Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 8


__ADS_3

"Kalau tidak begini saja, besok aku akan datang ke rumahmu dan menjemputmu. Bagaimana?" Tanya Kelvin.


"Tidak perlu," jawab Lidya.


Karena bagi Lidya itu sama saja dua kali kerja. Kelvin pergi ke rumah Lidya, lalu setelah itu kembali ke rumahnya. Bukankah begitu?


"Kalau aku tidak menjemputmu, bagaimana kamu bisa ke rumahku?" Tanya Kelvin.


"Itu urusan saya," jawab Lidya seraya menenteng tas ransel berwarna coklat miliknya di pundaknya.


"Kenapa sih kamu selalu tidak menganggap ku sebagai tunangan mu? Aku sudah bilang bukan, urusanmu juga urusanku," ucap Kelvin.


"Masih calon tunangan. Dan lagian sebelum kita bertunangan, hubungan itu hanya sekedar hubungan belajar," ucap Lidya yang sudah bersiap untuk keluar.


"Kalau kamu tidak ingin aku jemput besok. Biarkan aku untuk mengantarmu pulang," ucap Kelvin.


Lidya yang tidak ingin memperpanjang masalah, hanya mengangguk mengiyakan permintaan Kelvin.


***


Dengan menaiki mobil milik Kelvin, kini Lidya sudah berada di depan sebuah rumah yang sangat luas dan besar. Lidya sama sekali tidak tahu rumah siapa ini.


"Ayo, masuk" ajak Kelvin.


Lidya masih tetap di tempatnya. Dia tidak akan masuk kedalam suatu gedung atau ruangan sebelum tahu milik siapa gedung itu. Dan dia juga tidak akan masuk ke dalan suatu gedung atau ruangan tanpa izin.


"Ini rumahku. Masuklah," ucap Kelvin yang seperti bisa membaca pikiran Lidya.


Lidya mengikuti langkah Kelvin yang masuk ke dalam rumah.


"Mommy," panggil Kelvin saat mereka sudah berada di dalam rumah.


Seorang wanita datang menghampiri Kelvin. Dialah Nyonya Dirga, Mommy nya Kelvin.


"Anak, Mommy udah pulang aja. Gimana belajarnya tadi?" Tanya Mommy Kelvin yang belum menyadari kehadiran Lidya.


"Baik, Mom," jawab Kelvin.


Lidya yang masih berada di belakang Kelvin, tiba tiba saja merindukan Ibunya. Perhatian seorang Ibu kepada anaknya, tidak akan Lidya dapatkan lagi. Melihat kejadian di depannya, Lidya hanya bisa tersenyum sedih.


"Eh, Lidya" ucap Mommy Kelvin yang baru menyadari kehadiran Lidya.


Lidya berusaha tersenyum sambil berjalan ke depan dan menyalam tangan Mommy Kelvin. Walau bagaimanapun sikap Lidya, tapi ajaran Ibunya selalu ia lakukan.


"Mom, Kelvin ke atas sebentar mau ganti baju dulu," ucap Kelvin.


"Iya," balas Mommy Kelvin.

__ADS_1


Kelvin berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ayo duduk dulu, Lidya" ajak Mommy Kelvin.


Lidya mengikuti Mommy Kelvin yang duduk di sofa.


"Hubungan kamu sama Kelvin udah dekat aja ya," ucap Mommy Kelvin.


Lidya hanya tersenyum kaku tanpa membalas ucapan Mommy Kelvin.


Lidya sudah lupa kapan terakhir dia bisa tersenyum tulus. Sebuah senyuman tanpa beban. Mungkin 6 bulan lalu ia terakhir kali tersenyum tulus.


"Tante boleh tidak tahu, apa penyebab Ibumu tiada?" Mommy Kelvin bertanya hal yang sejak kemarin selalu ia pikirkan.


Lidya terdiam. Ia bingung apa yang harus dia jawab, karena sesungguhnya Lidya juga tidak tahu penyebab Ibunya tiada.


"Lidya juga tidak tahu apa penyebab Ibu tiada," jawab Lidya.


Mommy Kelvin mengernyitkan dahinya bingung. Bagaimana mungkin seorang anak tidak tahu penyebab kematian Ibunya?


"Apa kamu tidak bertanya kepada Ayahmu?" Tanya Mommy Kelvin.


"Pria itu tidak mau memberitahu," jawab Lidya.


Ya, Lidya memang pernah bertanya kepada Ayahnya saat Ibunya mau dimakamkan. Tapi Ayahnya tidak mau memberitahu Lidya dan mengatakan bahwa Ibu Lidya tiada karena takdir.


"6 bulan lalu," jawab Lidya.


"Ha, 6 bulan?" Mommy Kelvin tampak terkejut.


"Lalu kapan Ayahmu menikah lagi?" Tanya Mommy Kelvin yang kepo dengan kehidupan calon menantunya ini.


"Tidak tahu, tapi pria itu membawa wanita itu 4 hari setelah Ibu tiada," jawab Lidya yang tidak ingin menyebutkan Ayahnya dan Ibu tirinya sebagai Ayah dan Ibu.


Karena sesuai ucapannya 6 bulan lalu. Bahwa dia tidak lagi menganggap Ayahnya sebagai Ayah.


"Dalam waktu yang sangat singkat, Ayahmu melupakan Ibumu? Benar benar pria yang aneh," ucap Mommy Kelvin.


"Apa mungkin Ayahmu menikah dengan Ibu tiri mu karena terpaksa?" Tanya Mommy Kelvin.


Lidya mengangkat kedua bahunya menunjukkan ia tidak tahu.


Kali ini, Lidya berbohong karena ia tidak ingin Mommy Kelvin membenci pria yang sayangnya adalah Ayah kandung Lidya.


"Apa itu penyebab kamu membenci mereka berdua?" Tanya Mommy Lidya.


"Mungkin," jawab Lidya.

__ADS_1


"Tante mendukungmu Lidya. Beri saja Ayah dan Ibu tiri mu itu pelajaran. Agar mereka tahu kesalahan mereka," ucap Mommy Kelvin.


Ucapan Mommy Kelvin sungguh membuat Lidya terkejut. Karena bisanya orang orang tua akan memberinya nasihat bukan dukungan. Nasihat yang mereka berikan adalah jangan membenci orang tua, karena kebencian itu tidak baik. Dan mereka menyuruh Lidya untuk minta maaf kepada Ayah dan Ibu tirinya.


"Kenapa terkejut begitu melihatku? Apa aku salah bicara?" Tanya Mommy Kelvin.


Lydia menggeleng.


"Tante akan sangat mendukungmu jika memang itu alasanmu membenci mereka," ucap Mommy Kelvin.


"Terima kasih, dukungannya," ucap Lydia.


Untuk sesaat Lydia terdiam. Ia mencoba memikirkan kata kata apa yang tepat untuk di bertanya.


"Apa benar Anda adalah sahabat Ibu saya?" Tanya Lidya yang membuat Mommy Kelvin jadi gugup.


Mommy Kelvin mengangguk.


"Sejak kapan kalian berteman?" Tanya Lydia.


Mommy Lydia tidak tahu harus berbicara apa. Ia takut nanti kalau kalau ia salah bicara.


"Mom," panggil Kelvin yang entah sejak kapan sudah ada didekat mereka.


Kehadiran Kelvin membuat Mommy Kelvin dapat bernafas lega. Karena dengan begitu ia bisa menghindari pertanyaan dari Lidya. Tapi saat melihat wajah putranya yang terlihat tegang. Mommy Kelvin jadi bingung


"Ada apa, nak?" Tanya Mommy Kelvin bingung melihat raut wajah putranya yang tak biasa.


"Daddy, masuk rumah sakit, Mom" jawab Kelvin.


Seketika kaki Mommy Kelvin lemas dan hampir saja Mommy Kelvin terjatuh, jika Lydia tidak dengan segera membantu Mommy Kelvin berdiri.


"Tadi Sekretaris Daddy menelpon Kelvin karena telepon Mommy tidak bisa dihubungi. Dia bilang Daddy terjatuh dari tangga. Dan Daddy harus segera di operasi karena lukanya serius. Dokter membutuhkan tanda tangan keluarga untuk melakukan operasi Daddy," ucap Kelvin.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang," Mommy Kelvin terlihat sangat panik mendengar kondisi suaminya.


"Iya, Mom" Kelvin memegang tangan Mommy Kelvin yang terlihat sangat lemas.


"Lidya kamu mau di sini atau ikut dengan kami?" Tanya Kelvin.


"Ikut saja," jawab Lidya.


Kalau Lidya di rumah Kelvin yang sebesar ini, apa yang harus dia lakukan? Sedangkan Lidya tidak mengenal siapapun selain Kelvin dan Ibunya.


"Tolong bawa Ibu ke depan, aku akan mengambil kunci mobilku dulu," ucap Kelvin.


Lidya mengangguk.

__ADS_1


Lidya menuntun langkah Mommy Kelvin menuju tempat dimana mobil Kelvin berada.


__ADS_2