Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 24


__ADS_3

Tiba tiba saja pintu ruangan terbuka. Membuat kedua manusia itu menoleh melihat ke arah pintu.


"Aku akan menggantikannya," ucap orang itu yang tak lain adalah Gisel.


"Siapa kamu?" Tanya Prof. Julian.


"Profesor dia temanku, Gisel," jawab Kelvin.


"Em, Gisel. Bagaimana bisa kamu menggantikan Lidya, sedangkan kamu bukan mahasiswi kampus ini. Dan kemampuanmu, belum kami ketahui," ucap Prof. Julian.


"Papi akan memindahkan aku ke kampus ini. Dan masalah kemampuanku, Profesor tidak perlu ragu. Besok saya akan meminta laporan nilai saya kepada Dosen di kampus saya dulu dan memberikannya kepada Profesor," ucap Gisel mencoba untuk meyakinkan.


Prof. Julian hanya mengangguk.


Hanya itu yang bisa dia lakukan. Karena jika benar Lidya keluar, maka dia membutuhkan seseorang untuk menggantikan posisi Lidya.


"Kelas hari ini dibatalkan," ucap Prof. Julian.


"Baik, Prof" ucap Kelvin.


Setelah Prof. Julian pergi, Kelvin juga pergi diikuti dengan Gisel.


***


Keesokan harinya, Gisel datang ke kampus Lidya dengan sebuah map di tangannya.


Gisel datang ke kantor dan memberikan map itu kepada yang bersangkutan.

__ADS_1


Dekan Uly yang sudah mengetahui kejadian kemarin, karena sudah di ceritakan oleh Prof. Julian menerima berkas dari Gisel.


Dekan Uly membaca laporan itu dengan seksama. Laporan itu menuliskan nilai Gisel adalah nilai 10 dari 10.


Dekan Uly menatap nilai itu dengan tidak percaya. Bukan maksudnya untuk meremehkan Gisel, tapi nilai itu mencapai kata sempurna. Bahkan kalau boleh jujur nilai Lidya tidak mencapai nilai segitu. Walau Lidya anak yang pintar, tetapi dia hanya akan mencapai nilai 9,9 atau 9,8. Tapi dia tidak pernah mencapai nilai sempurna itu.


"Kapan kamu akan pindah ke kampus ini?" Tanya Dekan Uly.


"Hari ini juga," jawab Gisel.


"Mulai besok kamu sudah dapat mengikuti pembelajaran olimpiade," ucap Dekan Uly.


Yes,


ucap Gisel kegirangan dalam hati.


Gisel langsung keluar dari ruangan Dekan Uly tanpa pamit.


Dekan Uly menatap kepergian Gisel dengan tatapan yang sulit di artikan.


Ternyata dia gadis yang tidak memiliki sopan santun. Tapi laporan ini… Sepertinya ada yang janggal dengan laporan ini.


ucap Dekan Uly dalam hati.


***


Hari ini Lidya masuk kuliah. Itu di karenakan Neneknya yang telah di ijinkan pulang kemarin sore.

__ADS_1


Lidya masuk ke dalam kelas. Ia memilih duduk di kursi belakang paling ujung, agar tidak ada yang bisa memperhatikan kegiatannya.


Dosen pengajar Lidya datang. Setelah memberi salam dan berdoa, Dosen memanggil Lidya.


"Lidya," panggil Dosen.


Lidya menatap Dosen yang memanggilnya.


"Dekan Uly memanggilmu untuk datang ke ruangannya," ucap Dosen.


Lidya mengangguk.


Lalu Lidya keluar dari kelas menuju kantor Dekan Uly.


"Masuk," ucap Dekan Uly saat dia telah selesai mengetuk pintu.


Lidya memutar handle pintu dan setelah diijinkan, Lidya duduk di kursi depan Dekan Uly.


"Pastinya kamu sudah tahu mengapa Dekan memanggilmu, bukan?" Dekan Uly bertanya.


Lidya mengangguk.


Ia sangat yakin Dekan Uly memanggilnya untuk membahas ketidak hadirannya kemarin.


"Sejak awal Dekan sudah meminta persetujuan dari kamu. Dan kamu juga menyetujuinya. Tapi kenapa sekarang kamu mau mengundurkan diri? Dekan berhak untuk mengetahui alasannya, bukan?" Tanya Dekan Uly ingin mengetahui alasan Lidya.


"Saya ingin mengurus Nenek saya di waktu waktu terakhirnya," jawab Lidya sambil menadahkan kepalanya ke atas.

__ADS_1


Berusaha menahan air matanya ketika mengingat keadaan Neneknya.


__ADS_2