Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 10


__ADS_3

"Putri Ayah, Ayah mengkhawatirkan mu. sedari tadi Ayah menelpon mu, tapi ponselmu selalu mati,"


Lidya baru saja menginjakkan kakinya. Suara Ayahnya yang pertama kali dia dengar. Sebuah suara yang sangat atau paling dia benci.


Lidya merogoh ponselnya di dalam saku dan melihat layar ponselnya.


"Maaf, tapi tidak ada notifikasi Anda menghubungi saya," ucap Lidya.


Ayah Lidya mendengus kesal melihat putrinya yang mempermalukannya di depan Mommy Kelvin. Berniat ingin menjadi Ayah baik di depan Mommy Kelvin, eh... malah menjadi orang yang pembohong.


"Tante, ada perlu apa memanggil saya?" Tanya Lidya.


"Tolong suruh Ayahmu untuk pergi," pinta Mommy Kelvin berbisik.


Lidya tidak membalas bisikan Mommy Kelvin ia berjalan mendekati ayahnya.


"Anda lihat sekarang saya baik baik saja. Bawalah Istrimu ini dan segera pergi dari ruangan ini. Karena saya tidak ingin melihat wajah memuakkan kalian," ucap Lidya mengusir Ayah dan Ibu tirinya.


Sebenarnya itu dilakukan Lidya bukan karena permintaan dari Mommy Kelvin, tapi permintaan dari hatinya yang paling dalam.


"Tapi, nak. Calon besan kami di rawat di rumah sakit. Apa kami tidak bisa menemaninya?" Tanya Ibu tiri Lidya.


"Menemaninya? Apa kalian pikir kalian bisa betah menemani orang sakit?" Lidya tersenyum mengejek.


"Tidak perlu menemaninya. Istri, anak, dan calon menantunya ada disini. Jadi kalian tidak di perlukan," ucap Lidya menekankan kata kata calon menantu.


"Ca-calon menantu?" Ibu tiri Lidya terlihat terkejut.


"Iya, mereka adalah calon mertuaku. Jadi aku ini calon menantu mereka. Kenapa wajah Anda terkejut? Bukankah Anda yang mempersiapkan pernikahan saya?" Tanya Lidya dengan nada mengejeknya.


"Bu-bukan kami, tapi Ibumu lah yang menjodohkan kalian," ucap Ayah Lidya.


"Oh ya Baguslah kalau Ibu saya yang mempersiapkan pernikahan saya. Karena saya tidak sudi jika Anda yang memilihkan pasangan untuk hidup saya," ucap Lidya.


"Sekarang kalian boleh pergi. Pintunya ada di sana," ucap Lidya sambil menunjuk pintu untuk keluar dan masuk.


Setelah berpamitan kepada Mommy Kelvin, mereka berdua keluar. Tidak lupa dengan tatapan sinis mereka berikan kepada Lidya. Dan Lidya juga membalas tatapan mereka tak kalah sinis.


"Terima kasih, Lidya" ucap Mommy Kelvin.


"Sama sama," balas Lidya.


"Kamu bilang apa tadi Lidya?" Tanya Kelvin.


"Maksud Anda?" Tanya Lidya.


Lidya bingung dengan perkataan Kelvin. Dia bahkan sudah mengatakan bukan hanya satu dua kata tapi puluhan kata. Bagaimana Lidya bisa ingat apa saja yang dia ucapkan.

__ADS_1


"Apa yang tadi kamu katakan kepada orang tuamu?" Tanya Kelvin.


"Orang tuaku? Siapa? Asal Anda tahu, saya tidak memiliki orang tua. Orang tua saya sudah tiada 6 bulan lalu," Lidya menjawab ucapan Kelvin yang mengatakan Ayah dan Ibu tiri Lidya sebagai orang tuanya.


"Maksudku. Siapa kamu bagi orang tuaku dan siapa orang tuaku bagi kamu," ucap Kelvin.


"Saya calon menantu mereka dan mereka calon mertua saya," jawab Lidya.


"Apa itu artinya kamu menerima pernikahan kita?" Tanya Kelvin.


Lidya mengangguk.


"Saya akan mencoba untuk menerimanya," jawab Lidya.


Kelvin baru saja ingin bergerak memeluk Lidya karena bahagianya. Tapi tangan Lidya menghalanginya untuk memeluk Lidya.


"Kamu bilang ingin mencoba menerimaku kan? Maka terima saja perlakuan ku juga untukmu yang masih dalam hal wajar," ucap Kelvin.


Lidya menurunkan tangannya yang menghalangi mereka.


Segera saja Kelvin langsung memeluk Lidya erat, sangaaaat erat.


Semoga saja kamu memang benar Kelvin, kekasihku.


Lidya berucap dalam hati.


Lidya kembali menurunkan tangannya membiarkan Kelvin memeluknya tanpa ia balas.


Mommy yang melihat kebahagiaan putranya ikut bahagia. Tapi saat melihat keraguan Lidya untuk membalas pelukan Kelvin, Mommy Kelvin hanya bisa menahan nafasnya. Karena bagaimana pun Lidya pasti masih merasa aneh dengan situasinya yang tiba tiba saja sudah memiliki calon suami. Mommy Kelvin memaklumi hal itu.


"Kelvin sudah peluk nya, nak" ucap Mommy Kelvin.


Karena Mommy Kelvin tahu, jika tidak di hentikan mereka akan tetap dalam posisi itu untuk 5 jam ke depan.


"Mommy hari ini, Kelvin sangat sangat bahagia," ucap Kelvin yang sudah melepaskan pelukannya dari Lidya. Dan memeluk Mommy yang sedang dalam keadaan duduk, dari belakang.


Mommy menatap wajah putranya yang menyunggingkan sebuah senyuman bahagia. Membuat Mommy Kelvin ikut tersenyum bahagia.


Lidya yang melihat kedua Ibu dan anak itu saling tersenyum bahagia. Hanya bisa menatapnya tanpa mempraktekkan kepada Ibunya. Tiba tiba saja Lidya berpikir untuk pergi ke makam Ibunya. Menjenguk Ibundanya ketempat peristirahatan yang terkahir.


"Lidya pamit ya, Tante" ucap Lidya.


"Kemana, nak?" Tanya Mommy Kelvin.


"Ada tugas kelompok," jawab Lidya.


Dengan lirikan matanya Mommy Kelvin menyuruh Kelvin untuk mengantar Lidya.

__ADS_1


"Biar aku antar," ucap Kelvin.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri," tolak Lidya.


"Ayolah, aku sekalian beli makan siang untuk Mommy," ucap Kelvin mencari alasan.


"Terserah," balas Lidya yang berlalu pergi.


"Aku pergi dulu ya, Mom" ucap Kelvin seraya mencium kedua pipi Mommy nya tercinta.


"Hati hati di jalan ya, sayang" ucap Mommy Kelvin.


Kelvin mengambil kunci mobilnya dan segera menyusul Lidya ke bawa.


***


Di perjalanan.


"Kita akan kemana?" Tanya Kelvin.


"Ke tempat pemakaman umum," jawab Lidya.


"Ke pemakaman? Tapi kamu bilang tadi mau ngerjain tugas kelompok," ucap Kelvin yang tak habis pikir dengan Lidya yang sepertinya sangat suka ke pemakaman.


"Bukan urusanmu," ucap Lidya.


"Urusanmu adalah urusanku. Kamu ingin mencoba menerima aku kan. Maka belajarlah untuk membiarkanku ikut campur dalam masalahmu," ucap Kelvin.


"Terserah," balas Lidya.


Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Kelvin sampai di tempat parkiran TPU.


Segera Lidya turun. Tapi tangan kanannya dicekal oleh Kelvin.


"Aku ikut, ya" ucap Kelvin.


"Tidak perlu," ucap Lidya.


"Saya mau sendiri sekarang. Tolong mengertilah," ucap Lidya.


"Baiklah, kalau kamu butuh sesuatu aku akan ada di sini," ucap Kelvin.


"Sebaiknya Anda pergi saja. Tidak perlu menungguku," ucap Lidya.


"Aku mau di sini, nunggu kamu," ucap Kelvin yang tak ingin dibantah.


"Terserah," balas Lidya seraya melepaskan cekalan tangan Kelvin dan berjalan ke arah pemakaman yang selalu dia datangi. Ibunya dan kekasihnya.

__ADS_1


"Ibu, Lidya rindu Ibu. Lidya pengen lihat senyum Ibu. Lidya pengen meluk Ibu dan di peluk sama Ibu. Ibu, Lidya tidak tahu apakah Kelvin itu adalah pilihan Ibu untuk Lidya atau pilihan pria itu. Tapi pilihan siapapun itu Lidya akan mencoba menerimanya. Lidya berharap dia adalah Kelvin yang sama dengan Kelvin milikku, Bu. Semoga itu bukan hanya harapan," ucap Lidya seraya menatap makam Ibunya.


__ADS_2