Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 14


__ADS_3

"Batalkan saja pemesanannya, aku yang akan mengantarmu pulang," ucap Kelvin.


Lidya menurut, ia membatalkan pemesanannya dan menunggu Kelvin yang sedang mengambil kunci mobil diluar dekat mobil Kelvin.


Sudah jam segini lagi, pasti pria itu akan marah marah. Entah kenapa belakangan ini dia selalu memarahi apa yabg sedang kulakukan. Dulu saja dia bodo amat aku hidup atau mati. Dan sekarang dia selalu marah saat aku tidak ada kabar dan mempermalukannya. Dasar sialan.


Gerutu Lidya dalam hati.


Tidak berapa lama Kelvin datang dan mereka langsung masuk ke dalam mobil Kelvin.


***


Lidya menatap keluar dari kaca depan.


Malam yang gelap dengan bulan dan bintang. Jalanan yang cukup ramai dipenuhi kendaraan beroda dua dan empat.


Tidak berapa lama mereka sampai dihalaman rumah Lidya.


"Apa kamu tidak merasa sakit lagi?" Tanya Kelvin seraya menatap mata Lidya lekat lekat


"Saya sudah baik baik saja," jawab Lidya seraya membuka pintu mobil.


"Kalau begitu aku langsung pergi ya," ucap Kelvin.


Lidya mengangguk.


Setelah mobil Kelvin tidak terlihat lagi, Lidya masuk kedalam rumah.


"Itu Lidya, Yah" ucap Ibu tiri Lidya saat melihat kedatangan Lidya.


Sepertinya mereka sudah menunggu kedatangan Lidya sedari tadi.


Ayah Lidya bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Lidya.


"Mau apa lagi Anda sekarang?" Tanya Lidya dengan mata menantang kepada Ayahnya.


"Kamu kemana aja, jam segini baru pulang? Trus baju kamu ngapain pakai piyama. Apa jangan jangan kamu melakukan sesuatu yang kurang ajar diluar sana? Kamu sama saja dengan Ibumu, sama sama wanita mura…"


Plak...


Sebelum Ayah Lidya menyelesaikan kata katanya, Lidya menampar Ayahnya.


"Anda dan istri Anda ini yang murahan. Saya tidak akan pernah terima jika Anda berani menghina Ibu saya dihadapan saya," ucap Lidya. Kini matanya menunjukkan api kemarahan.


"Lidya," Bentak Ibu Lidya yang terkejut dengan sikap dan kata kata Lidya.


"Apa? Apa Anda pikir saya gadis lemah? Saya tidak dapat melawan? Salah. Saya bukan gadis lemah. Jika kalian masih menghina saya, mungkin saya bisa mentoleransi kan sifat kalian. Tapi menghina seseorang murahan, padahal dialah murahan. Tidak tahu malu. Pencuri meneriaki seseorang pencuri, cih" ucap Lidya.


"Lidya," Ayah Lidya membentak Lidya.


"Rafi," Lidya balas membentak Ayahnya dengan nama Ayahnya.

__ADS_1


Ayah Lidya bersiap mengayunkan tangannya untuk menampar Lidya. Tapi sebuah tangan menahan gerakan Ayah Lidya.


"Jangan bersikap kurang ajar, Tuan" ucap orang itu yang tidak lain adalah Kelvin.


"Nak, Kelvin" ucap Ayah Lidya kaget.


"I-ini tidak seperti yang Anda lihat nak. Saya bisa jelaskan," ucap Ayah Lidya yang takut namanya akan semakin buruk di hadapan Kelvin dan keluarganya.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Tuan. Semuanya sudah jelas," ucap Kelvin seraya menghempaskan tangan Ayah Lidya.


Kelvin menarik tangan Lidya keluar dari rumah dan menyuruh Lidya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Lidya menurut. Ia masuk kedalam mobil.


Setelah itu Kelvin juga masuk dan menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Lidya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Kelvin kepada Lidya yang sedari tadi hanya diam saja.


Lidya menatap tangannya yang menampar Ayahnya. Tamparan pertaman yang Lidya berikan. Seumur hidup Lidya, itulah tamparan pertama yang dia hadiahkan untuk Ayahnya. Walau Lidya membenci Ayahnya, tapi Lidya pernah sangat menyayangi pria itu. Jauh di lubuk hati Lidya yang paling dalam, ia masih menyayangi Ayahnya.


"Lidya," panggil Kelvin.


"Hmm,"


"Apa Ayahmu selalu bersikap begitu?" Tanya Kelvin.


"Kemana Anda akan membawa saya?" Tanya Lidya tanpa menjawab pertanyaan Kelvin.


"Itu tidak perlu," ucap Lidya.


Kelvin menepikan mobilnya untuk berhenti.


"Lidya, aku tidak ingin fisik dan mental mu terganggu karena sikap Ayah dan Ibu tiri mu," ucap Kelvin.


"Jangan terlalu mengatur saya," ucap Lidya.


"Aku tidak mengatur mu. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap Kelvin.


"Anda tidak memiliki hak untuk mengatur saya," ucap Lidya.


"Persiapkan dirimu, minggu depan kita akan bertunangan," ucap Kelvin yang mengejutkan Lidya.


Kelvin sudah tahu Lidya akan berucap begitu. Jadi dia sudah mempersiapkan dan membicarakan pertunangan kepada orang tuanya


"Jangan bercanda," ucap Lidya.


"Aku tidak bercanda Lidya. Aku serius. Kita akan bertunangan minggu depan," ucap Kelvin serius.


"Itu terlalu cepat," ucap Lidya tak terima.


"Dalam syarat mu kamu tidak melarang kapan kita akan bertunangan," ucap Kelvin.

__ADS_1


Lidya terdiam. Lidya menatap jari manis tangan kanannya yang terdapat cincin pemberian sang kekasih.


Apa itu artinya aku harus melepaskan cincin ini?


Lidya bertanya dalam hati.


Kelvin kembali menjalankan mobilnya sambil melirik Lidya yang terus memperhatikan tangannya.


"Ada apa dengan tanganmu?" Tanya Kelvin.


Lidya hanya diam tanpa menjawab perkataan Kelvin. Ia sedang berusaha meyakinkan pikiran dan hatinya untuk mau melepaskan cincin itu.


Lidya ingat dulu cincin itu Kelvin belikan untuknya sebagai tanda persahabatan. Kelvin membeli dua cincin yang memiliki inisial nama mereka berdua. Cincin yang berinisial nama Kelvin ada bersama Lidya. Sedangkan cincin yang berinisial nama Lidya ada bersama Kelvin.


Kedua cincin itu Kelvin beli dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Demi untuk membeli cincin itu, Kelvin rela bekerja paruh waktu disebuah cafe.


Mengingat usaha Kelvin untuk membelikan cincin itu, bagaimana mungkin Lidya rela untuk melepaskan cincin itu yang artinya sama saja dia tidak menghargai usaha Kelvin.


"Apakah saat bertunangan saya harus memakai cincin yang Anda berikan?" Tanya Lidya.


"Tentu saja," jawab Kelvin.


"Apa tidak bisa memakai cincin yang saya inginkan?" Tanya Lidya.


"Tidak bisa," jawab Kelvin.


Lidya hanya mengangguk mengerti sambil menatap keluar jendela.


Kelvin, apa sampai disini saja aku harus memakai cincin pemberianmu ini di jari manis ku? Apa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersatu?


Lidya bertanya dalam hati sambil melirik cincin miliknya.


Kenapa kita harus bertemu jika akhirnya kita harus berpisah? Mengapa kita saling mencintai jika akhirnya cinta itu tidak dapat bersatu? Hidupku seakan dipermainkan oleh takdir. Takdir yang selalu membuat banyak sekali rintangan dalam hidup ini. Apa aku tidak bisa mencintai satu pria saja seumur hidupku?


Lidya kembali membatin.


"Lidya," panggil Kelvin.


Lidya yang masih hanyut dalam pikirannya tidak mendengar panggilan Kelvin.


"Lidya," panggil Kelvin sekali lagi dengan suara agak keras.


Lidya segera tersadar dari lamunannya mendengar suara Kelvin yang lumayan keras.


"Kita sudah sampai," ucap Kelvin seraya membuka seatbealt nya. Lidya juga melakukan hal sama seperti Kelvin. Setelah itu mereka berdua keluar dari dalam mobil.


Lidya menatap gedung yang menjulang tinggi ke atas. Inilah yang dinamakan gedung pencakar langit.


Apartemen?


Lidya berucap dalam hati saat menyadari gedung apa dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2