
"Terima kasih," ucap Dae Ryung seraya menerima satu buah vitamin dari tangan Lidya.
Setelah memberi vitamin kepada Dae Ryung, Lidya pergi meninggalkan wastafel. Sedangkan Dae Ryung, setelah memasukkan vitamin ke mulutnya ia pergi menuju meja makan.
"Maaf atas gangguan tadi, silahkan kalian lanjutkan makannya," ucap Dae Ryung meminta maaf dan segera duduk kembali di kursinya.
Dae Ryung melirik kursi yang tadi di tempat Lidya yang saat ini kosong tidak berpenghuni.
Kemana dia?
Tanya Dae Ryung dalam hati.
Setelah selesai makan Dae Ryung segera mencari Lidya. Pertama ia mencari Lidya di kamarnya.
Tok... Tok... Tok...
Dae Ryung mengetuk pintu kamar Lidya. Setelah melakukannya beberapa kali dan tetap tidak mendapat sahutan, Dae Ryung memberanikan diri membuka pintu.
__ADS_1
Sepi, seperti tak berpenghuni. Itulah suasana kamar saat ini.
"Astaga, dimana gadis itu? Aku ingin bertanya tentang vitaminnya. Tapi sekarang dia malah hilang," gerutu Dae Ryung.
Dae Ryung pergi ke rooftop gedung untuk mencari udara segar. Hal yang biasa dia lakukan saat malam hari. Tapi itu dilakukannya hanya saat memiliki waktu luang.
Dae Ryung memperhatikan seorang gadis yang kini duduk dipagar pembatas saat kakinya menginjakkan langkah pertama di rooftop.
Dae Ryung mendekati gadis itu dengan perlahan. Setelah sampai di samping gadis itu, Dae Ryung melirik wajahnya sekilas.
"Ternyata kamu, saya sudah mencari mu di kamarmu tapi tidak ada," ucap Dae Ryung seraya menatap lurus ke depan.
"Apa kamu tidak takut jika nanti ada orang iseng yang mendorongmu dan berakhir dengan kematian mu?" Tanya Dae Ryung.
Lidya hanya diam tidak menanggapi dan melirik kepada Dae Ryung sedikit pun.
"Hey, Nona. Apa kamu mempunyai mulut untuk bicara?" Tanya Dae Ryung yang tidak mendapat jawaban apapun dari Lidya.
__ADS_1
"Oh ya, aku mencari mu untuk menanyakan tentang vitamin itu. Saat aku masih kecil, aku pernah melihat Ayahku sedang menyimpan kotak seperti yang kamu punya. Tapi Ayah tidak pernah memberitahu itu kotak apa dan Ibuku juga tidak tahu dengan kotak itu. Tapi Ibu dan Ayah selalu melarang ku untuk memakan jamur dan beberapa makanan lainnya. Karena kami memiliki alergi dengan makanan itu. Mulai dari kakek buyut buyut buyut ku, memiliki alergi dengan makanan itu dan dilanjutkan denganku sampai saat ini. Ayahku juga memiliki alergi terhadap jamur," jelas Dae Ryung.
"Oh ya?" Lidya mulai antusias dengan pembicaraan Dae Ryung.
Dae Ryung mengangguk.
"Tapi sekarang Ibuku sedang sakit," ucap Dae Ryung.
"Sakit apa?" Tanya Lidya.
"Ibu depresi," jawab Dae Ryung.
"Karena?" Tanya Lidya.
"Dulu aku memiliki seorang adik perempuan. Tapi adikku meninggal karena tenggelam di sungai. Mulai saat itu Ibu mulai depresi. Ayah dan aku tidak tahu bagaimana caranya menolong Ibu. Sudah banyak Dokter yang menangani Ibu, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Aku sangat sedih melihat Ibu. Apalagi ia sudah sakit selama 21 tahun," jelas Dae Ryung.
Ternyata bukan hanya aku yang mengalami depresi karena kematian seseorang. Ada banyak orang diluar sana yang mengalami hal lebih parah dariku karena depresinya.
__ADS_1
Batin Lidya sedih.
"Ada apa?" Tanya Dae Ryung saat melihat Lidya yang melamun ketika mendengar jawabannya tentang alasan depresi Ibunya.