
Dae Ryung berjalan seribu langkah kearah Lidya.
"Lidya," panggil Dae Ryung saat dia dan Lidya sudah berada di atas motor.
"Hmm," balas Lidya.
"Kamu pernah ke Korea?" Tanya Dae Ryung penasaran.
"Jalankan motornya atau aku turun," ancam Lidya.
"Iya iya," ucap Dae Ryung seraya menghidupkan mesin motor.
"Cerewet," gumam Lidya lirih yang dapat didengar Dae Ryung.
Cerewet? Aku? Omo... . Tapi kalau dipikir pikir aku terlalu banyak bicara tadi. Astaga Dae Ryung, dimana sikapmu yang berwibawa. Kenapa kamu cerewet sekali.
Batin Dae Ryung bingung dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Biasanya Dae Ryung adalah seorang yang berbicara hanya jika diperlukan di depan orang asing. Tapi jika dihadapan keluarganya dia adalah seorang yang cerewet. Tapi entah kenapa dihadapan Lidya, Dae Ryung dapat bersikap seperti itu.
Lidya turun dari motor Dae Ryung dan berbalik ingin memasuki gerbang.
"Hey, Nona apa orang tuamu tidak mengajarkanmu sopan santun?" Tanya Dae Ryung.
Lidya mengerutkan dahinya tampak bingung.
"Aku sudah menolong mu dan kamu tidak akan berterima kasih?" Tanya Dae Ryung.
Batin Lidya sambil menatap Dae Ryung dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terima kasih," ucap Lidya mengalah.
Ia tahu jika ia mengeluarkan pendapatnya maka pembicaraan mereka akan berlanjut sampai pagi.
"Sam-" Perkataan Dae Ryung terhenti akan tindakan Lidya.
__ADS_1
Setelah mengucapkan terima kasih, Lidya langsung pergi tanpa memperdulikan balasan Dae Ryung.
Sesampainya di dalam kamar, Lidya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memandangi langit langit kamar dengan perasaan yang campur aduk.
Lidya mengambil surat dari Neneknya dengan posisi berbaring.
Ia membuka lipatan surat itu dan membaca kata kata selanjutnya.
Tapi setelah sejauh ini, Nenek tahu bahwa Kelvin tulus menyayangimu. Nenek bisa pergi dengan bahagia karena saat Nenek tidak ada akan ada Kelvin yang menyayangimu. Lidya apapun alasan Kelvin membohongimu, percayalah alasan itu adalah alasan yang baik. Dan semua yang terjadi saat ini adalah untuk yang terbaik. Jadi pesan Nenek, kamu harus tetap bersama Kelvin. Jangan pernah kamu kecewakan orang yang menyayangi dengan tulus seperti Kelvin. Apapun yang terjadi di masa lalu mu, lupakanlah itu. Lanjutkan kehidupanmu dengan Kelvin dan jadilah Lidya yang Nenek kenal. Lidya yang ceria yang selalu tersenyum dan menghibur irang walaupun ia sedang tersakiti. Tetap berteman dengan semua orang dan memperlakukan orang yang tidak menyukainya sebagai teman. Nenek rindu dirimu yang dulu, sayang. Seorang cucu Nenek yang selalu ada untuk Neneknya dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Bukan hanya untuk Nenek, dia selalu ada untuk semua orang. Jadilah seperti itu, cucu Nenek yang dapat Nenek banggakan kepada Ibu dan Kakek nya.
Lidya memberhentikan matanya untuk membaca. Setetes dua tetes air mata sudah keluar dari pelupuk matanya. Lidya memeluk surat itu.
Bukan hanya Nenek tapi aku pun ingin menjadi Lidya yang dulu. Tapi sampai sekarang aku tidak dapat menemukan sosok Lidya yang ceria itu. Aku hanya menemukan kegelapan dengan orang orang munafik di dalamnya.
Ucap Lidya sedih dalam hati.
Ia memikirkan orang orang terdekat yang menyakitinya. Yang paling menyusuk dihatinya adalah kenyataan bahwa Ayah kandungnya sendiri tidak pernah menginginkannya dan tidak perduli apakah dia hidup atau mati saat ini.
__ADS_1