
Kemarin Dokter kembali mengingatkan Lidya, agar tidak membiarkan Neneknya banyak pikiran. Karena kalau tidak bukan dalam sebulan tapi dalam beberapa hari Nenek Lidya akan....
"Ada apa dengan beliau?" Tanya Dekan Uly.
Lidya menarik nafas dalam dalam berusaha mengurangi sesak di dadanya.
"Beliau menderita gagal ginjal. Dalam kurun satu bulan, beliau harus di operasi. Kalau tidak..." Lidya tidak dapat melanjutkan kata katanya. Ia benar benar tidak sanggup mengatakan hal itu.
"Dekan mengerti," ucap Dekan Uly tak ingin membuat mahasiswinya itu semakin terluka.
"Dekan mengijinkan mu untuk keluar. Tapi jika seandainya kamu masih ingin bergabung, Dekan akan pertimbangkan," ucap Dekan Uly.
Dekan Uly mengatakan hal itu karena ia masih ragu dengan kemampuan Gisel.
Lidya mengangguk.
"Dan dalam satu bulan ini, kamu bisa mengikuti pembelajaran secara online. Gunakan waktu yang saya berikan itu untuk menjaga Nenekmu," ucap Dekan Uly.
Lidya mengangguk dengan bahagia.
__ADS_1
Karena dengan begitu, dia tidak akan pusing membagi waktu untuk ke kampus dan Nenek nya.
Setelah pamit Lidya keluar dari kantor Dekan Uly. Kembali ke kelas untuk memberes-bereskan barang barang miliknya.
Setelah itu Lidya kembali ke apartemen dengan berjalan kaki, seperti biasa.
Lidya menatap langit yang cerah. Secerah hatinya saat ini.
Lidya mampir ke makan Ibunya dan juga Kelvin.
Sampai saat ini Lidya masih tidak tahu apakah Kelvin sang kekasih masih hidup atau memang sudah tiada. Jauh di lubuk hatinya paling dalam, ia berharap Kelvin akan kembali kepadanya. Tapi pikirannya berkata, jika Kelvin masih hidup kenapa tidak menemuinya? Pemikiran itu membuat Lidya menjadi ragu akan harapan Kelvin masih hidup.
"Nenek, Lidya pu-" ucap Lidya setelah masuk ke dalam apartemen.
Ucapan Lidya terhenti saat tidak mendapati Neneknya ada di sana.
Lidya mencari Neneknya di kamar, kamar mandi, dapur, balkon, dll. Tapi Lidya tidak menemukan batang hidung Neneknya itu.
Dengan terburu buru Lidya turun menuju lantai dasar. Ia bertanya kepada Resepsionis apakah ia melihat Nenek Lidya.
__ADS_1
Lidya takut Neneknya kenapa napa. Mungkin sebagian orang berpendapat dia terlalu berlebihan. Tapi sesungguhnya Lidya tidak ingin kehilangan wanita tua itu. Orang yang menjadi keluarga satu satunya. Lidya bukan berlebihan tapi dia sangat khawatir mengingat kondisi Neneknya.
"Bu, apa melihat Nenek ini?" Tanya Lidya seraya menunjukkan foto Nenek Lidya yang ada di ponsel Lidya.
"Tadi saya melihat Nenek Anda keluar dengan terburu buru," jawab Resepsionis.
Lidya syok mendengarnya.
Belum ada 24 jam Nenek Lidya keluar rumah sakit. Tapi Neneknya itu berani keluar tanpa sepengetahuan Lidya.
Lidya yang saat itu, pikirannya hanya tertuju akan keselamatan Neneknya. Segera pergi keluar dan lupa untuk berterima kasih.
Lidya menaiki salah satu taksi dan mencari Neneknya.
Lidya mengelilingi kota dengan menaiki taksi. Ia melihat kanan dan kiri mencari kehadiran sang Nenek.
"Berhenti, Pak" ucap Lidya saat melihat sosok Nenek nya yang ada di sebuah cafe.
"Bapak tunggu disini sebentar," ucap Lidya yang segera keluar dari dalam taksi.
__ADS_1
Lidya menatap wanita itu berusaha memastikan apakah wanita itu adalah Neneknya. Karena ia melihat wanita itu tidak duduk sendiri. Atau seorang pria yang bersamanya. Umur pria itu sepertinya sama dengan Ayahnya.