
"Ada apa?" Tanya Leny menanyakan apa yang terjadi kepada salah satu pengunjung taman.
"Ayah pria itu sepertinya mengalami sesak nafas," jawab pengunjung itu.
Leny sedikit tersentak lalu menerobos masuk ke dalam sambil berkata "permisi".
"Tuan, saya adalah seorang mahasiswi kedokteran. Saya mengerti cara melakukan pertolongan pertama bagi pasien penderita sesak nafas," ucap Leny menawarkan untuk menolong.
"Tolong selamatkan Ayah saya, dia menderita penyakit paru paru," ucap Angga.
Leny mengangguk mengerti dan menyuruh Angga sedikit menjauh. Lalu ia mulai memberikan pertolongan pertama sambil menunggu ambulan yang dipanggil salah satu pengunjung baik hati datang.
Setelah ambulan datang, Ayah Angga langsung dibawa ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Ayah saya dok?" Tanya Angga.
"Ayah anda dalam keadaan baik. Untunglah dia mendapat pertolongan pertama. Jika tidak mungkin Ayah anda sudah akan... tiada," jawab dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap sang dokter ketika Angga tidak merespon dirinya.
Angga mengangguk kecil.
"Terima kasih telah menyelamatkan nyawa Ayahku," ucap Angga setelah dokter pergi kepada Leny yang tadi ikut bersama dirinya dan Ayahnya untuk memastikan kondisi Ayahnya tetap stabil.
__ADS_1
"Tidak masalah, Tuan. Memang sudah tugas sebagai sesama manusia membantu yang membutuhkan," ucap Leny.
"Saya permisi Tuan," ucap Leny lalu pergi dari rumah sakit menuju rumah orang tuanya.
"Ibu, Ayah" panggil Leny saat melihat kedua orang tuanya dengan bahagia.
"Leny, ini kamu nak? Kamu benar benar ada disini? Ah... Ibu bahagia banget" ucap wanita berusia 40-an langsung memeluk tubuh putrinya dengan erat.
"Ibu, Leny kangen" ucap Leny membalas pelukan Ibunya tak kalah erat.
"Leny," panggil Ayah.
"Ayah," Leny langsung berjalan kearah Ayahnya dan mencium kedua pipi Ayahnya dengan penuh rasa sayang.
"Ayah," Leny berucap lirih karena mengingat akan kenangan pahit.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Ibu.
"Ibu, pria itu membohongi Leny. Sebenarnya dia sudah memiliki istri dan anak. Dia menutupi Leny, Bu, Yah," ucap Leny mulai terisak.
"Pria itu menipumu, nak? Berani beraninya dia" Ayah Leny berucap dengan amarah yang memuncak di dadanya.
Tidak akan ada seorangpun Ayah yang rela jika anaknya disakiti oleh siapapun itu.
__ADS_1
"Ayah akan menemuinya. Akan Ayah bunuh dia dengan tangan Ayah sendiri," sambung Ayah Leny yang dipenuhi dengan amarah.
"Ayah, jangan bunuh dia" ucap Leny.
Leny tahu bahwa Ayahnya itu tidak pernah main main jika sudah berkata akan membunuh seseorang. Karena Ayahnya adalah seorang tentara.
"Tidak untuk kali ini, nak. Ayah tidak akan biarkan siapapun hidup setelah melukai putri Ayah," ucap Ayah Leny.
"Tidak Ayah, jangan lakukan itu" ucap Leny.
"Biarkan saja Ayahmu melakukannya Leny. Biar pria itu tahu kesalahannya," ucap Ibu Leny dengan amarah yang tak kalah besar dari suaminya.
"Jangan Bu," ucap Leny semakin menangis.
"Kamu sudah disakiti dan kamu masih ingin menyelamatkannya. Jangan bodoh Leny," ucap Ayah Leny.
"Leny tidak menyelamatkannya Ayah, Leny menyelamatkan anak Leny..." ucap Leny berteriak.
Ayah dan ibunya tampak terkejut dengan teriakan putri semata wayang mereka itu.
"Ya Ayah, Ibu. Leny saat ini sedang mengandung usianya masih satu bulan," ucap Leny dengan menunduk perasaannya campur aduk antara harus senang atau sedih.
Leny mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung beberapa hari sebelum dia balik ke Indonesia.
__ADS_1