Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 37.


__ADS_3

" Dasar palakor kamu Dini..... kamu masih menganggu suami ku !!" teriak kak sandra sambil mendorongku ke dinding.


Aku terdorong sampai punggungku membentur dinding, dan putri dengan cepat mendorong kak sandra kuat,hingga kak sandra terdorong menjauh dari ku.


" Apa- apaan sih kak sandra, kak dini tidak pernah keluar rumah, kak dini masih sakit.. jangan asal tuduh saja...". teriak putri emosi.


Putri memang agak galak dariku, dia memang pendiam tapi kadang galak juga, teman- temannya punya julukan untuk putri ' es krim cabe rawit ' karena putri pendiam tapi kalau ada yang menyingungnya dan dia marah, bisa pedas telingga orang mendengar ocehannya.


Berbeda dengan ku, aku kalau bisa mengalah ya mengalah saja dulu. tapi kalau sudah tidak tahan aku suka mukul saja dari pada bicara.


" Pasti kakakmu mempengaruhi suamiku, bang rizal tidak pernah pulang kerumah. semenjak kami menikah dia tidak pernah menemuiku...


pasti Dini yang melarang untuk pulang...". Teriak kak sandra


" Tanya suami sendirilah...! kenapa tidak pulang ! kenapa tanya sama orang lain ". sewot putri.


Aku hanya diam, karena memang aku tidak tahu, dan tidak mau menanggapinya, bukan urusanku juga.


" Kak sandra itu harus instropeksi diri dong... cara menikah saja sudah salah, siapapun yang menikah dengan cara di paksa dan diancam pasti akan kabur setelah bisa menjauh ". jawab putri lagi.


" Jangan ngeles kamu, kamu tidak tahu apa- apa, pasti keluarga kalian yang menyuruh bang rizal kabur, karena... ".


" Tidak ada kami menyuruh dia untuk kabur....". potong ayah. " Dini tidak pernan bertemu dengan rizal, karena aku tidak mengizinkannya bertemu. aku tahu kalau rizal sudah jadi suami orang.


Kalau rizal tidak datang kerumahmu , jangan kesini kamu mencarinya, karena disini bukan rumah nya ". jawab ayah dengan suara datar dengan mata tajam melihat kak sandra.


"Kamu sebaiknya pulang, disini bukan tempat menumpuk masalah yang telah keluargamu buat. Semenjak ayah kamu melakukan kekerasan kepada Dini, aku kecewa, aku tidak menganggap kalian saudara lagi, kecuali di dalam rumah kakek. silahkan pulang... ". usir ayah, aku lihat ayah masih marah, tapi tidak berbicara keras. suara ayah lambat dan datar, tapi menakutkan mendengarnya.


" Aku akan bilang pada kakek kalau ...".


" Silahkan pulang .....". potong ayah sambil menunjuk pintu rumah.


Kak sandra menghentak kan kakinya sambil melotot , lalu pergi keluar rumah .


Ayah menarik nafas pelan dan melepaskannya kasar. lalu duduk di kursi tamu, kulihat ayah masih memakai baju dari kebun, celana panjang dan kemeja panjang tangan da memakai topi moris.


Putri kebelakang, dan datang membawa minum air putih dengan gelas tangkai besar. dan di letakkan dimeja depan ayah.


" Minum dulu yah..". ucap putri. lalu Kami duduk di kursi tamu panjang di seberang ayah berdua.


Ayah meminumnya.


" Dini.... sebaiknya kamu berbicara dengan Rizal, agar kita tidak lagi di sangkut pautkan dengan permasalahan yang dihadapi samsul dan sandra. Nanti setelah kamu selesai antara kamu dan rizal, baru ayah akan kenelfon haji faisal, biar tidak ada lagi hutang perkataan dan hutang janji". jelas ayah setelah selesai minum.


" Iya yah... rencana ku aku akan menyelesaikan semua dengan bang rizal, tapi aku cuma mau bicara lewat telfon yah, kalau bertemu akan jadi masalah lagi ". jawabku.

__ADS_1


" Lebih Baik begitu, melalui telfon saja. Ayah ambil hp kamu dulu ". ucap ayah sambil berdiri dan menuju kamarnya.


Aku dan putri saling pandang. lalu dia putri memegang tanganku sebelah tangan dan menghadapku.


" Kalau telfonan jangan pakai nangis- nangis ya kak, nanti gagal move on ". ucap putri sambil mencuil daguku tersenyum nakal.


Aku memukul tangannya yang iseng itu. " Suka hati aku lah... kepo.. ". jawabku asal.


Dia tertawa lepas " ingat kak...


suami orang.. jangan jadi pelakor.. nanti di serang istri dan keluarga istrinya, di tabrak pula sekali lagi. ini saja belum sembuh". ucap putri sambil menujuk keningku sambil senyum mengejek. aku menepis tangannya.


" Tau... yang bilang suamiku siapa.. usil kamu put ". lagi aku memukul putri, tapi pahanya yang kupukul keras, hingga dia mengaduh kesakitan. Aku terawa melihatnya.


Kami masih tertawa saat ayah datang membawa hp ku dan memberikannya padaku. "ini... Masih aktif nomormu kok, paketnya juga masih ada, ilham yang mengisikannya ".


Aku menerima hp ku saat ayah memberikan nya padaku.


" Dini... kamu jangan nelfon atau wa rizal duluan. tunggu dia dulu yang menelfon, baru kamu berbicara. selesaikan secara dewasa, jangan pakai emosi.." . jelas ayah yang masih berdiri.


" Dan juga jangan pakai hati.. apalagi perasaan". jawab putri nyengir.


Aku mau memukul paha putri , tapi dia terlebih dahulu berdiri dan kabur sambil tertawa.


Ayah tersenyum saja melihat kami dan juga pergi kebelakang, tidak tau mau apa.


Petama kali ku lihat adalah WA dari bang rizal. bayak panggilannya dan juga pesan. Teryata ayah tidak membuka pesan dari bang rizal.


Dia Menanyakan kabarku dan kesehatanku, menyemangatiku agar lekas sembuh, meceritakan yang terjadi selama ini, curhat dan berkeluh kesah.


Banyak hal yang dia ceritakan, di jebak tentang pernikahan, tentang kak sandra, tentang ayah yang tidak mengizinkan untuk menjegukku, mulai dari masuk rumah sakit sampai sekarang.


Padahal dia sering mampir saat pulang bekerja. tapi tidak di izinkan. Dia juga mengatakan selama aku di rumah sakit dia selalu memantau melalui orang tuanya.


Memang ayah pernah mengatakan kalau orang tua bang rizal setiap hari datang ke rumah sakit, apalagi saat aku koma, ibunya juga bermalam di rumah sakit bersama ibu.


Hanya saat aku sudah di pindah ke kamat rawat hanya datang tiap sore, itu entah mereka tahu bang rizal sudah menikah atau belum. karena ayah tidak memberi tahu mereka, ibupun tidak diberi tahu ayah.


Padahal ayah mendapatkan vidio yang dikirim ayah kak sandra pas saat aku sedang di ruang operasi.


Mungkin ayah kak sandra mengirimkannya saat akan kembali kerumah mereka, dan diberikan oleh orang yang memvidiokan. sebab saat mereka sampai di rumah ayah kak sandra langsung di tangkap polisi.


Sampai sekarang pun masih ditahan, ayah tidak mau tahu dengan proses hukumnya, biar polisi saja yang memberi hukum.


Hingga pesan bang Rizal tertanggal hari minggu yang lalu. Dia mengatakan kalau hari itu dia terakhir bekerja karena akan cuti. karena surat cuti sudah masuk di awal bulan dan sudah di izinkan atasan, karena akan mengadakan pesta pernikahan.

__ADS_1


Teryata bang rizal tetap mengambil cutinya. yang membuat aku terjejut saat membaca pesan dibawahnya.


Dia mengatakan kalau dia akan pindah kerja, kalau tidak dia aka resign saja. karena tidak akan nyaman lagi tinggal di kota ini.


...


Malamya selesai makan malam aku masuk kamar dan tiduran saja dikamar, karena aku masih kepikiran pesan WA bang rizal tadi siang, yang ingin pindah dari kota ini. terus bagaimana dengan pernikahannya dengan kak sandra?.


Tring....


bunyi pesan masuk di hp ku. kulihat dari bang rizal. Kubuka saja.


Bang Rizal 🙍:


Asslamualaikum Dini, maaf menganggu, aku melihat pesan- pesanku sudah terbaca, jadi ku pastikan kamu sudah memegang hpmu, karena ayah bilang beliau menyimpan hp kamu.


makanya aku me Wa kamu.


Apakah aku boleh menelfon kamu, aku ingin bicara banyak dengan kamu.


Aku sedih, marah, kecewa, takut, galau... semua kurasakan campur aduk. rasanya dunia ku sudah berakhir. hanya padamu aku ingin berkeluh kesah. boleh kan din aku menelfonmu?.


Karena untuk bertemu tidak mungkin, karena aku tidak di kotamu lagi, sudah seminggu aku pergi dari sana.. balas ya dini.. aku mau bicara..."


20:07


panjang pesan WA dari bang rizal. Aku menimbang- nimbang untuk membalasnya. kulihat bang rizal masih online.


aku 👧:


Boleh bang


20:25


Balasku setelah sekian menit memikirkan untuk membalas.


Langsung Hp ku berbunyi, panggilan dari bang rizal.


" Hall.....".


" Assalamualaimum dini, terimakasih sudah mau menerima telfon ku, maaf ...". potong bang rizal saat aku mengangkat telfon darinya.


.


.

__ADS_1


.


like & coment ya temans


__ADS_2