
Apalagi dengan wajah tampan yang dia miliki. Membuat para gadis sangat tergila gila dengannya. Bahkan para kaum adam merasa iri dengan nasib yang dipunyai Dae Ryung.
"Baiklah," ucap Dae Ryung.
"Apakah yang dikatakan mahasiswi tadi benar?" Tanya Dae Ryung.
Lidya mengangkat bahunya.
Benar benar gadis ini!!! ~ Dae Ryung.
"Kalau ingin memberi hukuman langsung saja," ucap Lidya dingin.
"Saya tidak bisa menghukum orang yang saya tidak tahu apakah dia bersalah atau tidak," ucap Dae Ryung.
"Saya salah," ucap Lidya yang sudah bosan dengan pembicaraan mereka.
"Kamu yakin, kamu salah? Kalau memang kamu salah kenapa saat saya bertanya kamu malah mengangkat bahu?" Tanya Dae Ryung.
"Katakan saja apa hukuman saya," ucap Lidya dengan nada tinggi.
Dae Ryung menggeleng geleng kan kepalanya menatap gadis aneh didepannya. Baru kali ini ada seorang gadis yang berbicara dengan mada tinggi kepadanya.
"Untuk kali ini, kesalahanmu saya maafkan. Ini adalah kesalahan pertama dan terakhir. Ingat itu," ucap Dae Ryung.
__ADS_1
"Boleh saya pergi sekarang?" Tanya Lidya tanpa menanggapi perkataan Dae Ryung.
Dae Ryung lagi lagi terkejut dengan sikap gadis di depannya ini. Bukannya berkata baik atau sekedar mengangguk, ia malah izin mau pergi.
"Pergilah," jawab Dae Ryung.
Segera Lidya pergi tanpa mengucapkan salam.
"Dasar gadis aneh. Jika saja kau adalah adikku, sudah ku pukul mulutmu itu," ucap Dae Ryung dengan geram.
***
Di sisi lain, Lidya malah memilih keluar dari gedung setelah mendengar percakapan seorang mahasiswi dengan mahasiswi lainnya.
Mereka membicarakan tentang keberhasilan rencana mereka dalam menjebak Lidya.
"Hey, Lidya" sapa Kelvin yang kini berada di samping Lidya.
Lidya tersenyum dengan paksa.
"Bagaimana, apakah gedungnya bagus?" Tanya Kelvin.
"Gedung bagus dengan teman penghuni," jawab Lidya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menemukan teman di sana?" Tanya Kelvin.
"Tidak ada teman," jawab Lidya.
Matanya menatap lurus ke depan dengan pikiran yang berkeliaran.
Memikirkan seorang pria yang ia lihat di cafe waktu lalu bersama Neneknya datang disaat pemakaman Nenek Lidya.
Lidya yakin 100% bahwa pria itu bukan warga Indonesia. Bahkan Lidya menyadari ada sebuah kemiripan antara mereka berdua. Dan hal itu membuat Lidya bingung. Bingung memikirkan apakah mereka memiliki hubungan atau tidak.
"Ada apa?" Tanya Kelvin saat melihat tatapan kosong Lidya.
Lidya menggeleng.
"Apakah kamu rindu Nenekmu?" Tanya Kelvin.
"Nenekku sudah tenang bersama Ibu dan Kakek," balas Lidya.
"Lalu, apa kamu memiliki masalah?" Tanya Kelvin.
"Tidak, aku hanya memikirkan janin yang ada di rahim wanita itu," ucap Lidya.
"Aku merasa kasihan dengannya karena dia akan memiliki seorang Ibu dan Ayah yang jahat. Betapa malangnya nasib anak itu," ucap Lidya.
__ADS_1
"Anak itu akan hidup bahagia. Dia adalah darah daging dari Ayah dan Ibunya. Aku yakin orang tuanya akan menyayanginya," balas Kelvin.
"Aku saja yang darah dagingnya dia acuhkan. Tidak hanya sekali tapi berkali kali. Dari sejak aku kecil hingga aku dewasa dia selalu mengacuhkan ku. Tapi kuharap, nasib anak itu akan lebih baik dariku. Semoga Ayah dan Ibunya berlaku baik padanya. Dan Ayahnya tidak akan menyelingkuhi Ibunya," ucap Lidya.