
Di sisi lain
Karena sudah menunggu begitu lama dan tak kunjung melihat batang hidung Kelvin, Lidya pergi keluar dari area gedung. Dia berjalan kaki dan menyebrang ke warung yang ada dipinggir jalan.
Lidya membeli air dingin juga cemilan ringan. Setelah itu dia kembali menyebrangi jalan untuk menuju gedungnya.
Tapi saat Lidya baru sampai setelah menyebrangi jalan, tiba tiba saja tangannya ditarik dari belakang.
Dengan segera Lidya menoleh kebelakang. Dan dilihatnya seorang pria sedang memegang tangannya dan ada dua pria lainnya di belakangnya.
"Ada apa?" Tanya Lidya dengan tatapan dinginnya.
"Sini," ucap pria yang memegang tangan Lidya seraya mengadahkan telapak tangannya.
"Nih," ucap pria yang lain seraya memberikan sapu tangan.
Sebuah senyuman menyeringai terukir di bibir mungil Lidya. Ada ide licik yang tiba tiba muncul di pikirannya.
Mau menculik ku? Silahkan!!!
Batin Lidya tetap tenang.
__ADS_1
Lidya mencubit kakinya sampai terluka, agar saat dia dibius nanti. Dia tidak akan pingsan. Dan dengan kemampuannya, Lidya yakin dia akan bisa menahan nafas agar tidak mencium sapu tangan yang diberi sesuatu.
Setelah menerima sapu tangan itu, dengan segera pria itu menaruhnya di mulut dan hidung Lidya. Lidya juga mengikuti permainan mereka, yaitu dengan berpura pura pingsan.
"Bawa dia ke mobil," titah pria yang membius Lidya.
Dengan segera kedua pria yang lain mengangkat tubuh Lidya dan meletakkannya di kursi belakang.
Dari atas gedung, Dae Ryung dapat melihat kejadian yang menimpa Lidya.
Dengan segera dia menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Dae Ryung pergi ke parkiran untuk mengambil motornya. Itu dia lakukan karena tadi ia melihat penjahat itu memasukkan Lidya ke dalam mobil mereka. Dan Dae Ryung yakin bahwa kini mobil itu sedang berjalan menjauh dari tempat tadi.
Beberapa kali Dae Ryung berusaha menyelip untuk menghentikan mobil itu. Tapi sama sekali tak berhasil.
Hingga untuk percobaan yang kesekian, akhirnya Dae Ryung dapat menyalip dan memberhentikan motornya dengan sengaja di depan mobil itu.
Tanpa aba aba sopir mobil yang membawa lari Lidya itu menginjak rem, membuat mobil itu berhenti.
Untung saja jalanan sedang lenggang saat ini. Atau kalau tidak, bunyi klakson akan terdengar sampai ke ujung.
"Hey, turun" ucap Dae Ryung seraya mengetuk ngetuk jendela mobil.
__ADS_1
Dua orang pria turun dari mobil dengan sikap sok gagah.
"Siapa lo? Berani beraninya berhentiin motor di depan mobil kami?" Tanya orang itu.
Astaga, kenapa manusia yang satu ini mengganggu rencana ku? Kenapa dia datang diwaktu yang tidak tepat.
Batin Lidya ketika ia mendengar suara yang familiar yang tak lain adalah milik Dae Ryung.
Lidya mengintip memperhatikan situasi di sekitar.
Terdengar suara yang ditimbulkan dari perkelahian dua orang itu juga Dae Ryung.
Bugh...
"Ah..." jerit Dae Ryung kesakitan.
"Astaga bagaimana bisa aku melawan mereka dengan ilmu beladiri yang lemah," gumam Dae Ryung yang dapat di dengar Lidya karena posisi Dae Ryung yang ada di dekat pintu.
"Seharusnya dulu aku mau mengikuti ajaran Ayah," ucap Dae Ryung menyesal.
Lidya yang mendengar perkataan dan jeritan Dae Ryung menjadi kasihan. Karena bagaimanapun Dae Ryung datang bermaksud untuk menolongnya.
__ADS_1