Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 90


__ADS_3

"Oh ya," Lidya teringat akan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Kelvin.


Lidya memikirkan sesuatu sebelum mempertanyakan kepada Kelvin.


Dulu, apa dia mati suri? Atau jangan jangan kematiannya dipalsukan lagi seperti dulu? Apa lagi lagi aku dibohongi?


Dada Lidya naik turun merasa telah dibohongi untuk yang kedua kalinya.


"Apa... kalian... semua mem...bohongiku?" Tanya Lidya.


Kelvin sedikit tersentak mendengar pertanyaan Lidya. Dia tidak menyangka Lidya akan mempertanyakan hal itu.


"Bisa dikatakan begitu," jawab Kelvin.


Bahkan dia pun juga dibohongi oleh keluarganya. Mereka mengatakan bahwa Lidya sedang menunggunya dan dia harus pulih. Lalu setelah pulih total barulah kedua orang tuanya menceritakan kebenarannya.


Bagaimana dulu mereka memberitahukan kematiannya kepada Lidya. Membohongi gadis itu mengenai kematiannya untuk yang kedua kalinya. Bahkan saat itu dia pun merasa bersalah. Tanpa sengaja dia ikut dalam kebohongan itu. Kelvin takut setelah ini Lidya tidak akan menerimanya lagi. Untuk kebohongan ini.


Lidya terdiam beberapa saat. Dadanya berkecamuk. Dia merasa ingin menangis. Tidak tahu antara tangis bahagia akan kabar hidupnya Kelvin atau tangis sedih karena kebohongan itu.


"Ke..napa?" Tanya Lidya dengan suara bergetar. Dia menunduk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Saat aku tertembak, pelurunya mengenai luka bekas kecelakaan kita dulu yang belum pulih. Pelurunya juga berada dekat dengan organ vital. Saat itu dokter mengatakan hanya ada 20 persen kemungkinan untuk aku hidup. Mereka menyarankan untuk merujukku ke luar negeri. Saat itu Ayahmu meminta tolong kepada Daddyku untuk mendukungnya mengenai kebohongan itu. Ayahmu berkata dia tidak ingin kamu terus menunggu sesuatu yang tidak pasti. Pada saat itu sebenat Daddy tidak menerima usulan Ayahmu. Karena Daddy berpikir bahwa kamu harus berada bersamaku untuk memberiku kekuatan hidup. Tapi Daddy menyingkirkan egonya. Daddy pikir perkataan Ayahmu ada benarnya. Dia merasa tidak ingin mengorbankan hidupmu hanya untukku yang belum tentu selamat," jelas Kelvin.


Lidya terdiam. Tapi air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. Lidya menangis tanpa suara.


Aku mempercayaimu! Tapi kamu membohongiku. Seandainya pada saat itu kamu tidak memberitahu kabar bohong, pasti aku bisa setidaknya hanya untuk memberinya dukungan. Setidaknya aku bisa mendoakan kesembuhannya. Aku lebih memilih menunggu daripada hidup dalam ketidakpastian. Bahkan aku sampai berpikir untuk menikah.


Lidya berucap dalam hati. Dia merasa kecewa. Kepada orang yang kini dia panggil Ayah. Dia percaya kepada laki laki itu. Dia percaya bahwa laki laki itu tidak akan pernah membohonginya. Tapi semua itu salah, 5 tahun lalu pria itu sudah berbohong besar kepadanya!


"Apa Dae Ryung juga tahu soal ini?" Tanya Lidya.


Dae Ryung... orang yang sudah Lidya anggap sebagai saudara. Walau terkadang dia berbicara ketus, tapi dia menyayangi kakaknya itu. Bahkan dia juga sudah percaya kepada Kakaknya itu. Jika Dae Ryung juga membohonginya, Lidya tidak bisa berkata apa apa lagi.

__ADS_1


"Menurut cerita Daddy, Dae Ryung tidak tahu. Karena itu hanyalah rencana mereka berdua. Bahkan Mommy tahu setahun setelah kejadian itu," jawab Kelvin.


Lidya merasa lega. Dia lega ternyata masih ada orang yang bisa dia percaya.


"Aku sadar dari koma tiga tahun setengah bulan dari waktu kejadian. Satu tahun digunakan untuk proses penyembuhan luka luar maupun luka dalam. Setelah itu aku benar benar telah pulih total," ucap Kelvin kembali bercerita.


"Lalu? Kenapa kamu tidak menemuiku?" Tanya Lidya.


"Aku hanya takut," jawab Kelvin lirih.


"Takut? Takut apa? Apa kamu takut sama Ayahnya Dae Ryung?" Tanya Lidya.


Kelvin menggeleng lemah.


"Aku takut padamu," jawab Kelvin.


Lidya mengernyitkan dahinya merasa bingung. Kenapa Kelvin harus takut dengannya? Padahal saat itu dia sangat ingin bertemu dengan pria dihadapannya ini.


"Aku takut kamu tidak menerimaku lagi setelah mengetahui bahwa kematian ku adalah kebohongan. Aku takut karena ini bukanlah yang pertama kalinya kamu dibohongi mengenai hal itu. Ini sudah kedua kalinya," ucap Kelvin.


Kelvin mengangguk, dia ingat akan hal itu.


"Saat itu aku berpikir ada kemungkinan bahwa kamu adalah Kelvin yang sama. Karena wajahmu mirip dan namamu sama. Saat itu aku sengaja melihat berkas pasien di tanggal bulan dan tahun saat kecelakaan kita terjadi. Tapi tidak ada namamu di berkas itu," ucap Lidya.


"Aku tahu dulu kamu sedang menyelidiki saat melihatmu diruangan itu," ucap Kelvin yang waktu itu memergoki Lidya sedang membaca berkas pasien.


"Jika kamu tahu kenapa kamu tidak mengatakan sejak awal kalau kamu itu sebenarnya memang adalah Kelvin?" Tanya Lidya sedikit kesal.


"Kecelakaan kita terjadi karena ulah Ayah angkatmu. Jika aku memberitahumu, bisa saja kamu merasa tertekan. Apalagi saat itu aku tidak tahu bahwa kamu ahli dalam beladiri. Aku hanya takut terjadi apa apa denganmu. Dan kematian Ibumu juga karena dia mengetahui alasan kecelakaan kita. Daddy ku suka menyelidiki semua itu," jelas Kelvin.


Tangan Lidya terkepal merasakan amarah yang luar biasa.


"Itulah sebabnya aku ingin menjadikanmu tunanganku. Selain untuk mengikatmu aku juga ingin membuat Ayah tirimu tidak berani melukaimu. Karena perusahaan bergantung kepada perusahaan Daddy. Dan anak Daddy sangat menyukai putrinya. Jadi dia harus menjaga putri itu demi kelancaran perusahaan," ucap Kelvin.


"Lalu mengenai wasiat Ibu itu?" Tanya Lidya.

__ADS_1


Lidya tidak pernah menyelidiki apapun lagi. Karena saat ini kedua orang itu sudah tiada saat mencoba melarikan diri. Namun bayi mereka selamat karena permintaan Lidya. Bagi Lidya anak itu tidak salah apapun. Karakter seorang anak dibangun karena lingkungan hidupnya bukan karena sifat orang tuanya, itulah pemikiran Lidya saat itu. Kini anak itu tinggal di rumahnya.


"Aku yang menyuruhnya membuat surat itu," jawab Kelvin.


Lidya mengangguk mengerti. Sedikit demi sedikit dia sudah mulai mengerti semua kejadian yang dia alami.


"Satu lagi, waktu itu aku mendengar pembicaraan mengenai pertunanganmu dengan..."


Ucapan Lidya terhenti ketika ponselnya berdering.


Ponsel pribadinya menunjukkan nama Dae Ryung.


"Hm?"


"Kamu dimana?" Tanya Dae Ryung.


Suaranya terdengar panik dan cemas.


"Reuni," jawab Lidya dingin.


"Lidya bukankah harusnya kamu rapat kenapa malah reunian?" Tanya Dae Ryung.


"Itu tahu," ucap Lidya.


"Ada apa?" Tanya Lidya merasa aneh Dae Ryung menghubungi pagi pagi sekali.


Padahal harusnya sekarang pria itu sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya.


"Kamu masih bertanya ada apa?" Dae Ryung mengurut pelipisnya merasakan sakit dikepalanya.


"Ada keributan diperusahaan," ucap Dae Ryung


"Lalu?" Tanya Lidya tidak terkejut. Seakan akan dia sudah tahu itu akan terjadi.


"Lidya bertanggung jawablah, hentikan keributan yang sudah kamu buat," ucap Dae Ryung.

__ADS_1


__ADS_2