
Karena saat ini hujan turun deras, Kelvin yang sudah memahami sedikit sifat Lidya langsung mencarinya ke taman terdekat.
Dan benar saja, ia melihat Lidya yang sedang terduduk di dekat sebuah pohon.
Walau pun saat itu hujan, Kelvin masih bisa melihat air mata Lidya yang turun membasahi pipinya. Dan dia ikut merasa sedih dengan keadaan Lidya.
Saat Kelvin melihat Lidya yang menutup mata, ia mulai berjalan mendekati Lidya.
Lali Kelvin menggendong tubuh Lidya masuk ke dalam mobilnya.
***
Lidya mulai mengerjap ngerjap kan matanya. Berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
Kenapa aku di sini? Bukankah tadi aku di taman?
Lidya bertanya dalam hati.
Lidya memperhatikan ruangan itu mencari tahu dimana ia berada sekarang.
"Tidak asing," gumam Lidya.
__ADS_1
Lidya tidak sengaja melihat kedua tangannya yang kini sudah di olesi salap juga pakaiannya kini sudah berubah.
Sekarang aku tahu, aku pasti ada di rumah nya.
Lidya berucap dalam hati.
Pintu kamar tempat Lidya terbuka, menampakkan sosok pria yang beberapa minggu lalu sudah menjadi tunangan Lidya.
"Kenapa aku disini?" Tanya Lidya.
Bukannya menjawab, Kelvin malah berjalan mendekati ranjang dan setelah sampai di dekat Lidya, Kelvin mengulurkan tangannya yang terdapat sepiring nasi beserta lauknya.
Lidya menurut. Ia menerima piring yang disodorkan Kelvin.
"Ada seseorang yang mengatakan kejadian di perpustakaan kepada Dekan Uly. Karena khawatir dengan keadaanmu Dekan Uly menyuruhku untuk mengejar mu. Lalu aku ingat bahwa kamu suka bermain hujan di taman, jadi aku mencari mu ke taman," jelas Kelvin.
"Menghawatirkan keadaanku atau malah lomba beberapa hari lagi?" Gumam Lidya dengan nada sinis.
"Keadaanmu," jawab Kelvin.
Senyum sinis Lidya semakin terukir jelas.
__ADS_1
"Di dunia ini tidak ada yang peduli pada orang asing. Jangankan orang asing, keluarga saja terkadang tidak peduli. Bagaimana lagi dengan orang asing?" Lidya bertanya.
Kelvin diam. Ia sibuk menatap wajah Lidya yang menampilkan senyum sinis, namun matanya menampakkan kesedihan.
"Kamu tahu, hidup kita ini adalah permainan takdir. Kadang takdir membuat kita kehilangan dan kesedihan, tapi dia bisa juga memberi kita kebahagiaan. Takdir bisa memberi kita kekecewaan, tapi dia juga akan melakukan sesuatu untuk mengobati kekecewaan itu. Percaya atau tidak, dia akan memberikan banyak ujian menyakitkan lalu membalasnya dengan beribu ribu kebahagian jika kamu berhasil melewati ujian itu," ucap Kelvin.
"Dengan mengambil Nenekku juga?" Tanya Lidya tiba tiba.
Kening Kelvin berkerut menandakan ia tidak mengerti pertanyaan Lidya.
"Waktu operasi tinggal beberapa hari lagi, tapi Nenek belum dapat pendonor. Dan kata Dokter, kalau tidak segera mendapat donor maka... Nenek...," Lidya menundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan air mata yang kini sudah mengalir di pipinya.
Kelvin memeluk Lidya yang dalam keadaan sedih, berusaha memberikannya ketenangan.
"Tidak perlu menangis, sudah ada beberapa pendonor yang ingin mendonorkan ginjalnya. Dan aku yakin salah satu dari ginjal mereka akan cocok untuk Nenek. Jadi kamu harus mempersiapkan dirimu dan juga Nenek untuk menghadapi operasi itu. Dan hasilnya, akan kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa," ucap Kelvin.
"Benarkah?" Tanya Lidya sambil mendongakkan kepalanya.
Kelvin mengangguk.
"Terima kasih atas semua bantuan yang kamu berikan. Walaupun kita tidak saling mengenal, tapi kamu mau menolongku. Terima kasih," ucap Lidya tulus.
__ADS_1