
"Ayah," Dae Ryung menatap Ayahnya sebagai tanda protes.
"Terima kasih," ucap Lidya.
Lidya kembali berjalan dengan cepat kearah Angga dan istrinya, Hanna.
"Ini untuk Kakekku," ucap Lidya berdiri tepat dihadapan Angga.
Lidya menjambak rambut Angga, lalu meninju perutnya dengan keras sampai Angga terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Lalu dia menampar kedua pipi Angga dan mencampakkan tubuh Angga kelantai lalu memijak punggung Angga.
"Berdiri," ucap Lidya.
Namun Angga tidak dapat bergerak. Dia harus jujur bahwa kekuatan gadis yang selama ini dia remehkan sangat besar.
Karena Angga tidak kunjung berdiri, Lidya menarik paksa Angga untuk berdiri.
"Ini untuk Ibuku," ucap Lidya kembali.
Lidya menampar kedua pipi Angga hingga berbekas. Memukul kaki Angga dengan kedua kakinya. Lalu ia kembali menjatuhkan Angga berulang kali. Setelah itu dia kembali memaksa Angga untuk berdiri.
__ADS_1
"Sakit?" Tanya Lidya tanpa bersalah.
Angga hanya mengeluarkan rintihan kesakitan. Di jarak yang tidak terlalu dekat, Hanna menatap ngeri Lidya dan keadaan suaminya.
"Bahkan ini tidak setimpal dengan yang anda lakukan kepada Kakek dan Ibuku. Sekarang saat waktu untuk anda menerima karma datang, kenapa anda kesakitan? Terlihat lemah! Dimana keberanian anda saat membunuh Kakek dan Ibuku? Menusuk mereka dengan pisau. Cih, cara yang murahan. Dan kau..." Lidya melirik tajam Hanna yang menggigil ketakutan.
Lidya berjalan mendekati Hanna.
"Karena kondisi anda sedang mengandung, saya tidak jadi mencampakkan anda seperti yang anda lakukan kepada Ibu saya. Ingatlah, tamparan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam adalah untuk perlakuan kasar anda kepada Kakekku. Dan tamparan yang seterusnya adalah untuk Ibuku yang sudah anda aniaya bahkan menusuk Ibuku dengan pisau. Sebagai sesama perempuan anda sangat tidak berperasaan," ucap Lidya lalu kembali menampar Ibu tirinya atau lebih tepatnya wanita pembunuh.
"Bawa saja mereka, jika perlu jatuhi hukuman mati," ucap Lidya berbalik melangkah kearah dimana Kelvin, Dae Hyeon, dan Dae Ryung berada.
Hanna merasa marah. Ia merasa harga dirinya diinjak injak oleh Lidya.
Hanna memukul tulang kering orang yang menahannya, lalu dengan cepat saat orang itu melepasnya Hanna mengambil pistol dari tentara yang sedang kesakitan itu.
"Lidya, pergilah untuk selamanya," Hanna berteriak dengan keras. Lalu...
Dor...
__ADS_1
Tubuh Lidya menegang merasakan seseorang di belakang punggungnya terjatuh.
Semua tentara langsung sibuk melumpuhkan Hanna dan segera membawa Hanna beserta Angga pergi agar tidak melakukan kekacauan lagi.
"Kel..." Lidya membalikkan badannya dan terduduk lemas melihat tubuh seseorang yang sekarang sudah ada di pangkuan Lidya.
"Lidya," panggil Kelvin lemah.
Tadi Kelvin melihat gerak gerik mencurigakan Hanna. Dan saat Hanna berhasil mengambil pistol, saat itu Kelvin tidak dapat berpikir jernih. Yang dia pikirkan hanya satu, menyelamatkan Lidya! Bagaimana pun caranya, Lidya harus tetap hidup.
"Kamu juga?" Lidya berkata terisak.
Air matanya turun tanpa bisa ia kendalikan. Padahal dulu dia sudah berjanji tidak akan menangis sedih lagi kepada Neneknya.
Kelvin tersenyum sembari menyentuh pipi Lidya.
"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu," ucap Kelvin lemah.
"Ssshh... begini... dari dulu aku ingin mengatakannya. Tapi-"
__ADS_1
"Tidak perlu berkata apa apa. Diamlah, sebentar lagi ambulan akan datang. Kamu harus bertahan," ucap Lidya dengan tangis semakin pecah