Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 63


__ADS_3

"Kita mulai memanggil dari juara 3. Kampus yy dengan peserta Dimon dan Jery. Saya persilahkan bagi para untuk maju ke depan," ucap MC.


Dua orang pemuda berdiri dari duduknya dan berjalan kedepannya dengan bangga.


"Juara kedua, dari kampus zz dengan peserta Quin dan Hana. Saya persilahkan bagi para peserta untuk maju ke depan," ucap MC saat Dimon dan Jery sudah berdiri di atas panggung.


Quin dan Hana berjalan ke depan dengan senyum ceria menghiasi bibir mereka, terutama Quin.


Tiba di panggung, Quin dan Hana mengambil posisi berdiri di samping juara 3.


"Baiklah untuk yang terakhir, yang sangat ditunggu tunggu. Juara 1 dari kampus xx dengan peserta Kelvin dan Lidya. Bagi peserta saya persilahkan untuk naik ke atas panggung,"


Kelvin beranjak dari duduknya. Diliriknya Lidya yang masih duduk tanpa ada niat untuk beranjak. Bahkan Lidya seperti sedang melamun.


"Lidya," panggil Kelvin lirih seraya memegang bahu Lidya.


"Hmm," balas Lidya sambil mendongak.


"Kita dipanggil untuk naik ke atas panggung," ucap Kelvin.


"Oh ya," seperti seseorang yang baru tersadar, Lidya langsung bangkit dan berjalan beriringan dengan Kelvin.


Raut wajahnya terlihat sulit di artikan. Yang pasti tidak ada kebahagian atau pun kebanggan di wajahnya seperti peserta lain yang namanya dipanggil.

__ADS_1


"Sebelum pembagian hadiah, saya ingin bertanya kepada juara 1 kita. Apakah ada alasan yang mendorong kalian untuk menang?" Tanya MC.


"Kalau pendapat saya pribadi, alasan saya yang mampu mendorong saya adalah keinginan saya untuk membuat orang tua saya bangga memiliki anak seperti saya," jawab Kelvin.


Dan Lidya bangga memiliki tunangan sepertiku.


Sambung Kelvin dalan hati.


"Anak yang berbakti, sikapmu harus diteladani oleh anak lainnya. Jika semua anak sepertimu, saya yakin hidup semua orang tua akan menjadi tenang dan damai," puji MC.


"Kalau menurut anda, bagaimana Lidya?" Tanya MC.


Kelvin menyenggol pelan Lidya yang kembali melamun.


"Apa ada alasan yang mendorong anda untuk menang?" Ulang MC.


Lidya mengangguk.


"Boleh saya tahu alasannya,"


"Nenek, saya ingin membuat beliau bangga," jawab Lidya.


"Kenapa hanya Nenek? Apa kamu tidak ingin membuat orang tuamu bangga juga?" Tanya MC.

__ADS_1


Lidya tidak menjawab, ia sangat enggan membahas masalah orang tua.


"Lidya juga ingin membuat orang tuanya bangga," Kelvin mengambil alih pertanyaan itu.


"Oh baiklah, Tuan Dae Hyeon silahkan," ucap MC mempersilahkan Dae Hyeon memberikan hadiah.


Juara tiga mendapat piala, sertifikat, bingkisan, dan uang tunai 2 juta rupiah.


Prok... prok...


Semua tamu bertepuk tangan ketika Dae Hyeon selesai memberikan hadiah pada juara 3.


Dae Hyeon memberikan hadiah kepada juara 2, yang beda ukuran piala juara 2 lebih besar dibanding juara 3 dan mereka mendapat uang tunai sebesar 3 juta rupiah.


Dae Hyeon beralih ke juara 1.


Di tatapnya wajah datar Lidya dengan senyum cerah. Mata hijaunya menatap dalam dalam mata coklat Lidya yang mengenakan softlens.


"Selamat," Dae Hyeon mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Lidya setelah selesai memberikan hadiah.


Lidya menatap lekat lekat tangan yang terulur ke arahnya tanpa ada niat membalasnya.


"Lidya," panggil Kelvin dan memberi isyarat agar Lidya membalas uluran tangan Dae Hyeon.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa Lidya mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Dae Hyeon hanya beberapa detik tidak sampai 5 detik.


__ADS_2