Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 49


__ADS_3

"Akhirnya," Lidya merasa bahagia saat dia tiba di tengah tengah labirin.


Senyum di bibirnya semakin melebar saat melihat apa yang ada di hadapannya.


Sebuah kolam kecil juga ayunan. Kolam dan ayunan itu kotor dipenuhi debu. Air kolam itu bahkan berwarna hijau gelap tapi tetap saja Lidya menyukainya.


Lidya berjalan perlahan, lalu duduk di ayunan. Ia menyeka keringat yang membasahi dahinya.


Sesuatu mencuri perhatian Lidya, di tempat itu ada sebuah meja kecil dan disampingnya terdapat sebuah bingkai yang ditutupi kain.


"Apakah ini sungguh labirin biasa?" Tanya Lidya.


Entahlah, ia tidak tahu siapa yang sedang diajaknya bicara saat ini.


Karena penasaran, Lidya berjalan kearah bingkai juga meja yang diatasnya terdapat sebuah bunga yang sangat kering.


Jika ada orang yang melihat tempat ini, sebagian dari mereka akan berpikir bahwa tempat ini menyeramkan, sungguh menyeramkan.


Lidya mengangkat kain yang menutupi bingkai itu. Tapi saat dia baru memegang kain, ponselnya tiba tiba berdering dengan keras.

__ADS_1


Lidya tidak jadi melihat bingkai itu dan berlari mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Tertera nomor Kelvin di layarnya. Setelah menekan ikon hijau, Lidya meletakkan ponselnya di telinga kanannya.


"Ada apa?" Tanya Lidya.


"Kamu dimana?" Tanya Kelvin dengan nafas terengah engah.


Saat keluar dari ruangannya Kelvin langsung berlari mencari Lidya. Tapi ia tidak menemukan Lidya dimana mana.


"Aku sedang mencari udara segar," jawab Lidya.


"Cepatlah kemari, sebentar lagi hasil lombanya akan diumumkan," ucap Kelvin.


"Kurang lebih 10 menit lagi," jawab Kelvin.


"Baiklah, kau tidak perlu menungguku. Aku akan datang ke sana setelah urusanku selesai. Saat kau ingin kembali, pergilah sendiri tidak perlu menungguku," ucap Lidya.


"Urusan apa? Apa urusannya sangat penting?" Tanya Kelvin.

__ADS_1


"Ya," jawab Lidya.


"Baiklah, akan aku fotokan hasil lombanya dan akan aku kirimkan kepadanya. Tidak perlu terburu buru menyelesaikan urusanmu. Dan kamu juga harus jaga kesehatan, jangan lupa untuk makan dan istirahat," ucap Kelvin.


"Terserah," balas Lidya seraya mematikan sambungan telepon.


Tapi, setelah itu Lidya tersenyum bahagia. Ternyata masih ada orang yang memperdulikannya setelah kematian Neneknya.


Lidya sengaja tidak ingin melihat hasil lomba. Lidya tahu, semua peserta lomba pasti akan berkerumunan dan berlomba lomba untuk melihat hasil kerja keras mereka.


Hal itu adalah salah satu yang tidak Lidya sukai. Karena di saat seperti itu mereka akan saling mendorong yang dapat membuat seseorang terjatuh.


10 menit ditambah 30 menit sama dengan 40 menit. Lidya berencana akan melihat hasil tesnya setelah 40 menit dari sekarang. Karena Lidya yakin setelah 30 menit pengeluaran hasil, maka tidak akan banyak orang lagi yang akan berdiri di depan mading. Paling hanya akan ada satu dua orang.


Mata Lidya kembali terfokus pada bingkai itu, ia dapat melihat bingkai berwarna putih dengan hiasan berwarna emas, tampak elegan sangat elegan.


Tangan Lidya kembali meraih kain berwarna putih yang dipenuhi debu itu. Menggerakkan tangannya untuk mengangkat kain itu. Tangannya terpaku di angin, senyum yang sedari tadi ada di wajahnya seketika memudar. Seluruh anggota tubuhnya terasa kaku.


Kakinya melangkah dengan bergetar ke belakang. Matanya memerah, perasaannya campur aduk.

__ADS_1


"Ti-tidak! I-ni salah! I-ni salah! Tidak mungkin wanita itu adalah..."


Ibu!!!


__ADS_2