
Lidya terbangun dari mimpi buruknya dengan keringat dingin membasahi wajahnya.
Lidya memegang dadanya sebelah kiri. Jantungnya berdegup kencang.
"Ada apa?" Tanya Kelvin yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Lidya.
Lidya menarik nafas perlahan lalu membuangnya secara perlahan juga. Itu ia lakukan selama beberapa kali, bermaksud menetralkan detakan jantungnya.
"Apa mimpi di sore hari itu dapat menjadi kenyataan?" Tanya Lidya.
"Tidak tahu. Yang aku pernah dengar, mimpi disiang hari yang akan menjadi nyata. Tapi bagiku mimpi itu hanya bunga tidur," jawab Kelvin.
Lidya mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil yang baru saja berhenti. Merasa tidak puas dengan jawaban yang Kelvin berikan.
Lidya keluar dari mobil dengan membawa koper mini yang berisi keperluannya.
Mereka berdua tinggal disebuah penginapan yang sudah disiapkan untuk para peserta juga guru pembimbing. Setiap kampus diberikan tiga kamar. Dua untuk peserta dan satu untuk guru pembimbing.
Penginapan itu dibagi menjadi tiga gedung. Gedung pertama untuk guru pembimbing, gedung kedua untuk peserta cowok dan gedung ketiga untuk peserta cewek.
Lidya memasuki salah satu kamar, yang di pintunya tertulis nama kampusnya. Tapi saat dia sudah berada di dalam. Ia malah melihat mahasiswi lain yang berada di dalam kamar.
"Hey, beraninya kau masuk ke kamarku. Cepat keluar," ucap mahasiswi itu marah.
Dasar aneh!
__ADS_1
Pikir Lidya.
"Maaf, Nona. Tapi ini kamar saya mahasiswi kampus x" ucap Lidya.
Tiba tiba mahasiswi itu berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Lidya. Tapi dengan sigap Lidya menyentak kan tangan mahasiswi itu kasar.
"Ayo kita buktikan ini kamar siapa," mahasiswi itu berjalan menuju luar kamar.
"Lihat, disini tertulis nama kampusku bukan kampusmu" ucap mahasiswi itu.
Lidya memperhatikannya. Nama kampusnya berganti menjadi nama kampus lain.
Ternyata kegaduhan mereka mengundang kedatangan mahasiswi lainnya.
"Kalau rabun tuh pakai kacamata. Jadi orang tuh jangan sok," ucap mahasiswi itu yang seolah ingin mempermalukan Lidya.
Tapi Lidya hanya memasang wajah datarnya.
"Ada apa ini?" Tanya seorang pemuda yang tiba tiba datang. Sepertinya pemuda itu adalah salah satu panitia.
"Ah..." beberapa mahasiswi berteriak histeris saat melihat wajah tampan pemuda itu.
"Ini kak, dia masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Dan bertingkah seolah olah dia adalah pemilik kamarku," adu mahasiswi itu.
"Apa benar yang dia katakan?" Tanya pemuda asal korea itu kepada Lidya.
__ADS_1
Lidya mengangkat bahunya acuh.
"Lihat kak, sikapnya saja seperti itu," ucap mahasiswi itu seolah memprovokasi.
"Sudah sudah, sebaiknya kalian semua bubar. Saya akan berbicara kepada adik ini," ucap pemuda itu.
Setelah semua para mahasiswi pergi, pemuda itu menyuruh Lidya mengikutinya menuju sebuah ruangan yang tidak Lidya ketahui ruangan apa itu?
"Duduklah," ucap pemuda asing itu.
Lidya tetap berdiri.
"Dasar keras kepala," ujar pemuda itu.
"Kalau ingin berdiri, berdirilah sampai saya selesai berbicara denganmu," ucap pemuda itu.
"Pertama perkenalkan nama saya Han Dae Ryung. Kamu bisa memanggilku Kak Dae Ryung," ucap pemuda itu.
"To the point saja," ucap Lidya dengan wajah datarnya.
Baru kali ini ada gadis yang tidak ingin mendengarkan ku berbicara dan meminta langsung keinti permasalahan
ucap Dae Ryung aneh.
Lahir sebagai pewaris tunggal keluarganya membuat ia banyak digila gilai para kaum hawa.
__ADS_1
****
Goodbye bulan Maret, welcome bula April.