Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 51


__ADS_3

Lidya duduk di atas tempat tidur. Ia melirik tas dan bingkai foto yang dibawanya tadi.


Ada rasa sesak di hatinya. Dia merasa dia akan menangis tapi air mata dan suara isakan tidak keluar dari mata ataupun mulutnya.


Dia ingin menangis karena foto itu. Di foto itu Ibunya menikah dengan pria lain. Pemikiran negatif menghampirinya.


Apa Ibunya selingkuh? Apa Ibunya mengkhianati Ayahnya? Apa itu sebabnya Ayahnya tidak menyukainya? Karena Ibunya berselingkuh? Apa Ibunya adalah wanita semurahan itu? Wanita yang merawat dan memberinya kasih sayang, apakah wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang ada dipikirannya?


Pemikiran itu seakan menghantui Lidya.


Makan siang akan dilakukan dalam 10 menit. Diharapkan semua mahasiswi segera ke meja makan.


Terdengar suara pengumuman yang berhasil membuyarkan lamunan Lidya.


Lidya mengambil ponselnya dan mendapati sebuah pesan dari nomor Kelvin. Lidya membuka pesan foto itu.


Foto itu adalah hasil lomba tadi. Nama kampus Lidya dan Kelvin berada di nomor 5. Disitu tertulis nilai Lidya dan Kelvin yang digabungkan sehingga membuat mereka berada pada nomor 5.


Setelah itu Lidya meletakkan ponselnya kembali. Lidya berdiri dan bersiap untuk berpartisipasi dalam makan siang.


***


Tiba di meja makan, Lidya melihat banyak kursi yang kosong. Mungkin sebagian peserta yang gagal memilih untuk kembali. Sehingga kini banyak kursi yang tak berpenghuni. Di ujung meja, duduk seorang pengawas wanita. Dae Ryung tidak terlihat siang itu.

__ADS_1


"Silahkan duduk semuanya, kita akan mulai makan siang hari ini," ucap wanita itu.


"Sebelum itu perkenalkan nama saya Astrida. Kalian bisa manggil saya dengan sebutan kak Rida," ucap wanita itu.


"Baik, Kak" balas beberapa mahasiswi yang sudah datang.


"Marilah kita berdoa menurut agama masing masing sebelum memulai acara makan siang ini," ucap Kak Rida.


"Doa dimulai,"


Semua mahasiswi dan Kak Rida mulai berdoa.


"Doa selesai,"


Mereka mulai memakan hidangan siang itu dengan kesunyian.


Beberapa mahasiswi lain tampak membalas ucapan Kak Rida. Namun Lidya tidak memperhatikan hal itu. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Setelah Kak Rida pamit meninggalkan meja makan. Hampir semua mahasiswi juga turut meninggalkan meja makan.


"Hay," sapa seorang mahasiswi yang mendekati Lidya.


Namun Lidya terlalu larut dalam pikirannya.

__ADS_1


"Hay," sapa orang itu sambil melambai lambaikan tangannya di hadapan Lidya.


Lidya tersadar dan melirik orang itu.


"Hay, boleh kenalan?" Tanya gadis itu.


Lidya mengangguk.


"Namaku Quin," ucap Quin seraya mengulurkan tangannya.


"Lidya," ucap Lidya seraya membalas uluran tangan gadis itu.


Setelah beberapa detik Lidya langsung menarik kembali tangannya.


"Dari kampus mana?" Tanya Quin.


"Universitas x," jawab Lidya.


"Wah, kamu beruntung sekali. Masuk ke kampus itu adalah impianku sejak kecil. Tapi karena masalah ekonomi, aku tidak bisa," ucap Quin terlihat sedih.


Lidya mengangguk mengerti lalu berdiri dari kursi dan berjalan meninggalkan Quin.


"Hey, tunggu dulu. Kamu mau kemana?" Tanya Quin.

__ADS_1


"Kamar," jawab Lidya singkat.


"Baiklah, sampai jumpa nanti malam. Aku akan menunggumu," ucap gadis itu seraya melambaikan tangan.


__ADS_2