
"Kalau begitu tolong ambilkan tas saya," ucap Lidya.
"Baik, tunggulah disini dulu," ucap Kelvin yang berlalu untuk pergi mengambil barang barang Lidya yang ada diruang belajar Kelvin.
Lidya yang sudah memiliki tenaga, berdiri dari duduknya sambil mendorong tempat kantong infusnya. Lidya duduk di dekat jendela sambil menatap keluar.
Menatap matahari yang masih ada di tempatnya.
Matahari berfungsi untuk menyinari dunia. Tapi mengapa matahari tidak bisa menyinari hidupku yang kelam. Aku ingin menjadi seperti dulu, menjadi Lidya si gadis ceria. Tapi aku masih tidak… bisa, aku ingin orang yang menjadi alasan sikapmu berubah datang dan mengatakan "Lidya ini aku Kelvin Dirga, kekasihmu. Demi aku tolong ubahlah sikapmu menjadi seperti dulu,".
Lidya berharap dalam hati.
Kelvin jika memang kamu masih hidup, tolong beri tahu aku. Aku masih setia disini menunggumu. Tolong jangan terus membuatku menunggu. Aku hanya manusia biasa yang nantinya akan lelah dan memilih untuk mundur. Tapi sampai hati ini masih bertahan, aku akan juga akan tetap bertahan demi mu.
Lidya kembali berucap dalam hati.
Kelvin tolonglah datang dan hapus air mataku ini,
Ucap Lidya dalam hati yang memang tidak ingin menghapus air matanya.
Di sisi lain,
Kelvin sedang menatap Lidya yang fokus melihat keluar. Kelvin melihat Lidya yang meneteskan air mata. Membuat hati Kelvin sakit, melihat gadis yang dia sayangi sedang bersedih.
Dengan perlahan Kelvin mendekat dan menghapus air mata Lidya.
"Tolong jangan menangis," ucap Kelvin.
Aku menginginkan Kelvin yang menghapus air mataku. Apa benar kamu Kelvin milikku?
Lidya bertanya tanya dalam hati.
"Kenapa kamu menangis? Maaf jika aku terlalu memaksakan kehendak ku kepadamu," ucap Kelvin.
Tiba tiba saja Lidya memeluk Kelvin erat.
"Siapa Anda sebenarnya?" Tanya Lidya dalam pelukan Kelvin.
"Aku Kelvin," jawab Kelvin.
"Kelvin yang mana? Kelvin yang saya kenal atau Kelvin yang asing?" Tanya Lidya.
"Kita memang baru bertemu beberapa hari yang lalu. Tapi aku bukan asing, aku ini calon suamimu," Kelvin memberikan Lidya jawaban yang kurang memuaskan.
Kalau dia memang Kelvin, dia pasti mengerti maksudku. Tapi dia tidak mengerti, apa dia memang bukan Kelvin, milikku?
Lidya kembali membatin.
Lidya melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
"Maaf, atas kelancangan saya tadi" ucap Lidya.
"Iya," balas Kelvin.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu?" Tanya Lidya.
"Silahkan," jawab Kelvin.
"Apakah Anda pernah mengalami jatuh cinta sebelumnya?" Tanya Lidya.
__ADS_1
"Jatuh cinta? Aku pernah merasakannya dua kali kepada orang yang sama," jawab Kelvin.
Lidya mengerutkan keningnya menunjukkan dia tidak mengerti maksud perkataan Kelvin.
"Iya, aku pernah mencintai seseorang di masa lalu. Dan orang masa laluku itu sekarang membuatku jatuh cinta untuk yang kedua kali padanya," ucap Kelvin.
Lidya mengangguk angguk mengerti.
Lidya melirik jam yang menunjukkan pukul 17.20.
"Oh ya, dimana tas saya?" Tanya Lidya.
Kelvin menyerahkan tas ransel coklat kepada Lidya.
Lidya mengambil tasnya dan segera mencari sesuatu. Kartu debit.
"Untuk apa itu?" Tanya Kelvin.
"Sekarang sudah sore. Dan saya harus mandi. Jadi saya akan membeli pakaian ganti," jawab Lidya.
"Pakai uangku saja," ucap Kelvin.
"Saya punya uang sendiri," ucap Lidya.
"Sekarang saya masih belum bertunangan dengan Anda. Itu artinya Anda belum bisa mengatur saya. Dan selagi saya masih mampu, saya tidak ingin membebani seseorang," ucap Lidya.
"Baiklah," balas Kelvin.
"Biar aku yang membeli bajumu," ucap Kelvin.
"Tidak perlu, suruh saja asisten rumah tanggamu. Anda akan malu nanti jika membeli pakaian wanita," ucap Lidya.
"Iya, Tuan" sahut Bi Tuti.
"Kamu bilang sama Bi Tuti apa yang mau kamu beli," ucap Kelvin.
"Silahkan Anda keluar, setelah Bi Tuti dan saya selesai bicara baru Anda boleh masuk," ucap Lidya menyuruh Kelvin untuk keluar.
"Baiklah, Nona" ucap Kelvin yang berlalu pergi.
Lidya menyuruh Bi Tuti untuk membeli hoodie dan celana baggy juga pakaian dalam untuknya. Tidak lupa Lidya mengatakan berapa ukuran dari pakaian pakaiannya tersebut.
"Itu saja, Non" Tanya Bi Tuti.
Lidya mengangguk.
"Baiklah, Non. Saya keluar dulu ya," ucap Bi Tuti yang berlalu pergi.
Setelah Bi Tuti pergi, Lidya tidak melihat tanda tanda Kelvin akan datang.
Lidya yang masih ada di dekat jendela memejamkan matanya sebentar. Menunggu Bi Tuti datang.
***
Lidya mengucek ngucek matanya sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Bagaimana tidurnya, nyenyak?" Tanya Kelvin yang sudah duduk di samping Lidya.
Lidya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 18.05.
__ADS_1
"Dimana pakaian saya?" Tanya Lidya.
Kelvin menyerahkan sebuah paper bag yang langsung di terima oleh Lidya.
"Terima kasih," ucap Lidya seraya menerima paper bag itu.
"Apa aku bisa melepaskan jarum infus ini?" Tanya Lidya.
Karena kalau nanti Lidya melepaskan jarum infusnya tanpa menanyakan kepada Kelvin, Lidya yakin Kelvin akan memarahinya.
"Lepaskan saja, lagian cairan infusnya sudah habis," jawab Kelvin.
Lidya mencabut jarum ditangannya dengan cepat. Bahkan ia tidak meringis kesakitan saat melakukannya.
"Sakit?" Tanya Kelvin.
Lidya menggeleng.
Lidya berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah handuk berwarna putih.
"Sebaiknya Anda juga membersihkan diri," ucap Lidya sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Lidya mengeluarkan baju dari paper bag. Ia menatap aneh pakaian yang ada di dalam paper bag itu.
Inikan piyama. Aku tadi minta baju hoodie dan celana baggy. Kenapa malah jadi piyama,
Lidya berucap dalam hati sambil memperhatikan piyama berwarna biru itu.
Ya sudahlah, yang penting aku memiliki baju ganti.
Ucap Lidya kembali dalam hati.
Lidya memulai ritual mandinya, tidak butuh waktu lama Lidya sudah selesai mandi dan memakai pakaian yang lengkap. Setelah itu Lidya keluar dari dalam kamar mandi.
Lidya mengambil tasnya lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Lidya menaruh tas ranselnya di pundaknya. Lidya memesan ojek online untuk mengantarnya pulang.
Setelah itu Lidya keluar dari dalam kamar menuju ke pintu keluar.
"Lidya kamu maj kemana?" Tanya Kelvin yang berjalan dari tangga ke bawah.
Lidya mengalihkan pandangannya dari ponsel melihat Kelvin.
Lidya kembali mengernyitkan dahinya saat melihat pakaian yang Kelvin pakai.
Lidya memperhatikan piyamanya dan piyama Kelvin.
"Kok, sama?" Tanya Lidya.
"Aku sengaja beli piyama yang sama, biar couple," jawab Kelvin.
Lidya mendengus mendengar jawaban Kelvin. Lidya kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu.
"Lidya, kamu mau kemana?" Tanya Kelvin mengulangi pertanyaannya sebelumnya.
"Pulang," jawab Lidya.
"Biar aku antar," ucap Kelvin.
"Tidak perlu, saya sudah memesan ojek online tadi," tolak Lidya.
__ADS_1
"Udara diluar sangat dingin. Dan tidak bagus untuk kesehatanmu. Tolong pikirkan kesehatanmu sebelum melakukan sesuatu yang mungkin berbahaya," Kelvin menegur Lidya yang cenderung cuek dengan kesehatannya.