Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 6


__ADS_3

"Begitulah yang dirasakan Lidya, Mom. Apakah sikap Lidya itu salah?" Tanya Kelvin.


"Tidak, sikap Lidya itu sudah benar. 100% benar," ucap Mommy.


***


Keesokan harinya.


Lidya bersiap siap untuk pergi ke kampus.


Lidya mengenakan kemeja berwarna merah muda dengan celana jeans biru. Tidak lupa rambutnya yang selalu di kuncir kuda saat akan ke kampus.


Lidya melirik ke arah tangan kirinya yang terdapat sebuah jam. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima lewat lima menit. Padahal jadwal Lidya menerima pembelajaran pukul delapan pagi.


Lidya keluar tanpa pamit kepada orang tuanya. Bahkan melihat dari kondisi rumah yang sepi, Lidya yakin mereka belum bangun.


Seperti biasa Lidya berjalan kaki menuju kampus. Jalanan ramai dengan kendaraan. Walau sekarang masih pukul lima dan langit masih gelap, kendara-kendaraan masih tetap berlalu lalang. Maklumlah namanya Ibu kota.


Sesampainya di kampus Lidya menatap ke pos Satpam. Seorang bapak bapak yang sudah berusia lima puluhan, dialah satpam kampus Lidya menimba ilmu.


Lidya berjalan menuju kantin. Kampus Lidya memiliki fasilitas menyediakan sarapan dan makan siang gratis.


Lidya juga sering bahkan selalu sarapan di kantin. Bukan karena makanan tersebut gratis, tapi karena ia malas untuk duduk satu meja dengan Ayah dan Ibu tirinya.


Lidya duduk disalah satu kursi di kantin. Sambil menunggu penyajian sarapan di buka, Lidya membaca buku mengenai bisnis.


"Hay," sapa seseorang yang Lidya kenal, Kelvin.


Lidya masih fokus dengan membacanya tanpa mau melihat siapa yang menyapanya.


"Hey, Nona. Apa kamu ingin aku memanggilmu sayang agar kamu mau melihatku dan semua orang tahu tentang hubungan kita?" Tanya Kelvin.


Lidya masih diam dengan mata fokus ke buku, tanpa mau menggubris ucapan Kelvin.


"Sayang," panggil Kelvin.


Tidak ada respon.


"My Princess,"


Seketika itu juga Lidya langsung menatap ke arah Kelvin.


"Akhirnya berhasil juga. Apa aku harus mengubah panggilan mu menjadi My Princess agar kamu mau melihatku?" Tanya Kelvin.


"Jangan panggil saya begitu," ucap Lidya.


"Kenapa?" Tanya Kelvin


Karena hanya dia lah yang berhak memanggilku begitu


Lidya berucap dalam hati.

__ADS_1


"Anda tidak perlu tahu alasannya," ucap Lidya.


"Anda, Anda, Anda. Kenapa selalu kata itu yang kamu gunakan untuk panggilanku," gerutu Kelvin.


Lidya hanya diam seraya memasang headseat ke telinganya.


Rasanya malas mendengar semua celoteh Kelvin. Jika saya yang mengomelinya adalah Kelvin kekasihnya, maka dia akan siap mendengarkan segala omelan nya.


"Astaga apa suaraku seburuk itu sampai kamu menutupi telingamu?" Tanya Kelvin.


Kelvin menarik kabel headseat Lidya.


"Apa yang Anda inginkan?" Tanya Lidya yang sudah kesal dengan sikap Kelvin, yang seperti mengganggunya.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kesal," ucap Kelvin menyesal.


Untung di sana hanya ada mereka berdua. Jadi tidak ada yang melihat kejadian tersebut.


Lidya menyusun bukunya dan meninggalkan kantin.


Ia pergi ke perpustakaan yang tentunya suasananya damai, tentram, dan nyaman.


Lidya mengambil buku buku yang berisikan materi untuk persiapan olimpiade nya.


Dengan serius Lidya membaca lembar demi lembar buku itu. Dia bukan hanya membaca tapi juga memahami pembelajaran tersebut.


Sampai tak terasa bel sudah berbunyi. Menandakan mereka harus segera masuk kedalam ruangan masing masing.


Lidya duduk di kursi paling belakang, tempat dia biasa duduk.


Tidak berapa lama Dosen yang akan mengajari mereka datang. Dan pelajaran pun di mulai.


Sangking asiknya belajar, Lidya sampai lupa kalau dia belum sarapan.


Di tengah tengah keasikan Lidya belajar. Dekan Uly datang ke ruangannya.


"Maaf Dosen Lian menganggu waktu Anda," ucap Dekan Uly.


"Tidak apa apa, Dekan Uly" ucap Dosen Lian.


"Saya datang kemari ingin membawa Lidya, untuk membicarakan masalah olimpiade," ucap Dekan Uly yang membuat beberapa mahasiswa/i menatap iri ke arah Lidya.


"Silahkan Lidya, untuk mengikuti Dekan Uly," ucap Dosen Lian menyuruh Lidya untuk pergi bersama Dekan Uly.


Lidya berjalan ke depan tanpa mengiyakan perkataan Dosen Lian.


Lidya mengikuti langkah Dekan Uly yang menuju keruangan milik Dekan Uly.


Di dalam ruangan ternyata sudah ada Kelvin.


"Maaf membuatmu menunggu lama, Kelvin" ucap Dekan Uly.

__ADS_1


"Tidak apa apa, Dekan" balas Kelvin ramah.


"Pertemuan kita kali ini, saya mau meminta surat atas izin orang tua kalian dengan kesertaan kalian dalam mengikuti lomba olimpiade ini," ucap Dekan Uly.


Lidya menyodorkan sebuah surat yang ia dapat dari Dekan Uly kemarin. Surat itu sudah ditanda tangani oleh Ayah Lidya. Ayah Lidya menandatangani surat itu hanya karena Kelvin yang menjadi kelompok putrinya.


Dekan Uly menerima surat dari Lidya. Karena yang dia kenal, Lidya adalah sosok yang tidak menyukai basa basi. Itu sebabnya saat dia mengatakan satu atau dua kalimat, Lidya pasti sudah akan mengerti tanpa dia harus banyak menjelaskan.


"Terima kasih, Lidya" ucap Dekan Uly.


Kelvin juga menyodorkan surat izinnya.


"Ini surat saya, Dekan Uly" ucap Kelvin.


"Terima kasih, Kelvin" ucap Dekan Uly.


"Sama sama, Dekan Uly," balas Kelvin.


Dekan Uly membaca kedua surat itu yang terdapat tanda tangan. Yang artinya orang tua mereka berdua mengizinkan mereka untuk mengikuti lomba.


"Saya puas dengan surat kalian," ucap Dekan Uly.


"Kapan kalian akan mulai belajar?" Tanya Dekan Uly.


"Saya serahkan keputusannya kepada Lidya, Dekan" ucap Kelvin yang menaruh beban keputusan ke pundak Lidya.


Lidya menatap Kelvin yang sepertinya sengaja memberikan dia kesempatan untuk memutuskan.


"Saya serahkan keputusan kepada Anda, Dekan" ucap Lidya yang menaruh beban ke pundak Dekan Uly.


"Kalau kalian memang tidak keberatan saya yang memutuskan, maka saya akan memutuskan. Setiap hari Sabtu pagi, kalian akan belajar dengan ditemani seorang guru. Dan di hari Minggu sore kalian akan belajar bersama," ucap Dekan Uly menyatakan pendapatnya.


"Baik Dekan, kami akan menyusun jadwal kami di hari Sabtu dan Minggu. Agar nantinya kami tidak kewalahan," ucap Kelvin kepada Dekan Uly.


"Kalau begitu, kami permisi dulu Dekan," ucap Kelvin pamit untuk pergi.


Setelah mendapatkan izin dari Dekan Uly, Kelvin menarik tangan Lidya untuk keluar bersamanya.


Tiba diluar, Lidya langsung menghempaskan tangan Kelvin dengan kasar.


"Lidya, tadi kamu tidak sarapan. Sebaiknya kamu ke kantin dan sarapan dulu," ucap Kelvin.


"Saya masih memiliki mata kuliah," ucap Lidya.


"Ayolah, Lidya. Kesehatanmu itu nomor satu," ucap Kelvin.


"Anda perduli dengan kesehatan saya?" Tanya Lidya.


"Iya, aku peduli," jawab Kelvin.


"Jangan peduli dengan kesehatan saya," ucap Lydia.

__ADS_1


Sebenarnya dia sangat bersyukur, karena Kelvin lah orang pertama yang menghawatirkan kesehatannya setelah Ibunya tiada.


__ADS_2