
"Ternyata kau sudah mengetahui semuanya. Baiklah, kalau begitu aku tidak perlu menjelaskan apa apa lagi kan. Selamat tinggal-"
"Berhenti Angga, di luar rumah sudah berdiri puluhan pasukan tentara. Jika kau menembak putriku sekarang, maka istri dan anakmu yang belum lahir itu akan pergi sebelum putriku," ucap Dae Hyeon.
Putri! Mendengar kata itu yang pertama kali dia dengar diucapkan dengan tulus oleh Ayah sesungguhnya membuat Lidya terharu. Setelah sekian tahun akhirnya dia bisa mendengar kata kata Putri yang diucapkan dengan rasa bangga oleh Ayahnya.
"Tuan Dae Hyeon. Tidak perlu membunuh siapapun demi saya. Dari dulu memang saya yang ingin mati. Tapi saat itu takdir tidak mengizinkan. Tapi saya rasa kali ini takdir menginginkan kematian saya. Dan saya harus menerimanya. Saya akan bersama dengan Ibu, Kakek, Nenek, dan kekasih yang kucintai. Saya akan bahagia," ucap Lidya mengingat akan kejadian dahulu dimana dia selalu mencoba untuk bunuh diri.
"Lidya apa yang kamu katakan? Apa aku tidak penting bagimu? Apa sebegitu tidak berartinya aku sampai kamu bisa dengan mudah memutuskan hal itu?" Tanya Kelvin dengan tatapan terluka.
"Lidya walau sebelumnya kita tidak pernah bertemu. Namun kamu adalah adikku. Jangan bertindak gegabah. Aku menyayangimu, jangan mengambil keputusan itu," ucap Dae Ryung.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan oppamu benar, sayang. Walau selama ini abeoji(ayah) dan kamu tidak pernah bertemu secara langsung. Tapi tanpa kamu ketahui Ayah selalu mengamatimu karena saat itu Abeoji sedang mencari putriku yang keberadaannya baru kuketahai setelah dia beranjak dewasa," ucap Dae Hyeon.
"Kel, aku beruntung dan sangat menghargai keberadaanmu bersamaku. Aku tidak menyesal. Dan kamu memiliki tempat tersendiri dihatiku," ucap Lidya menatap Kelvin.
"Dan Tuan Han Dae Ryung. Mungkin pertemuan kita sangat singkat. Namun aku menghargai kasih sayangmu itu. Pertemuan kita memang sangat singkat. Tapi kamu sudah menyayangiku. Sedangkan pria ini aku sudah menghabiskan bertahun tahun dengan tinggal bersamanya, tapi tetap saja dia tidak menyayangiku," ucap Lidya kepada Dae Ryung sambil menatap Angga.
"Dan Tuan Dae Hyeon. Aku tidak tahu bagaimana Ibuku bisa menikah denganmu. Tapi aku percaya bahwa Ibuku tidak pernah salah dengan keputusan menikahimu. Aku percaya bahwa kesalahan terletak pada dirimu. Tapi tidak apa, itu adalah masa lalu. Kita sekarang hidup dimasa kini," ucap Lidya merubah kata katanya menjadi aku dan kamu.
"Tembaklah aku," ucap Lidya pasrah kepada Angga.
"Angkat tangan," suara tegas bergema dirumah Angga.
__ADS_1
Puluhan tentara seperti yang dikatakan Dae Hyeon masuk dan berpencar. Mereka semua mengarahkan senjata mereka kepada Angga dan istrinya. Bahkan kini Dae Hyeon dan Dae Ryung sedang memegang senjata dan mengarahkannya kepada Angga juga istrinya.
Hanya Lidya, Kelvin, dan Hanna, istri Angga yang tidak memegang senjata apapun. Eh..... Hanna mengeluarkan pistolnya mengarahkan kepada Lidya juga. Dan kini hanya sepasang tunangan itu yang tidak memegang senjata.
"Jangan macam macam, atau kami akan menembak Nona didepan ini," ucap Hanna dengan suara tinggi.
"Wah, anda dapat darimana pistol itu? Ingatlah anda sedang hamil. Jangan membahayakan bayi yang tak bersalah dalam kandungan anda itu, Nyonya" ucap Lidya merasa kasihan sambil menatap perut Hanna yang sudah membesar menandakan ada kehidupan di dalam sana.
***
Hay hay semuanya. Karena novel ini akan segera tamat, aku dah buat novel lain. Judulnya Keturunan Terakhir karya L2080617. Novel ini aku buat di akun yang lain. Jadi siapa yang berminat tolong mampir dan beri dukungan ya. Kalau banyak yang dukung, aku jadi semangat untuk berkarya.
__ADS_1
Jangan luka like, komen, rate bintang 5, favoritkan, atau siapa yang berkenan bisa ngasih vote. Selamat menikmati