
... Saat itu orang yang menemukan Kelvin mengantar Kelvin ke kantor polisi untuk mencari orang tua kandungnya. Namun polisinya malah acuh. Apalagi mereka orang sederhana jadi polisi hanya menganggap mereka sebelah mata. Saat itu Kelvin juga tidak mengingat apapun sehingga ia tidak bisa mengatakan dimana alamatnya. Mulai hari itu mereka mengangkat Kelvin sebagai anak mereka sendiri," ucap Mommy Kelvin
***
Sudah berjam jam mereka menunggu bahkan hari sudah gelap. Sudah lebih dari tiga jam mereka menunggu namun belum ada tanda tanda operasi selesai.
"Lidya minumlah, kamu belum minum sedari tadi," ucap Dae Ryung kembali menawarkan Lidya minum.
Lidya kembali menggeleng.
"Lidya minumlah. Jika kamu sakit siapa yang akan mengurus pria itu nanti?" Kini Dae Hyeon ikut berbicara.
"Apa Kelvin akan sedih jika aku sakit?" Tanya Lidya.
"Iya. Minumlah jika kamu tidak ingin pria itu sedih," jawab Dae Hyeon.
Lidya mengangguk dan meminum teh yang sudah diganti yang baru.
"Cucilah mukamu. Dae Ryung temani adikmu ketoilet," ucap Dae Hyeon yang diangguki Dae Ryung.
"Ayo," Dae Ryung mengulurkan tangannya kepada Lidya.
Lidya tidak ada niat untuk pergi. Dia menatap pintu ruang operasi dengan lekat.
__ADS_1
"Lidya pergilah. Kamu tidak mau bukan jika nanti pria itu melihat wajahmu yang kusut sehabis menangis?" Tanya Dae Hyeon kembali merayu Lidya.
"Tapi-" Lidya ragu untuk pergi.
"Tenanglah, jika operasinya sudah selesai. Kami akan memberitahumu," ucap Dae Hyeon.
Lidya akhirnya mengangguk. Tidak mungkin juga ia menyambut Kelvin dengan wajah sembab.
Setelah Lidya dan Dae Ryung pergi, lampu operasi mati menandakan operasi telah selesai.
"Dok, bagaimana? Apa operasinya berhasil?" Tanya Mommy tidak sabar.
"Operasi pengangkatan pelurunya berhasil. Hanya saja saat ini kondisinya masih kritis. Peluru itu mengenai luka lamanya yang belum sembuh," jawab si dokter.
"Ada yang bisa kami bantu dok?" Tanya Daddy Kelvin terlihat tenang.
Dia tenang diluar. Namun sebenarnya hatinya begitu bergejolak merasa tidak terima akan nasib yang menimpa keluarganya
"Kita harus merujuk pasien kerumah sakit terbaik untuk mendapat penangan yang sempurna. Tapi saya tidak dapat menjanjikan keselamatannya," ucap dokter itu.
"Berapa persentase selamat?" Tanya Dae Hyeon.
"dua puluh persen," jawab dokter.
__ADS_1
Kini Mommy Kelvin benar benar pingsan. Angka itu terlalu sedikit.
"Mom," Daddy menepuk pelan pipi istrinya tercinta.
"Suster," dokter memberi isyarat agar suster segera membawa tubuh Mommy untuk diperiksa.
***
"Dimana orang tua Kelvin? Apa operasinya berhasil?" Tanya Lidya saat tidak melihat orang tua Kelvin dan saat melihat lampu ruang operasi yang mati.
"Nak, pria itu... sudah tiada. Operasinya gagal," bohong Dae Hyeon.
Dia sengaja berbohong karena persentase selamat Kelvin sangat sedikit. Dia tidak ingin putrinya itu mempunyai harapan palsu.
Bukannya menangis Lidya malah tersenyum.
"Jangan berbohong. Dia tidak akan meninggalkanku lagi. Anda benar benar penipu," Lidya berucap dengan nada kesal.
"Nak, ikhlaskan Kelvin" tiba tiba Daddy Kelvin muncul.
"Ikhlas? Anda juga? Sebelum melihat jasadnya aku tidak akan percaya dia sudah mati," ucap Lidya sama sekali tidak percaya.
"Tenanglah Nona. Tembakan itu mengenai luka pasien yang belum sembuh. Letak pelurunya juga hampir mengenai organ vital. Dan kami... minta maaf. Team kami tidak dapat menyelamatkan pasien," kini dokter itu datang dan berbohong atas suruhan Dae Hyeon.
__ADS_1