
Tiba- tiba seseorang masuk dengan gagah dan tegap, aku terkejut melihat bang rizal yang jauh berubah, baik wajah maupun penampilannya.
Apakah ini bang Rizalku...
Bang rizal sekarang lebih kurus dari yang dulu, tapi badannya padat berisi, tegap dan kokoh saat berjalan. kulitnya pun lebih terang dan mengkilap dari yang dulu, rambutnya pun labih rapi dari yang dulu.
Apakah bang rizal masih menjadi satpam seperti dulu, atau sudah mempunyai pekerjaan lain. Waktu itu dia cuma bilang bekerja dan kerja tambahan di tempat fitnes punya dia kerja sama dengan abangnya. Pekerjaan yang intinya dia tidak cerita.
Semua tertawa melihatku ternganga melihat bang rizal.
" Dini... ". Ucap bang rizal membuyarkan lamunanku.
" I..iya ...". jawabku tergagap.
" Apa kabar kamu?".
" Baik bang... Abang?".
" seperti yang kamu lihat, abang baik juga. apa lagi setelah bertemu kamu, rasa kangen abang terobati sedikit ". ucapnya." Apa kamu juga begitu??!".
" Aku... aku juga..". jawabku.
" Sudah- sudah, kita lanjut acara inti dulu, baru kangen- kangenan ". potong ayah bang rizal.
Semua tertawa mendengar, aku menunduk saja jadi malu ditertawakan.
" Untuk tidak mengundur waktu, kita langsung saja, bahwa selain temu kangen antara Rizal dan Dini yang sudah hampir setahun tidak bertemu, kamibdari pihak rizal datang untuk bersiraturrahmi kemari, sesuai rencana kita hari itu, kita akan mengadakan akad minggu depan.
kami kesini datang hanya untuk berkunjung dan melamar secara resmi ". ucap ayah bang rizal.
Ibu bang rizal memasangkan kembali cincin tunangan kami dulu, yang aku simpan dikalungku sebagai liontinnya. Karena aku tidak mau memakainya sebelum jelas statusku.
Semua basa- basi, berbincang tentang rencana minggu depan. Bincang- bincang keluarga ini hanya sebentar, karena kata ayah bang rizal mereka hanya berkunjung dan mempertemukan kami sebelum akad dimulai.
Selesai sholat magrib berjamaah dan makan malam mereka pamit. Mereka juga tidak memberikan waktu untuk aku dan bang rizal berbicara berdua, kata mereka tidak boleh, nanti saja bicara berdua setelah menikah.
Padahal banyak cerita yang ingin kusampaikan, banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan. Banyak curahan hati yang ingin kucurahkan kepada bang rizal.
Tapi apalah dayaku, diberi kesempatan untuk bertemu menjelang akad nikah sudah membuatku senang. Melihat bang rizal yang sudah hampir setahun tidak berjumpa, rasa rinduku juga terobati, walaupun sedikit, seperti ucapan bang rizal tadi. Apa lagi melihat bang rizal yang lebih ganteng dan macho, membuatku merasa beruntung.
__ADS_1
Sebelum tidur aku menerima pesan dari bang rizal dan beberapa foto kami tadi, foto saat ibu bang rizal memasangkan cincin, foto saat makan dan duduk berdua berdampingan saat makan, bahkan foto selfi kami di teras dan di ruang tamu saat akan melepas mereka pergi .
Pesannya juga membuat aku baper, membuat aku melayang mungkin tidurku malam ini tidak akan nyenyak.
Dia mencurahkan semua isi hatinya padaku, mengucapkan rasa syukur karena menerimanya kembali . mengucapkan terimakasih sudah menjaga hatiku untuknya.
Dia menuliskan semua keinginanya , rencana kedepan, tentang pernikahan kami, tentang keluarga bahagia, tentang rumah tangga dan juga tentang rencana punya anak berapa. bahkan tentang , bulan madu dan cerita penganten baru. Membuat aku malu dan tersenyum nakal saat membacanya.
Semoga mimpi kami bisa tercapai tanpa ada halangan lagi.
...
Aku masih bekerja sampai hari kamis, semua temanku juga sudah tahu kalau aku akan menikah drngan bang rizal hari minggu. Semua aku undang kerumah.
Mereka berjanji akan datang. Mami juga akan berjanji akan datang dengan suaminya. Beliau berjanji akan datang dan menemaniku saat akad nikah.
Aku menikahnya di rumah saja, dan keluarga besar baru dua hari yang lalu tahu kalau ini acara akad nikah.
Semua surat- surat sudah selesai beberapa hari yang lalu, surat- surat dari bang rizalpun sudah selesai, ayah dan ayah bang rizal saling berkirim dokumen melalui j*e saja, sehingga tidak perlu sering bertemu.
Pagi ini di rumah sudah ramai, ada yang masak, dari sore kemaren banyak saudara dan kerabat yang datang untuk membantu, baik yang belanja kepasar maupun yang memasak di rumah.
Kamarku pun sudah di rias, cantik kamar pengantinku, aku jadi deg- deg an membayangkanya, apalagi saat teringat pesan bang rizal minggu lalu.
Aku yang dari pagi sudah di rias dikamar pengantinku hanya duduk sambil main hp, menunggu di panggil. Aku rencananya menikah pukul sembilan pagi.
Aku yang berada dikamar mendengar suara yang agak keras. Ada apa ini, kenapa ada suara seperti orang berdebat. aku jadi was- was, apa kak sandra dan ayahnya lagi datang menganggu pernikahanku.
Aku berdiri dan keluar dari kamar, terlihat ramai orang disana, ada juga bang satria kulihat ayah membaca sebuah kertas. ada apa ini??. aku mendekat pada ayah.
" Ada apa yah??" tanyaku pada ayah.
" Rizal.. dia membatalkan pernikahan ini, dia mengirim surat ini ". aku menerima surat itu dari ayah dan membacanya. aku sangat sakit hati membaca tulisan bang rizal. aku kecewa, marah dan entahlah rasa di dadaku.
Aku berusaha untuk tidak membuat kakacauan, aku akan nencari tahunya. Aku menuju kemamarku dengan langkah lebar, tidak peduli dengan songket yang aku pakai, mengambil hpku yang berada di meja rias. kubuka hpku ternyata ada pesan dan foto dari bang rizal
" Brengsek.... siapa lagi yang berniat jahat padaku, akan ku ...."
" Ada apa dini ?! Kenapa akadnya belum mulai?!". ternyata mami datang kekamarku.
__ADS_1
Aku memberikan hpku pada mami dan juga surat yang di berikan orang suruhan keluarga bang rizal tadi, dan beliau membacanya.
Aku mendengar beliau menarik nafas dan menghembuskan kasar.
" Kamu duduk dulu disini, diam saja, pandangi cermin itu dengan baik. Motivasi dirimu kalau kamu tidak akan tergoyahkan dengan badai apapun. kamu akan menyelesaikan masalah ini... Hari ini.... pagi ini... mami keluar sebentar, jangan buat keluargamu kecewa". ucap mami memandangku di kaca meja rias.
Lalu dia keluar, lama.... aku tidak tahu apa yang dia lakukan, aku tidak mendengar suara- suara di luar, hanya suara perintah saja, dari mami.
' Itu.... disana..... iya...... baik........ ok...... selesai......' hanya itu yang kudengar.
Aku yang terus memandang kaca yang memantulkan wajahku dengan make up penganten, membuat aku sakit hati tapi aku teringat kata motivasi dari mami tadi kalau aku bisa melewatinya. Bisa membalas siapa yang berniat jahat padaku.
Tiba- tiba pintu kamarku terbuka dari luar, mami masuk dengan tukang rias tadi, aku heran. kok riasanku di perbaiki, bukan dihapus saja, kan aku tidak jadi menikah.
Setelah di rapikan riasan dan bajuku aku di tuntun keluar dari kamar menuju meja akad, kok......
Aku terima nikah dan kawinnya.......
Bagamana saksi tanya pak penghulu
" Sah
"Sah
"Sah.....
.
.
.
.
Terima Kasih sudah mampir di tulidan ottor ya temans 🙏🙏
Jangan lupa like dan coment nya
....
__ADS_1