Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 18


__ADS_3

Lidya yang kala itu masih menjadi gadis ceria hanya tersenyum membalas sikap tak baik dari Gisel.


Tapi dengan Lidya yang bersifat dingin sekarang, bagaimana mungkin dia mau bersikap ramah kepada Gisel.


Tanpa membalas ucapan Gisel, Lidya memilih mundur ke belakang.


Gisel memberikan semua barang belanjanya.


Mulai dari baju branded, tas branded, sepatu branded, dan banyak lagi.


"Lihatlah, Ayah ku sangat baik kepadaku. Dia mau memberikanku banyak uang hanya untuk membeli semua ini. Yang harganya secuil baginya," ucap Gisel saat penjaga kasir sedang menghitung semua belanjaannya.


"Semuanya dua ratus lima puluh juta, Nona" ucap penjaga kasir.


"Mau bayar pakai uang atau kartu, Nona?" Tanya penjaga kasir.


"Aku memakai kartu kredit," jawab Gisel yang sengaja agak membesarkan suaranya agar di dengar oleh Lidya.


Gisel memberikan kartu kreditnya kepada penjaga kasir. Penjaga kasir itu menerima kartu dari Gisel dan menggeseknya di alat yang ada di atas meja kasir.


"Maaf, Nona. Tapi kartu kredit Anda tidak dapat digunakan," ucap penjaga kasir itu.


"Bagaimana bisa? Jangan berbohong kau ya. Bilang saja kalau kau itu mau sengaja untuk membuatku malu," ucap Gisel dengan berteriak kesal.


"Jangan membuat keributan, Nona" tegur penjaga kasir itu.


"Jangan menegurku, aku bisa menyuruh Ayahku membeli semua toko ini dan kau," ucap Gisel.


"Keamanan," kasir itu memanggil keamanan untuk mengusir Gisel.


"Usir, gadis ini. Dia telah membuat keributan," lapor penjaga kasir saat keamanan datang.


Segera keamanan itu membawa Gisel pergi dari sana.


"Maaf atas ketidak nyaman para pelanggan," ucap kasir tersebut.


Lidya menaruh barang belanjaannya ke atas meja kasir. Setelah membayar Lidya pergi pulang ke apartemennya dengan berjalan kaki.


Lidya sempat melihat Gisel yang sedang marah marah kepada keamanan di depan toko tadi.


Dasar aneh,


Lidya berucap dalam hati.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Lidya membuka pintu menggunakan key card miliknya.


Pintu terbuka menampakkan Nenek yang sedang menutup mata di atas sofa, dengan gelas setengah berisi dan juga plastik obat di atas meja.


"Nenek, aku pulang," ucap Lidya berpura pura menutup pintu agar Neneknya tidak tahu dia melihat obat di atas meja.


Nenek Lidya yang mendengar suara cucunya, cepat cepat menyusun obat dan menyembunyikannya ke dalam plastik, lalu menyembunyikannya di balik bantal sofa.


"Kamu sudah sampai, sayang?" Tanya Nenek.


"Kalau aku belum sampai, bagaimana aku bisa berada si sini?" Lidya balik bertanya.


"Sini duduk dulu," ucap Nenek Lidya.


Lidya duduk di samping Neneknya seraya meletakkan paper bag yang ada di tangannya ke atas meja.


"Lidya, jika seandainya Nenek sudah pergi nanti. Jangan banyak sedih ya, kamu gadis kuat Nenek. Dan kamu selamanya harus tetap menjadi gadis kuat Nenek," ucap Nenek Lidya.


Tiba tiba Lidya memeluk Nenek nya erat, sangat erat.


"Lidya gak akan sanggup jika Nenek meninggalkan Lidya. Lidya sudah kehilangan Kelvin dan juga Ibu. Lidya gak mau kehilangan Nenek juga," ucap Lidya sambil menangis.


"Lidya, dengar Nenek," Nenek Lidya melepaskan pelukan Lidya dan memegang kedua pipi Lidya.


Lidya menggeleng, tidak mau menerima ucapan Neneknya itu.


"Tidak akan ada yang bisa menggantikan Nenek, siapapun itu. Kematian Kelvin dan Ibu masih membekas di hati dan pikiran Lidya. Jangan membuat Hati dan pikiran Lidya hancur dengan kepergian Nenek," ucap Lidya.


"Lidya tahu sekarang Nenek sedang sakit. Nenek menderita gagal ginjal. Lidya tahu, Nek. Dokter juga bilang kalau Nenek tidak segera mendapat donor, Nenek... Nenek akan..." Lidya menangis bertambah kuat.


"Untuk menyelamatkan Nenek, Lidya rela mengorbankan hidup Lidya. Hidup Lidya tidak berguna jika tidak ada Nenek bersama Lidya. Lidya bisa meninggal dengan perlahan lahan saat Nenek meninggalkan Lidya," ucap Lidya yang tak kuasa untuk berhenti menangis.


"Lidya, bukan kehendak Nenek untuk memiliki penyakit ini. Tapi semua itu karena takdir, sayang" ucap Nenek Lidya.


"Kendalikan lah dirimu, Lidya" ucap Nenek Lidya.


"Kalau Nenek memang ingin bersama Lidya, ikutilah pengobatan Nenek. Jangan pikirkan biayanya. Lidya akan membiayai semua pengobatan Nenek," ucap Lidya.


"Jangan, nanti Nenek merepotkan mu. Biayanya sangat banyak Lidya. Nenek tidak akan membiarkanmu bersusah payah untuk bekerja keras," ucap Nenek Lidya.


"Nenek tenang saja, Lidya punya banyak uang. Dengan uang itu, Nenek bisa mengikuti pengobatan," ucap Lidya.


"Itu uangmu Lidya, hak mu" ucap Nenek Lidya.

__ADS_1


"Tapi Lidya tidak memerlukan uang ini. Uang ini juga milik Ibu. Yang artinya Nenek punya hak untuk uang ini," ucap Lidya.


"Tapi-"


"Tidak ada tapi tapi, Nek. Besok Nenek akan mulai mengikuti pengobatan," ucap Lidya tak ingin dibantah.


"Nenek silahkan untuk berganti pakaian. Agar kita bisa segera tidur," ucap Lidya.


"Baiklah, cucu Nenek sayang" ucap Nenek Lidya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar dengan paper bag di tangannya.


Setelah Nenek Lidya masuk ke dalam kamar. Lidya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu Dokter terkenal ahli pengobatan organ dalam di kota itu.


Lidya mengisi formulir secara online agar Neneknya bisa segera mengikuti pengobatan besok.


Lidya melihat berapa yang harus dia bayar untuk pengobatan Neneknya. Untung saja uang di dalam rekeningnya cukup untuk biaya pengobatan Neneknya selama dua bulan.


Jika aku hanya mengandalkan uang dari Ibu, aku tidak akan bisa melunasi pengobatan Nenek.


Lidya berkata dalam hati.


Tapi jika aku memenangkan olimpiade itu, aku akan mendapatkan uang. Aku akan berusaha seoptimal mungkin untuk memenangkannya demi Nenek. Semoga Nenek bisa segera sembuh dan tetap bisa bersamaku.


Lidya berharap dalam hati.


Drtt... Drtt...


Ponsel Lidya berbunyi menandakan ada yang menghubunginya. Lidya melihat nomor si pemanggil yang tidak tersimpan di dalam daftar kontak ponselnya.


Karena nomor si pemanggil tidak di ketahui, Lidya men-direject panggilan tersebut.


Si pemilik nomor terus saja menghubungi Lidya. Lidya yang merasa terganggu dengan semua panggilan itu, langsung memblokir nomor yang menghubunginya itu.


Sebuah panggilan kembali masuk ke ponsel Lidya dengan nomor berbeda.


Akhirnya Lidya menerima panggilan itu, untuk tahu siapa orang yang sudah berani mengusiknya malam malam begini.


"Apa yang Anda inginkan?" Tanya Lidya menanyakan maksud orang yang menelponnya.


Bukannya menjawab, orang di seberang sana malah mengakhiri panggilannya.


Dasar gila,


Lidya mengumpat dalam hati.

__ADS_1


Karena Lidya sudah sangat kesal, Lidya menghidupkan mode pesawat dalam ponselnya. Agar tidak ada yang menghubunginya lagi.


__ADS_2