
"Dan aku juga ingin mempertanyakan perihal 5 tahun lalu kepada pria yang kupanggil Ayah itu," ucap Lidya. Ada nada kesal didalam perkataannya.
"Baiklah, tapi kendalikan emosimu. Apa yang beliau lakukan tidak salah. Dia seorang Ayah dan dia ingin yang terbaik untuk putrinya,"
Lidya hanya mengangguk mendengar ceramah Kevin tentang Ayahnya untuk yang kesekian kalinya.
"Aku akan merindukanmu," ucap Kelvin seraya memeluk erat tubuh Lidya yang kini sudah akan masuk ke dalam jet yang membawanya pulang.
"Aku juga" balas Lidya.
"Ingatlah untuk menghadiri pesta pernikahan Dae Ryung. Ajak Daddy dan Mommy, kalian bertiga akan menjadi tamu kehormatan ku," ucap Lidya seraya melepaskan pelukan erat mereka.
"Pasti, kami pasti akan datang," ucap Kelvin.
"Semoga kamu sampai ke Korea dengan selamat. Disini aku akan selalu merindukanmu," ucap Kelvin lagi.
"Amin," balas Lidya.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa di pesta nanti," ucap Lidya mencium pipi Kelvin sekilas lalu berbalik berjalan kearah jet.
Di tengah tengah tangga Lidya menoleh kebelakang dan melambaikan tangannya. Kelvin turut membalas lambaian tangan Lidya.
__ADS_1
***
Lidya tercengang saat berada diambang pintu masuk. Ruang tamu rumah mereka kini sudah disulap menjadi kapal pecah.
Dae Ryung sedang memegang sebuah jas. Di lantai tergeletak banyak jas mungkin belasan atau bahkan puluhan. Jas jas itu bercampur dengan bola kertas dan mainan anak anak.
Di atas meja, di depan Dae Ryung ada sebuah laptop dengan layar menyala menunjukkan wajah tunangannya, A-Yeong.
"Ini juga jelek sekali, tidak cocok dengan gaunmu," keluh Dae Ryung sambil mencampakkan jas di tangannya ke sembarang arah.
Tangannya bergerak mengambil jas lain yang masih tergantung indah.
Lidya berjalan mendekat kearah Dae Ryung.
"Lihat apa yang kamu perbuat dengan ruang tamu! Melakukan fighting di rumah, kamu gila? Kenapa tidak dilakukan di butik saja?" Tanya Lidya dengan kesal.
"Adikku sayang, kalau dilakukan dibutik sangat menyusahkan. Harus diperhatikan oleh banyak orang," ucap Dae Ryung dengan santai.
"Lalu apa bedanya dengan di ruang tamu? Disini banyak pelayan berlalu lalang dan ada Min Joo juga. Kenapa kamu memilih ruang tamu dari sekian banyak ruangan dirumah ini. Kenapa tidak dikamar mu saja?" Tanya Lidya kesal.
"Tidak seru kalau dikamar, hanya ada aku sendiri," ucap Dae Ryung.
__ADS_1
Dae Ryung terdiam sesaat.
"Lidya... apa kamu sakit?" Tanya Dae Ryung sambil menyentuh kening Lidya.
Lidya menepis tangan Dae Ryung.
"Apasih," ucapnya kesal.
"Lidya... ini benar kamu? Astaga, aku tidak sedang bermimpikan," Dae Ryung menepuk nepuk pelan pipinya.
"Ada apa sih denganmu?" Lidya menjadi kesal.
"Dae Ryung kamu baik baik saja?" Suara dari laptop membuat mereka berdua menoleh kesana.
Dae Ryung mengangguk.
"Hanya saja aku merasa tidak percaya dengan Lidya. Biasanya dia selalu irit saat berbicara kepadaku. Dan hanya didepan eomeoni dia berbicara sangat akrab denganku juga berbicara banyak. Tapi kamu lihat? Tadi dia begitu cerewet. Bahkan disini tidak ada eomeoni! Lidya membuatku merasa bingung dan bahagia disaat yang bersamaan," ucap Dae Ryung dengan bahagianya.
Lidya terdiam, memang jika dipikir pikir perilakunya saat ini berbeda. Dia cerewet sekali saat ini kepada Dae Ryung.
"Dimana Ayahmu?" Tanya Lidya ketika teringat ada sesuatu yang ingin dia bicarakan kepada Tuan Han Dae Hyeon.
__ADS_1