
" Tidak akan repot kok. sama calon besan kan harus saling membantu, Mana tahu Dini mau kembali menjalin hubungan dengan Rizal, dan segera menikah. kan sudah tidak ada halangan lagi ". ucap ibunya bang rizal.
Aku, ayah, dan ibu saling pandang. Ayah bang rizal pun memandangku seperti juga ingin membenarkan ucapan istrinya. Aku..... terdiam, tidak tahu mau apa.
" Ayok.... apa sudah selesai berberesnya, ayah sudah tidak sabar untuk pulang kerumah, baru semalam meninggalkan rumah serasa merantau setahun ". ucap ayah memecah keterdiamanku.
" Su.. sudah yah.. ". jawabku gugup, gugup selalu di perhatikan ayah dan ibunya bang rizal. Aku kembali melanjutkan menyibukkan membungkus semua yang akan di bawa. putri dan ilham juga membantu.
" Yah... ayah kuat jalan keluar, atau aku pinjam kursi roda ". ucap ilham.
" Jalan saja il... ayah kuat kok jalan ".ucap ayah
Setelah semua beres, kami berjalan beriringan keluar, mengiringi ayah yang berjalan pelan. Ayah di bimbing ibu, aku yang berada di belakang ayah ingin juga membatu membimbing ayah. aku memberikan bawaanku kepada ilham, dan aku membantu membimbing ayah berjalan.
" Ini pasti ada maunya nih... sudah tahu ayah...". ucap ayah saat aku membimbing ayah berjalan.
" Ada yah.... ".
" Minta beliin motor mungkin yah ". potong putri.
" Ah kamu put... tidak seru... sudah ketauan ..." . ucapku pura- pura memelas . " Tapi bukan itu mauku...". ucapku pada putri.
" Apa...". tanya ayah penasaran.
" Aku mau... pulang dan tidur hahah.. ". ucapku sambil tertawa.
" Ah kamu... kirain apa !". jawab ayah.
" Aku mau ayah cepat sampai dirumah, ayah kan sudah kangen rumah. juga kangen kasur kapuk ayah yang keras , Ya kan yah? ". tanyaku sok tahu.
" Iya.. keras sekeras hatimu ". jawab ayah meliriku dengan ujung matanya.
" Bukan hatiku yang keras yah.... tapi gigiku ". ucapku kembali melirik ayah.
" Bukan yah... tapi pukulannya ". ucap putri menyambar. " bikin babak belur ". ucap putri
"Betul itu.... ayah sudah melihatnya" .jawab ayah bang rizal sambil tersenyum.
Aku melotot pada putri, membuat ayah dan putri tertawa, menertawakan aku pastinya.
Aku memonyongkan bibirku menghadap depan, kesal saja rasanya.
__ADS_1
" Mulutnya kenapa bisa begitu ? ". tanya ayah. " Nanti di kira bebek, di jadikan gulai itik nanti ". gurau ayah. Semua tertawa .
Sepanjang jalan ke parkiran diisi dengan candaan yang akirnya menertawakan aku.
Kami di antar pulang dengan mobil ayah bang rizal, ayah bang rizal yang mengemudikan mobil, di sampingnya ayah. di bangku tengah aku, ibu dan ibunya bang rizal, dan aku di tengah- tengah mereka. putri dan ilham di bangku belakang.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam, ayah , ayah bang rizal berbicara didepan, ibu dan ibunya bang rizal juga berbicara, aku yang duduk ditengah hanya diam saja.
Sesampai dirumah teryata para kakek dan para nenek sudah ada dirumah, mereka menyambut kedatangan ayah, dan bersyukur ayah tidak begitu parah. Tapi tetap juga meninggalkan bekas, bekas memar di muka dan badan yang sakit semua.
Para kakek dan para nenek mengajak Ayah dan ibu bang rizal untuk mampir kerumah, aku akan membantu ibu membimbing ayah untuk duduk di ruang tamu. Dan ... mejanya pasti belum ada, karena.......
" Ayah sudah bisa jalan sendiri kok Din... kuat ayah ". ucap ayah yang masih di bimbing ibu kedalam rumah.
" Oh... ok....". jawabku. Akupun membantu putri membawa barang bawaan dari rumah sakit tadi dari dalam mobil ayah bang Rizal.Kami semua masuk membawa kerumah.
Ternyaya ayah duduk selonjoran di ruang menonton, semua juga duduk lesehan.
Setelah meletakan bawaan tadi di sudut ruangan aku menuju dapur bersama putri untuk membuat minuman. Kulihat nenek sedang menyiapkannya.
" Biar aku yang menyiapkan nek, nenek kedapan saja bergabung ". ucapku.
" Baik nek ". jawabku. Akupun mengambil piring makanan yang telah di siapkan nenek. Ada kerupuk ubi, kue bolu,agar- agar dan gorengan. Gorengan ini pasti di beli nenek di persimpangan dekat rumah nenek saat akan kemari tadi. Aku hafal varian gorengannya. ada molen pisang, bakwan, tahu isi, yempe goreng, bola- bola wijen isi kacang padi.
Aku membantu nenek menyiapkan semua hidangan sederhana, dan pasti dadakan karena beli semua.
Semua kembali berkumpul di ruang nonton, bercerita, bercanda, dan ....
" Sein.... bagaimana kalau kita sambung kembali tali yang telah putus hari itu kita sambung kembali, mungkin dengan adanya hal yang mengangu kemaren makin memper erat hubungan mereka ". Ucap ayah bang rizal tiba- tiba.
Ayah memandangku, aku hanya diam tanpa reaksi.
" Kami masih sangat mengharapkan Dini untuk menjadi menantu kami.kami sekeluarga kecewa dengan kejadian kemaren, yang telah membuat Rizal dan Dini berpisah, dan sekarang semua sudah selesai dan sudah bisa kembali seperti semula. Semoga tidak ada lagi halangan bagi mereka untuk bersatu kembali ". tambah ibunya bang rizal.
Ayah, ibu,para kakek danpara nenek saling pandang, bahkan memandang ke arahku. Aku .... tetap masih diam.
" Kami sebagai orang terdekat dini, hanya bisa mendo'akan nya.... seperti keputusan beberapa bulan yang lalu kami menyerahkan semua keputusan pada dini.. sebab dini yang akan menjalaninya ".Ucap kakek orang tua ibu setelah beberapa saat saling pandang dan diam.
" Betul.... kami hanya menyetujui , semua keputusan ada pada dini.. apapun keputusan dini kami hargai". ucap kakek ayahnya ayah bijak.
Semua memandang kepadaku, aku .... tidak tahu harus jawab apa. Aku hanya diam, takut?... ya ..takut akan membuat kecewa mereka. aku ingin tidak ada kemarahan saja, baik dari orang tuaku, ataupun orang bang Rizal.
__ADS_1
Ibu bang rizal mendekatiku yang hanya diam, aku tidak tahu kenapa dia mendekat, apakah beliau akan memaksa? apakah beliau akan memarahiku? Aku tidak tahu. aku memandang saja pada beliau.
Tiba- tiba beliau memeluku, memeluk erat.... dan mengelus- elus punggungku. Aku merasa beliau memang menginginkanku untuk lebih dekat, menjadi bagian dari keluaraganya. Kurasakan nafas beliau cepat, seperti menahan tangis. Aku pun memeluk balik ibu bang rizal.
" Ibu akan menerima semua keputusanmu, ibu akan selalu menganggab kamu anak ibu, anak gadis ibu...". ucap nya setelah melepas pelukannya dariku.
Aku menarik nafas pelan beberapa kali.
" Aku... aku tidak menerima bang rizal kembali dan juga tidak menolaknya ... aku saat ini belum memikirkan tentang apapun.... aku sekarang ingin fokus kuliah saja saat ini.. aku ingin menikmati kuliahku.. itu saja.
Kalau kedepannya memang bang Rizak jodohku, aku akan menerimanya. Apakah dalam setahun... dua tahun.. sudah tamat atau belum tamat kuliah aku akan menerimanya. Sekarang aku belum mau memikirkannya. Maaf .... mungkin aku egois dengan keputusanku ini, aku tidak ingin jawabanku ini membuat kecewa...
Maaf.. " jawabku pelan sambil menunduk, bahkan suaraku mungkin agak bergetar, menahan nafas ku yang terasa sesak. jantungku bergemuruh kencang, aku takut mengemukakan keputusanku yang mungkin akan mengecewakan salah satu pihak, atau kedua belah pihak. Entahlah...
Semua Sama- sama menarik nafas pelan kudengar. Aku tidak berani mengangkat kepalaku, takut melihat wajah- wajah kecewa mereka.
" Kami menerima semua keputusan mu Dini... kami pun tidak keberatan dengan keinginamu itu.. kami menghargainya ". ucap ayah bang rizal.
" Terima kasih ". jawabku
" Hanya satu ibu minta sama kamu Dini...". ucap ibu bang rizal.
Aku melihat ke arah ibu bang yang masih duduk di sampingku, Beliau memegang tanganku. Lalu dia mengambil tasnya yang berada di samping beliau, dan mengambil sesuatu.
Beliau mengambil tangganku dan membuka telapak tanganku, beliau meletakkan sesuatu di telapak tanganku, dan berkata,
" Ibu ingin kamu kembali menyimpan cincin tunangan kamu dan rizal . Meskipun tidak di pakai di jarimu tapi kami ingin kamu akan menjaga hatimu untuk Rizal ".
Lah.....
.
.
.
.
Like dan komen nya ottor tunggu ya temans ππ
dan terima kasih sudah mampir di tulisan ottor iniπ
__ADS_1