
Di hadapan Lidya kini terpampang dengan jelas seorang wanita dengan gaun putih sedang tersenyum sambil memegang rangkain bunga dan matanya dengan lekat menatap pria di hadapannya dengan penuh cinta.
Sedangkan di hadapan wanita itu seorang pria dengan kemeja putih memakai tuxedo hitam juga dasi kupu kupu balas tersenyum kepada wanita itu. Di matanya terpancar sebuah rasa cinta, namun ada sebuah kejanggalan. Lidya melihat ada kegelisahaan di mata pria itu.
Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah..
"Ini Ibuku??"
Jantung Lidya berdegup kencang ada rasa yang sulit untuk dijelaskan.
Rasa keterkejutan, Kebingungan, dan ada sebuah pertanyaan besar di hatinya.
Siapa pria ini? Kenapa mereka berpakaian layaknya seorang pengantin?
"Ini bukan labirin biasa, aku yakin ada seseorang yang sengaja menyiapkan ini. Dan ini pasti bersangkutan dengan Ibuku," ucap Lidya yakin.
Mata Lidya beralih ke meja di samping bingkai itu.
"Pasti ada sesuatu disini," ucap Lidya sambil berjongkok dan mengotak atik meja itu.
__ADS_1
Laci demi laci sudah Lidya periksa, tapi tidak ada apapun. Lidya menatap laci terakhir paling pojok yang belum dirinya buka.
Lidya berharap dalam hati semoga ada sesuatu yang dapat menjawab pertanyaannya di dalam laci itu.
"Sial," gumam Lidya kesal karena laci itu terkunci.
Saat ini akal sehat Lidya tidak ia gunakan. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya ia membuka laci itu.
Lidya memukul mukul laci itu dengan keras dan berkali kali. Tapi anehnya laci itu tidak hancur. Seharusnya kayu di meja ini sudah keropos karena usianya sudah beberapa tahun ditambah meja itu tidak digunakan.
"Apa yang harus kulakukan?" Lidya bertanya sambil melirik kesana kemari mencari sesuatu yang keras yang bisa menghancurkan pintu laci dihadapannya ini.
Disana hanya ada ayunan yang pastinya tidak akan dapat Lidya gunakan. Sebuah kolam kecil dengan air yang ko...tor.
Mungkinkah ada sesuatu seperti batu di dalam kolam itu???
Lidya bertanya dalam hati.
Lidya berjalan ke arah kolam itu. Ia memasukkan tangannya ke dalam air. Menurut prediksinya kolam itu hanya sedalam 3/4 meter.
__ADS_1
Tangan Lidya berkeliaran di bawah sana. Sejauh ini dia menemukan banyak sekali daun. Dan ada juga sebuah tanaman hijau yang dinamakan LUMUT.
Tangan Lidya berhenti ketika dia menemukan sesuatu yang dia anggap bisa membantunya. Lidya mengangkat tangannya ke udara. Tercium aroma yang tidak sedap, tapi Lidya tidak memperdulikannya sedikit pun.
Lidya melihat sesuatu di tangannya. Sebuah besi kecil. Panjangnya mungkin hanya 10 cm kurang lebih.
Tanpa menunggu lama lagi kaki Lidya langsung bergerak menuju laci itu. Tangannya berayun memukul besi itu ke lubang untuk memasukkan kunci. Dalam usahanya itu jarinya terpaksa menjadi korban. Jari telunjuknya mengeluarkan darah.
Tapi untuk saat ini Lidya tidak merasakan sakit. Rasa ingin segera mencari jawaban atas pertanyaannya telah mengambil alih akal sehatnya.
Brak...
Akhirnya, Lidya berhasil.
Ia membuka laci itu. Terdapat sebuah tas berukuran sekitar 30 cm lebih di dalamnya.
Lidya membawa tas itu juga bingkai foto yang dia lihat, tidak lupa tas yang ia bawa saat kemari. Lidya berjalan keluar dari labirin.
Semangat yang tadi datang menghampirinya kini telah hilang tak tersisa dan tak berbekas.
__ADS_1