Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 65


__ADS_3

Di pesta itu aku melihat bang satria dari jauh, teryata dia juga ada, tapi sangat beda penampilannya dari biasa. Seperti pengusaha muda, rapi dan berwibawa.


Aku jadi ragu, apakah bang satria atau bukan. makanya aku tidak begitu memperhatikan lagi, takut aku salah orang. Aku di ajak mami duduk di meja yang telah di sediakan setelah mengambil makanan.


Kami makan bersama dengan beberapa teman mami. mereka bercerita sambil makan, aku hanya jadi pendengar saja.


" Hai Dini... kamu juga ada disini?!". Ucap bang satria.


Tiba- tiba datang bang satria kemaja tempatku dudukku dan mami.


" Oh. hai bang, iya aku menemani mami kesini". jawabku.


" Oh..".


Kemudian bang satria menyalami mami dan ibu- ibu yang satu meha dengan kami, ada tiga orang ibu- ibu. Jadi kami berlima di meja tersebut.


" Eh .. kamu kan Anaknya pak haji Salman bukan?!". ucap salah satu ibu di meja kami duduki.


" Iya bu, namaku Satria". Jawabnya.


" Oh , pantas keren ". ucap ibu yang lain.


" Terima kasih bu ". jawab bang satria tersenyum ,mungkin karena di bilang keren.


" Maaf ya bu.. bisa aku bawa dini sebentar?!". ucap bang satria kepada nami, dia tahu mami adalah bosku, karena pernah bertemu.


Aku dan mami saling pandang, lalu mami menganggukan kepalanya.


" Boleh, tapi jangan lama- lama ya ". jawab mami.


" Iya bu, sebentar kok". ucap bang satria. " ayo Din ". ajak bang satria.


" Aku ikut bang satria sebentar ya Mi ". ucapku minta izin pada mami.


" Iya.. ". jawab mami.


Aku mengiringi bang satria berjalan keluar ruang acara. Aku di ajak bang satria kearah taman samping ruang acara, dekat kolam renang.alu kami duduk di kursi taman yang di teduhi payung beton berbentuk jamur.


" Bagaimana rencana kamu kemaren Din?!". tanya bang satria daat duduk disana, kami duduk berhadapan. Kok tidak ada kabar, apa kamu masih di ganggu kakakmu itu".


" Tidak bang, cuma ayahnya pernah menelfon ayah, mengatakan kalau aku yang menganggu abang dari dia, malah ayahnya bilang kalau aku yang menjelek- jelekan dia ke abang, terbalikan bang? padahal dia yang menjelekan aku pada abang". jelasku.


" Terus kenapa kamu tidak jadi mengerjainya dengan mengatakan kita pacaran saja". ucap bang satria.


" Aku merasa tidak perlu bang. Pertama aku takut abang juga bisa di jebak untuk menikahinya oleh ayahnya, karena dia sudah tertarik drngan abang. apapun akan dilakukan ayah kak sandra itu demi memenuhi keinginan kak sandra.

__ADS_1


Kedua, aku tidak mau karena menjagaku dari ganguan kak sandra, itu sangat berbahaya dengan hubungan pertunangan abang dengan kak lidia. Bisa gagal menikah seperti kejadianku satahun yang lalu.


Aku tidak mau itu terjadi lagi, cukup aku saja yang merasakan sakit itu". jelasku pada bang satria.


" Mm.. begitu, aku kira kamu mengalah dengan kakakmu itu".


" Tidak bang, bahkan Kami akan menikah akhir bulan ini. tapi tidak diberi tahu saja, pada yang lain sampai tiga hari menjelang hari h nya". jelasku jujur.


Kilihat Bang satria memandangku lekat. Aku tidak tahu apa arti pandangan itu.


" Bang satria..". Panggilku. Dia diam saja melihat kearahku.


" Abang.... Bang satria ". Ucapku sambil memegang tangannya.


" Eh.. iya. Ada apa Dini!?". tanya bang satria sambil mengengam tanganku. Aku menarik tanganku cepat.


" Abang kenapa?! kok lihat aku begitu?!". tanyaku.


" Ah itu... tidak apa- apa, hanya kaget saja, mendengar kamu akan menikah. Hm.. berarti beberapa hari lagi itu ya". ucap bang satria.


" Seminggu lagi bang, minggu depan. Kalau abang ada waktu datang ya bang, aku tidak menyebar undangan, karena hanya keluarga dan kerabat saja yang di undang". ucapku.


" Hm.. ok.. aku pasti datang ". jawabnya.


Setelah bebincang sebentar aku kembali kemeja tempat mami duduk, mereka masih bercerita saay aku datang.


" Sama- sama, terima kadih juga kamu telah menjaga Dini". jawab mami.


Setelah berbasa-basi bang satria pergi dari meja kami duduki.


" Kita foto sama penganten yuk, mumpung tidak terlalu ramai antriannya ". Ucap salah satu ibu- ibu di rombongan kecil ini.


" Ayok...". seru yang lain.


" Ayok Dini!". ajak mami.


Aku sebenarnya menolak berfoto, tapi mami memaksa, katanya untuk kenang- kenangan pestanya anak bapak kua daerah tempat tinggal mami.


Mami cerita, pas sedang antri berfoto. pak kua ini tetangga mami, istrinya teman sekolah mami. Dia mengajakku menghadiri pesta ini karena suami mami sedang keluar kota, tidak bisa menemani mami pergi pesta ini. Dan ibu- ibu yang bersama tadi juga teman sekolahnya.


Oo.. begitu, pikirku.


Benar saja, antriannya cuma tiga grup di depan kami, pas kami salaman mami dan temannya itu aku juga dikenalkan sebagai anaknya.


Foto- foto di isi dengan berbagai pose, senyum dan ekspresi, maklum ibu- ibu gaul.

__ADS_1


Kami pun pulang ke toko, karena masih setengah tiga siang, sebagai buah tangan mami membelikan teman- temanku roti caklat dan kue bolu pisang, kami mampir di toko kue bermerek di kotaku.


Semua senang dibawakan kue, karena jarang sekali membelinya, alasannya karena mahal dan tidak ada ukuran kecilnya.


...


keesokan Harinya minggu sore setelah sholat ashar bang rizal dan keluaganya datang. seperti yang dia kabarkan kemaren, kalau mereka akan datang sore ini. Dan aku izin sama mami bos bekerja hanya sampai ashar, dan mami mengizinkan.


Ini merupakan pertama kalinya aku bertemu dengan bang Rizal setelah hampir setahun tidak bertemu. Dan kami lancar berkomonikasi baru sebulan tetakhir, semenjak aku selesai ujian semester.


Aku deg-deg an , bagaimana wajah bang Rizal setelah lama tak bertemu, kemaren-kemaren tidak ada vidio call, cuma telfonan saja.


Pukul lima kurang mobil masuk pekarangan rumah, kami yang betada di ruang depan melihat mobil tersebut, tapi kulihat bukan mobil ayahnya bang rizal. kok... mobil siapa yang datang?!.


Ayah keluar menyambut, lebih tepatnya melihat dulu, siapa yang datang . Aku dan ibu di dalam saja, bahkan kami pergi keruang tengah.


Saat pintu depan dibuka dan ternyata yang keluar ayah bang Rizal, oo ternyata mereka tidak memakai mobil yang kemaren.


Mereka berbasa- basi sebentar lalu masuk kedalam rumah, sku yang mendengar tadibayah berbicara dengan orang tua bang rizal bertambah deg drg an.


Mereka semua masuk, tapi tidak ada yang duduk di meja tamu, mereka langsung duduk lesehan di ruang tengah. meteka datangber enam orang, aku tahu itu kakanya bang rizal.


Ternyata mereka juga membawa bingkisan, seperti acara lamaran. Semua duduk melingkar, tapi kok bang rizalnya tidak ada. Katanya semalam dia akan datang , karena kangen sekali sama aku.


aku melihat ke arah mereka semua, ada ayah dan ibu bang rizal, seorang laki- laki kutahu itu abang bang rizal, tiga orang perempuan, aku juga yakin ini saudara dan ipar bang rizal. tapi aku tidak tahu yang mana saudaranya dan yang mana iparnya.


Mereka tersenyum melihatku yang yang memandangi mereka, mungkin mereka tahu aku bertanya- tanya, seolah- olah bertanya pada mereka. ' bang Rizalku mans??'


" Rizal..... masuklah !... ini ada yang rindu, mencari- carimu, kangen katanya !". Teriak ayah bang rizal .


Membuat aku malu, mungkin saja mukaku memerah. Malu... ya aku sangat malu.


Tiba- tiba seseorang masuk dengan gagah dan tegap, aku terkejut melihat bang rizal yang jauh berubah, baik wajah maupun penampilannya.


Apakah ini bang Rizalku.....


.


.


.


.


Like dan koment nya ottor tunggu ya temans

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir untuk temans semua 🙏🙏


__ADS_2