
"Kamu tidak memperhatikan kesehatanmu. Sederas apapun hujan, sekeras apapun petir kamu tetap berdiri dibawah guyuran hujan. Kamu tahu, hati Nenek sakit melihat kelakuanmu itu. Nenek merasa gagal menjadi Nenekmu. Gagal menjadi orang yang bisa diandalkan cucunya untuk berbagi suka dan duka," ucap Nenek Lidya.
"Tidak, Nek. Nenek tidak gagal. Disini Lidya lah yang gagal menjadi cucu Nenek. Lidya tidak bisa menjaga Nenek dengan benar, karena itulah saat ini Nenek terbaring lemah disini," ucap Lidya sedih.
"Kenapa sekarang cucu Nenek cengeng sekali," ucap Nenek Lidya lembut seraya menghapus air mata yang membasahi pipi cucunya itu.
"Saat Nenek sudah tak di dunia ini lagi. Berjanjilah, untuk tidak menangis. Jadilah gadis yang kuat. Dan selesaikanlah kuliahmu sampai kamu sukses. Selama perjuanganmu itu, Nenek akan selalu memperhatikanmu. Walau kamu tidak bisa melihat Nenek, tapi Nenek akan selalu melihatmu," ucap Nenek Lidya.
Bibir Lidya terasa keluh untuk mengatakan 'janji'. Walau tak bisa dipungkiri bahwa saat ini hati Lidya merasa hidup Neneknya tidak akan lama.
Lidya mendapatkan feeling bahwa hidup Neneknya akan segera berakhir. Tapi dia tidak tahu kapan hari itu akan tiba.
Semoga saja feeling ku tidak benar.
ucap Lidya dalam hati.
"Berjanjilah, sayang" Desak Nenek Lidya yang melihat cucunya itu masih terdiam.
"Aku janji, Nek" ucap Lidya.
Tiba tiba saja suara dari mesin yang Elektrokardiogram berbunyi dan mulai menunjukkan garis lurus.
Lidya segera menekan tombol yang ada didinding atas bangsal Neneknya. Tombol yang digunakan untuk memanggil Dokter dan menandakan adanya masalah darurat.
__ADS_1
Tidak berapa lama, seorang Dokter dengan timnya memenuhi kamar itu.
"Mohon beri kami ruang, Nona" ucap Dokter itu.
Lidya mundur kebelakang dan berdoa semoga Neneknya baik baik saja.
"siapkan defribrilator, sus" ucap Dokter.
"Baik, Dok" jawab suster dan langsung menyiapkan alat defribrilator.
"Satu... Dua... Tiga..." Dokter meletakkan alat itu di dada Nenek Lidya.
Dokter melakukannya beberapa lagi. Lalu setelah tidak mendapat perubahan apapun dari Nenek Lidya, Dokter berhenti melakukan hal tersebut.
Lidya terduduk lemas dilantai. Kelvin dengan setia berada di samping Lidya.
"Nona, ini ada surat dari Nenek anda" ucap seorang suster seraya menyerahkan sebuah amplop.
Lidya menerima amplop itu dengan lesu. Air mata seperti enggan meninggalkan pipinya dan selalu mengalir tanpa bisa dia hentikan.
Setelah itu Dokter dan suster meninggalkan ruangan Nenek Lidya.
Lidya memaksakan kakinya yang seperti tak bertenaga untuk berdiri dan berjalan mendekati bangsal yang diatasnya terdapat tubuh tak bernyawa milik Nenek Lidya.
__ADS_1
"Kenapa secepat ini, Nek?" Tanya Lidya lirih sambil menggenggam tangan Neneknya yang mulai dingin.
"Kenapa setiap orang yang ku sayangi selalu meninggalkanku?" Tanya Lidya dengan bibirnya yang bergetar.
Kelvin mengusap punggung Lidya berusaha memberikannya sedikit ketenangan.
"Ini sudah takdir Lidya," ucap Kelvin.
Lidya terdiam sejenak.
Ia teringat perkataan Neneknya.
Lidya jadilah gadis kuat dan jangan cengeng. Ini demi Nenek,
ucap Lidya dalam hati.
"Aku tidak apa apa. Sebaiknya kamu pergi, aku butuh waktu untuk menenangkan diri," ucap Lidya dengan wajah datarnya.
Kelvin yang mengerti akan keadaan Lidya. Pergi menuruti apa yang Lidya ucapkan. Karena dia juga dapat merasakan kesedihan yang saat ini Lidya rasakan.
***
Maaf ya kak kalau Neneknya aku buat meninggal. Sebenarnya aku juga sedih buat Neneknya meninggal, karena ke ingat sama Nenek aku. Tapi gimana lagi, itu udah alur ceritanya.
__ADS_1