Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 89


__ADS_3

"Saya tidak akan membayar pinalti. Jika dia menuntut kejalur hukum. Perusahaan sudah punya alasan yaitu tindak koruptornya. Lakukan perintahku! Saya mau saat saya kembali dia sudah tidak ada lagi di perusahaan," suara tegas Lidya yang tidak dapat dibantah perkataannya


Lidya mematikan telepon setelah sampai di depan pintu ruang private. Dia memasukkan ponselnya dan membuka pintu.


Ternyata disana sudah ada kliennya. Lidya melirik jam yang menunjukkan waktu 7 teng. Lidya tepat waktu seperti biasa.


Pria dengan setelan jas rapi di depannya ini tampak sibuk dengan ponselnya. Lidya merasa kesal namun tetap menunjukkan ekspresi datar


Pria dihadapannya tidak profesional. Perjanjian jam 7 namun saat sudah waktunya membahas bisnis pria ini malah asyik main ponsel.


"Saya tidak ingin membuang buang waktu-" ucapan Lidya terpotong ketika suara pintu terdengar terbuka.


Seorang pria berjas mewah lebih mewah dari pria dihadapannya ini datang dengan pelayan yang membawa sarapan untuk mereka dibelakangnya. Lidya terkejut, dia mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali.


Apa aku sedang berkhayal? Aku merasa mengalami deja vu.


Lidya berucap dalam hati.


Pelayan meletakkan sarapan mereka diatas meja lalu pergi.


Dengan menggunaka. isyarat pria yang baru datang tadi menyuruh temannya untuk pergi melalui gerakan bibirnya.

__ADS_1


Tanpa bertanya apapun pria itu pergi.


"Lidya," suara itu suara yang sama.


Lidya berkaca kaca sisi rapuhnya kini muncul.


Pria itu dia mirip Kelvin. Tidak tahu itu benar atau tidak. Karena saat itu Ayah Kelvin sendiri yang mengatakan putranya sudah tiada. Tapi... mungkin saja kematiannya palsukan? Seperti dulu.


Kini Lidya berharap bahwa Kelvin masih hidup. Harapannya semakin besar tentang hal itu.


"Hiks..." Lidya menunduk.


Dia tidak bisa menahan tangisnya. Walau sudah 5 tahun berlalu namun dia masih merasakan kesedihan itu.


Pria itu menatap Lidya sayang. Membuat Lidya yakin dia adalah Kelvin. Namun disaat yang bersamaan dia merasa ragu pria itu adalah Kelvin.


"Jika ini hanya mimpi tolong jangan berakhir" ucap Lidya lagi.


Pria itu mendekat dan mendekap tubuh Lidya erat... sangat erat.


"Ini tidak mimpi, aku benar benar nyata" ucap pria itu.

__ADS_1


"Kau... kau benar benar nyata? Hua... aku merindukanmu" Lidya langsung memeluk tubuh pria itu erat sangat erat


Kelvin membiarkan Lidya menangis sepuasnya. Membiarkan jas mahalnya basah oleh air mata gadis itu.


"Aku... aku... aku..." Lidya tidak bisa melanjutkan kata katanya.


Rasanya kebahagiaannya saat ini tidak bisa digambarkan dengan kata kata.


"Duduklah," Kelvin membimbing Lidya duduk di sofa setelah Lidya puas menangis.


"Berikan aku penjelasan," ucap Lidya meminta penjelasan.


Kelvin tersenyum.


"Apa kita tidak jadi membicarakan bisnis, Nona?" Kelvin malah menggodanya.


"Perusahaan si Dae Ryung itu tidak akan bangkrut hanya karena aku tidak profesional sekali ini," ucap Lidya.


Perusahaan itu adalah milik Dae Ryung dan Lidya sebagai anak dari pemimpin sebelumnya, Han Dae Hyeon. Mereka memiliki hak yang setara atas perusahaan. Namun Lidya menyerahkan kepemimpinan terbesar kepada Dae Ryung. Dia mengambil alih kepemimpinan itu sekarang karena Kakaknya itu akan segera menikah.


"Dia itu Kakakmu, jangan berbicara seperti itu. Tidak sopan," nasihat Kelvin.

__ADS_1


Lidya acuh. Dia sudah biasa memanggil Kakak tirinya itu dengan nama tentunya tidak didepan Ibu mereka. Lidya hanya melakukannya jika dia sedang kesal atau lagi bad mood.


__ADS_2