Di Tikung Keponakan Ayah

Di Tikung Keponakan Ayah
BAB 50.


__ADS_3

" Hallo ...."


" Kurang ajar kamu Din..... aku tidak terima kamu pukul ayah saya.... saya akan perhitungan dengan mu...."


pengemudi tol mulai ngebut mengas kendaraanya..


Kak sandra mengomel, menghina , mencaci serta mengancamku.


" Kamu berani memukul ayah ku.. aku akan balas padamu.."


" Kak.... kakak itu harus tau akar masalanya terlebih dahulu, baru bicara, Tanya diri sendiri , tanya ayah samsul, kenapa menyalahkan orang lain.. padahal semua kelakuan sendiri yang tidak benar, kalau mau..."


" Jangan sok mengajari aku, kamu itu cuma lulusan smk, tidak punya ilmu, tidak punya adab, ............ kalau kamu masih mengangguku kamu yang akan menyesal, meskipun orang tuanya bang rizal datang kerumah kamu aku pastikan rizal tidak akan bisa kembali dengan kamu...".


Aku meletakan hpku di atas meja dengan speker keras, aku malas mendengar ocehan kak sandra, lebih baik aku melanjutka mengerjakan pekerjaanku, yang sedang membungkus makanan untuk dibawa ke rumaj sakit. Biar dia mengiceh sendiri, kalau capek pasti berhenti sendiri. Pikirku.


" Orang tua bang rizal itu datang kerumah kamu hanya karena ayahmu terluka, mereka hanya berbelasingkawa atas cedera ayah kamu.


Kamu jangan berbesar hati kalau mereka kerumahmu, mereka tidak akan menerimamu untuk menjadikan kamu itu menantu lagi, kamu itu sudah di buang, jangan harap untuk di pungut kembali, kamu....."


" BODO AMAT....!!". Ucapku keras, karena sedang ada di dapur, sementara hp ku terletak di meja dekat rak televisi. Aku memang tidak memikirkan tentang bang rizal saat ini, aku hanya fokus dengan kuliahku yang baru beberapa bulan ku tekuni.


Aku ingin kuliah sunguh-sunguh, tidak memikirkan tentang pernikahan dulu.


" Kamu itu hanya sampah yang tidak berharga, pernikahan kamu yang tidak jadi karena calon suami kabur setelah tunangan akan merendahkan derajatmu sebagai wanita, tidak akan ada seorangpun yang akan mau dengan kamu, karena kamu barang bekas, kamu itu tidak le......"


" Punya anak tanpa suami lebih hina dari pada tidak jadi menikah.." jawabku santai, karena aku masih sibuk hilir mudik antara dapur dan ruang tv.


" Aku sudah menikah dengan bang rizal, pasti surat nikahku akan segera kudapatkan dan akte anakku akan ku urus, tidak akan ada yang akan menghina ku lagi, kamu akan mengigit jari melihatku nenikah ulang dengan bang Rizal ". ucap kak sandra percaya diri.


" Silahkan.... aku tidak peduli... ". Ucapku.


" Hahahahhhhh ...... kamu telah kalah Dini, tunggu saja undangan pesta pernikahan ku dan bang rizal , kamu....."


" Itu tidak akan pernah terjadi, kami sebagai orang tua rizal tidak akan melakukan itu,..."


tiba- tiba ayah dan ibu bang rizal sudah ada di ruangan tv, aku kaget , sejak kapan mereka ada disini !?.


mungkin kak Sandra juga terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba- tiba.

__ADS_1


" Ayah.. ibu..!". ucapku terkejut.


" Kamu jangan pernah lagi menghubungi dini, kamu harus tanya ayahmu, kamu......" . Sambungan telfon langsung dimatikan kak sandra.


Aku tertegun di depan pintu antara dapur dan ruang tengah, melihat ayah dan ibu bang rizal sudah berada di dalam rumah. kapan mereka masuk? kok aku tidak mendengar mereka ya? pikirku.


" Dini..." ucap ibu bang rizal sambil memegang tangganku.


" I.. iiya bu... kapan ibu sampai dan masuk rumah?!. Aku.. aku tidak mendengar ibu dan ayah masuk. Maaf....". ucapku tergagap, takut... malu juga.


" Dari tadi din saat kamu jawab ' bodo amat'. kami sudah mengucapkan salam, mungkin kamu tidak mendengarnya ". jawab ibu bang rizal. aku hanya ber ooo dalam hati.


" Kamu masih sering di telfon sama sandra?". tanya ayah.


" Tidak begitu sering yah... ini sudah lama tidak nelfon, semenjak hari itu bertemu ayah cuma tiga kali dengan yang tadi ". jawabku jujur " Tapi aku tidak pernah menanggapinya , malas ".


" Ayah mendengar semua yang dia ucapkan tadi, Ayah kaget dia bicara seperti itu, padahal waktu itu sudah dibicarakan, meskipun dia tidak ada tanggapanya. tapi dia pasti paham apa yang ayah katakan pada dia dan ibunya, ayah tidak habis fikir dengan mereka, ayahnya saja masih belum jelas kasusnya, sudah di tambah lagi dia yang mencari masalah ". ucap ayah bang rizal.


" Ibu juga malas yah, ibu cuma pernah sekali bertemu dengannya, dari cara bicara dia yang suka merendahkan orang itu ibu tidak suka. sangat sombong gaya bicaranya, apalagi yang mengaku akan menikah resmi dengan rizal, bisa mati muda ibu punya menantu seperti dia ". ucap ibu bang rizal juga kesal kedengarannya.


" Memang ibu masih muda, cucu sudah dimana- mana juga ". seloroh ayah bang rizal menggoda istrinya.


" Aamin.... kamu mau kan Dini, untuk balikan sama rizal?!". ucap ayah bang rizal.


Aku hanya diam, tidak ingin menanggapinya, tidak tahu juga harus jawab. Bukan tidak sopan aku masih terus menyiapkan bawaanku untuk ke rumah sakit.


" Kamu mau kerumah sakit ya, ayo ayah antar sekalian ". ucap ayah bang rizal setelah diam sesaat, karena mungkin menunggu jawaban dariku.


" ayah sama ibu mau kemana? nanti dini merepotkan ayah ". jawabku sopan, basa basi lah, sedikit.


" Ayah juga mau kerumah sakit, melihat ayahmu dan si madi, kabarnya dia sudah sadar ". jelas ayah bang rizal. " Ayok... sama- sama saja berangkatnya". Ucapnya sambil berjalan keluar rumah.


" Baik yah ". jawabku , sambil mengambil bawaanku.


" Kompornya sudah di matikan kan Din? pintu belakang jendela juga sudah dikuncikan?! ".


" Sudah bu ".jawabku.


Kamipun berangkat kerumah sakit dengan mobil ayah bang rizal. Ayah bang rizal kemaren memang datang membawa mobil, datang bersama tante irma. Ibunya bang rizal malah duduk du belakang denganku, membiarkan suaminya di depan mengemudi.

__ADS_1


" Bagaimana pekerjaanmu sekarang din? kata ayahmu kamu sekarang kuliah, apa diizinkan bosmu kamu kuliah ". tanya ayah bang rizal , saat mobil sudah berjalan beberapa saat.


" Kerjaku baik- baik yah, bos ku juga mendukung aku untuk kuliah, dia yang merekomendasikan tempat kuliahnya, kelas karyawan, masuknya malam. karena ada keponakan suaminya mengajar di sana ". jelasku.


" Kuliah malam ya, siapa yang antar jemput kamu?!". tanya ibu bang rizal.


" Ayah yang antar jemput, kelasnya empat kali seminggu ". jawabku lagi.


" Coba kalau kamu masih sama rizal, pasti akan lebih aman ". celutuk ibu bang rizal akupun tidak menanggapinya, takut salah.


" Dini.... kamu masih mau kan balik sama rizal, ibu sangat berharap kamu jadi menantu ibu . Rizal sangat susah untuk melupakanmu, ibupun begitu... mau kan dini?? jadi menantu ibu! " ucap ibu bang rizal.


Aku hanya memandang pada ibu bang rizal , wajahnya memelas seperti ingin di kasihani. sebenarnya aku kasihan pada mereka, tapi aku masih dilema dengan semua yang terjadi, kejadian itu tidak mereka yang melakukan, tapi kalau aku masih di dekat mereka masalah akan ada terus, sebab kak sandra pantang menyerah, ingin meraih nya, mengiginkan bang rizal.


Begitu juga dengan ayahnya. mungkin masih ada dendam yang tersisa, masih akan membuat masalah dengan kami.


Sesampai di rumah sakit aku langsung ke kamar rawat ayah, sedangkan ayah dan ibu bang rizal menuju ruang intensif tampat pak madi di rawat.


Waktu masuk kamar ayah aku dikejutkan dengan adanya mak sam dan kak sandr. Mereka melotot memandang kearahku yang baru masuk. aku tidak menyapa mereka, aku masih malas melihat mereka. Aku langsung saja menuju tempat ibu duduk ,dan meletakan bawaanku di bawah meja tempat makan pasien. kulihat ayah sudah duduk bersandar di sandaran kasur.


Karena aku tidak ingin berdebat maka aku menuju pintu teras kamar rawat ayah, untuk duduk di luar saja, diluar juga ada keluarga pasien sekamar ayah.


" Sangat tidak sopan anakmu Sein, kami datang, tidak ada niat untuk menyapa ku dan menanyakan keadaan Sandra..!". ucap mak sam ketus.


Aku memutar kembali badanku menghadap mereka, ku tajamkan pandangan ku pada kak sandra dan mak sam bergantian.


" Bukankah kalian yang tidak ingin kenal lagi denganku....."


.


.


.


.


Like.... like & coment ya temans ottor 🙏🙏


Terimakasih sudah mampir di tulisan ottor ini.... 🙏

__ADS_1


__ADS_2