Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 84


__ADS_3

Pemegang saham perusahaan Ayah mereka kini dipegang oleh Dae Ryung. Namun karena Dae Ryung sibuk akan pernikahannya, Lidyalah yang menggantikan posisinya.


"Ayolah, penerbangannya kan besok. Hari ini kamu harus menemani Oppa," ucap Dae Ryung tak ingin mengalah.


"Pernikahannya kan bulan depan kenapa harus fitting sekarang?" Lidya membalas perkataan Dae Ryung.


"Untuk persiapan adikku," jawab Dae Ryung sabar.


"Ya sudah, aku juga mau melakukan persiapan untuk penerbangan besok," kembali Lidya menyerang Dae Ryung dengan kata kata pria itu sendiri.


"Eomeoni, sebaiknya eomeoni saja yang menemaninya. Eomeonikan punya selera fashion yang tinggi," Lidya memberikan usulan.


"Tidak, Oppa mau Lidya yang menemani," Dae Ryung bersikeras.


Sebenarnya dia punya tujuan lain yaitu mendekatkan Lidya kepada sahabat prianya yang memang sudah tertarik sejak pertama kali melihat Lidya. Dan Lidya tahu akan hal itu.


"Katakan saja kalau sebenarnya Oppa ingin menjodohkan ku kan? Oppa Lidya tidak mau dijodohkan. Lagian Lidya masih dua puluh empat tahun," ucap Lidya kesal.

__ADS_1


"Dae Ryung jangan memaksa pilihanmu," nasihat Ibu mereka.


"Baik," ucap Dae Ryung patuh.


Tiba tiba seseorang datang dan menghancurkan suasana canggung itu.


"Halo, apa ada orang?" suara seorang gadis berteriak memasuki rumah keluarga Han itu.


"Halo semua," sapa A-Yeong ketika sudah berada di ruang keluarga.


Dae Ryung menarik kekasihnya itu hingga terduduk di sampingnya. Dae Ryung juga dengan sengaja menyandarkan kepala A-Yeong ke dadanya.


Lidya merasa terasingkan. Ayahnya bersama Ibunya. Dae Ryung bersama A-Yeong. Sedangkan dia hanya menjomblo.


"Makanya cari. Biar gak kesepian," Dae Ryung sengaja menggoda adiknya yang sampai sekarang belum bisa menghilangkan pria yang dia tahu sudah mati lima tahun lalu dari hati adiknya itu.


"Bodoamat, Lidya kekamar ya semua. Lidya ganti jadwal saja berangkat hari ini. Sudah lama Lidya belum mengunjungi makam Ibu. Terutama Lidya bosan melihat wajah Oppa jelek," ucap Lidya berjalan ke atas tanpa melirik kebelakang ataupun menunggu balasan mereka.

__ADS_1


"Lidya," Dae Ryung mengeram kesal.


***


Lidya sampai di Indonesia sore hari. Dia berangkat jam 12 siang dari Korea dan mendarat pukul 4 sore di Indonesia. Penerbangannya hanya memakan waktu 4 jam 10 menit dengan jet pribadinya.


Orang suruhan Lidya sudah berada di bandara untuk menjemputnya.


"Saya akan menyetir sendiri. Gunakan mobil lain," Lidya mengusir sopir itu secara tidak langsung.


"Baik, Nona" balasnya dan langsung keluar.


Lidya langsung masuk dan mengendarai mobilnya menuju TPU. Tempat dimana dulu dia selalu menghabiskan waktu.


Tidak seperti dulu, kali ini dia hanya menghabiskan setengah jam di makam Ibu dan Neneknya. Bukan karena dia sudah tidak sayang, tapi karena dia memikul tanggung jawab besar dipundaknya. Tidak seperti dulu. Kini ada orang yang dia khawatirkan dan mengkhawatirkannya. Dia tidak mau membuat orang lain merasa cemas jika sampai dia berada berjam jam disana.


"Kapan aku bisa melupakanmu?" Gumam Lidya lirih dengan nada sedih.

__ADS_1


Tidak ada satu hari pun tanpa Lidya memikirkan Kelvin. Bagaimanapun Kelvin tiada karena menyelamatkan dirinya, bukan?


"Jika saja saat itu aku yang tertembak, Aku pasti akan bahagia pergi dari sini. Aku pasti tidak akan pernah mengalami kesedihan ini untuk yang kedua kalinya. Ternyata berpura pura bahagia itu sayang menyakitkan. Benar benar menyakitkan," ucap Lidya.


__ADS_2