari- cari tadi.
"Kamu itu tahu tidak? Aku paling tidak suka mendengar suara mengunyah kerupuk saat aku sedang bekerja". Ucap aldi sambil memakan kerupuk yang di makan Dini tadi dengan santai.
Krakk... kruk..... krak..... krukkk....
"Lah.. katanya tidak suka mendengar suara kunyahan kerupuk?!, tapi masih dimakan". Ucap Dini bangun dari rebahan dan sambil duduk disamping Aldi.
"Kalau makan sih tidak. Tapi kalau sedang bekerja atau sedang tiduran, aku tidak suka mendengarnya. Brisik.. bikin kesal". Ucapnya masih makan dan mengunyah kerupuk.
Dini hanya melihat saja pada Aldi. tapi aldi cuek saja, masih terus mengunyah.
"Mau?!". Tanya aldi memberikan plastik kerupuk.
"Sudah habis itu". ucap Dini sambil mengeleng.
"Tolong buang kan bungkusnya". Ucap aldi, masih terus memberikan plastik tersebut.
Dini mengambil plastik tersebut dari tangan Aldi sambil cemberut.
"lapar nih , makan yuk!" ajak Aldi mengajak Dini.
Mereka keluar dari kamar menuju ruang makan. Telalu fokus Aldi bekerja, tidak tahu dengan waktu, hingga jam telah menunjukan pukul setengah dua belas siang.
__ADS_1
Pantas dia merasa lapar, tadi pagi sarapan pukul setengah tujuh dan hanya minum kopi tadi sedikit.
Mereka menuju ruang makan beriringan.
"Mau makan sekarang nak Aldi dan Nak Dini?!. mak siapkan". Ucap mak Isah.
"Biar aku saja mak, mak lanjut saja kerjaan mak". ucap dini.
"Baik nak, lauk sudah ada di meja makan,nak dini tinggal ambil, nasi dan minum saja". Ucap mak isah.
"Terimakasih mak ". ucap Dini tersenyum pada mak isah.
Mak isah membalas senyum Dini.
Dini menyiapkan makan siang untuk Aldi, ada ayam bumbu jahe, gulai ikan pakai kacang panjang dan sayur daun singkong pakai telor khas padang.
Aldi makan dengan ayam bumbu jahe pakai sayur daun singkong. Dini pun sama.
"Makan ikannya din!!". ucap Aldi pada dini.
"Aku tidak suka ikan bang". jawab Dini.
"Hah... kok kita samaan, tidak suka ikan?!". jawab aldi melihat Dini.
"Berarti kalian memang jodoh, tidak sama suka makan ikan, tapi sama suka makan dengan ikan teri". ucap mami yang tiba- tiba datang.
Kami sama-sama tersenyum, nyengir saja.
"Ayo makan mi, aku ambikan piringnya". ucapku akan berdiri untuk mengambilkan piring.
"Kamu makan saja, biar mak isah membawa kemari". ucap mami. "Mak.. bawakan satu lagi piring nya ya". ucap mami memangil mak isah.
"Baik ". ucap mak isah.
"Kok mami sudah pulang, siapa di toko?!". tanya bang Aldi.
"Mami titip sama nova". ucap mami. "Biar nova juga belajar, kamu pasti akan sering mengajak Dini pergi keluar kota, apalagi proyek kamu di provinsi sebelah ". Tambah mami sambil menerima piring dari mak isah.
"Kan dini juga kuliah mi?!. kapan tamatnya kalau ikut terus". ucap aldi.
"Kan kuliah Dini tidak tiap hari, cuma tiga atau empat kali seminggu. Kalau kalian sering pergi bersama kan mami cepat dapat cucu". ucap mami sambil menyendok nasi.
Aldi dan Dini saling pandang.
.
.
.
.
__ADS_1
Like dan komen nya ottor tunggu ya temans.
Terima kasih sudah mampir 🙏🙏