Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 85


__ADS_3

Kini dia berada di mobil yang terparkir rapi di parkiran hotel yang akan dia tinggali selama di Indonesia.


"Berpura pura tersenyum bahagia disaat hati sedang sakit sangat menyakitkan. Berpura pura baik baik saja, ketika aku ingin sekali menangis. Ibu, aku tidak bisa membebani Ibu Kak Dae Ryung dengan masalahku. Dia memiliki trauma dan aku tidak mungkin membebaninya. Untuk Ayah dan Kakak mereka memiliki dunia sendiri. Bu, aku merindukanmu. Aku membutuhkanmu. Saat ini tidak ada orang yang bisa kujadikan tempat untukku bersandar. Aku lelah Ibu, aku ingin menyerah sekarang" Lidya berkata dengan berderai air mata sambil memukul mukul kepalanya ke stir mobil.


Hatinya hancur! Walau sudah lima tahun berlalu, tapi tetap saja dia masih merasa kehilangan. Di negara ini dia kehilangan Ibu, Kakek, Nenek, dan juga Kelvin. Walau dia memiliki keluarga di negara lain sana, tapi hatinya masih merasa kesepian. Dia bersikap layaknya seorang putri hanya untuk tujuan Ayahnya menikahi Ibunya. Memang Dae Hyeon tidak pernah memaksanya melakukan hal itu. Namun dialah yang ingin melakukannya.


Drttt...


Lidya menghapus air matanya dan segera mengambil ponselnya.


"Ya?"


"Bos maaf mengganggu istirahat anda" orang diseberang sana mengira Lidya sedang beristirahat. Mengingat dia baru melakukan perjalan udara.


"Ada apa?" Tanya Lidya seperti biasa dengan nada dingin.

__ADS_1


"Bos, di perusahaan ada sedikit masalah. Ada yang melakukan korupsi. Uang perusahaan menghilang satu miliar," jawab orang yang adalah utusan perusahaan.


"Saya akan kesana," Lidya segera mematikan telepon dan langsung meluncur ke perusahaan Ayahnya yang berada di Indonesia.


"Bawa rekaman CCTV di tempat bersangkutan kepada saya. Dalam setengah jam rekamannya harus sudah berada di meja kerja saya. Bawa juga laporan keuangan beberapa bulan belakangan ini. Panggil manajer keuangan untuk segera menghadapku. Sekarang juga," perintah Lidya dengan tegas kepada asistennya.


"Baik, bos" balasnya patuh dan segera melakukan perintah Lidya.


Lidya berjalan ke arah ruangannya.


Ia duduk di kursi menunggu semua yang dia butuhkan sambil mengerjakan beberapa pekerjaan yang ada di meja kantornya.


Lidya tidak membalas. Ia segera membuka rekaman yang barusan terkirim ke komputernya.


"Yori, masuklah kedalam," titah Lidya dengan suara tenang namun tegas.

__ADS_1


Yori, asistennya itu segera masuk.


Lidya memperhatikan dengan seksama rekaman rekaman itu. Mempercepat lalu memperlambatnya. Menghentikan dan menzoomkan rekaman itu.


Dia melakukan hal yang sama di rekaman CCTV hari berikutnya. Dan kecurigaannya jatuh kepada seseorang. Yang dari postur tubuhnya Lidya tahu siapa itu. Namun orang biasa tidak akan bisa mengetahui orang itu dapat dicurigai karena sikapnya yang tampak biasa biasa saja. Dan dia melakukannya tenang. Membuka brankas seakan akan itu adalah tuntutan pekerjaan. Terutama dia melakukannya karena ada banyak orang.


Benar benar licik!


Terdengar suara ketukan dari luar.


Lidya membuka pintu dengan remot. Yola memiliki akses untuk masuk ke ruangannya. Itu sebabnya Lidya tidak perlu membuka pintu dengan remot jika yang masuk adalah Yola.


"Masuk," ucap Lidya.


Manajer keuangan masuk dengan laporan laporan keuangan di tangannya.

__ADS_1


"Ini laporan yang anda inginkan bos," manajer keuangan itu menyerahkan semua laporan yang dia bawa dan meletakkannya di atas meja kerja Lidya.


Lidya diam tidak berkata apapun. Tangannya terulur mengambil laporan laporan itu.


__ADS_2